Oleh: Muhammad Fadhly Akbar, S.H.,M.H*
Ketika bulan desember akan berakhir, bisa dipastikan tidak akan ada lagi bulan-bulan yang muncul setelahnya. Desember menjadi penutup dari seluruh kisah yang terjadi dalam satu tahun perjalanan waktu. Sementara itu, terdapat banyak resolusi, mimpi, dan harapan yang masih melekat di kepala manusia layaknya hutang yang belum terlunaskan. Sedangkan di satu sisi waktu terus berjalan dengan cepat tanpa sedikitpun mau untuk menunggu. Pada akhirnya setiap tahun manusia hanyalah berusaha keras untuk terus mewujudkan mimpi, harapan dan resolusi yang sama dan berulang-ulang di tiap tahunnya.
Mengapa manusia sangat gemar berkhayal, bermimpi dan berharap tanpa pernah sedikitpun takut andai semuanya tidak terwujud. Sebenarnya tidak ada yang salah, karena seperti yang pepatah katakan “bermimpilah engkau setinggi-tingginya, karena jika enggau jatuh maka engkau akan jatuh diantara bintang-bintang”. Sayangnya waktu sangatlah terbatas bagi manusia yang tidak abadi untuk terus bermimpi lalu jatuh, bermimpi lagi lalu jatuh kembali. Hidup tidak sebercanda itu, karena mimpi adalah harapan dan harapan adalah hal yang paling sakral yang mampu manusia utarakan, bukankah doa sendiri adalah bentuk pengaharapan manusia kepada tuhannya.
Resolusi yang dibuat di tiap tahunnya harus dianggap sebagai hal yang sakral, karena hanya dengan itu kita mau dan sudi untuk mengejarnya dengan sekuat tenaga dan pikiran. Jika itu adalah langkah pertama untuk mewujudkan resolusi tersebut, maka langkah keduanya adalah mengevaluasi resolusi di tahun sebelumnya, kenapa tidak terwujud lalu apa sebenarnya yang salah. Salah satu kesalahan terbesar terletak pada orientasi resolusi tersebut. Manusia kerap kali memasang resolusinya dengan berorientasi dan berbasis pada kuantitas seperti “Aku harus punya uang yang banyak di tahun ini, aku harus menambah anak lagi di tahun ini, aku harus menjadi lebih kaya, dan lain sebagainya”. Resolusi berbasis kuantitas seperti ini tidak mempunyai batas yang jelas, karena selalu dibayang-bayangi dengan sifat manusia yang tidak pernah puas, maka pada penutup tahun manusia akan tetap mengatakan bahwa ia tidak berhasil menjadi lebih kaya walaupun sebenarnya ia telah memiliki kekayaan yang banyak pada tahun itu.
Mulailah berpikir dengan cerdas untuk berani bergeser dari resolusi berbasis kuantitas kepada resolusi berbasis kualitas. Bukan tentang banyaknya materi yang didapat, tetapi tentang banyaknya pengalaman yang diperoleh. Bukan tentang banyaknya kegiatan yang dilakukan pada satu tahun kalender, tetapi tentang seberapa luas manfaat yang dihasilkan dari apa yang dilakukan. Resolusi berbasis kualitas nyatanya akan memberikan batasan yang sangat jelas dan berarti karena terukur dari senyum, ucapan terimakasih, serta tawa yang muncul dari orang-orang yang merasakan manfaat dari apa yang kita lakukan. Manusia adalah ruh berbalutkan daging yang tuhan ciptakan dari tanah. Versi terbaik dari manusia adalah jika ia mampu bermanfaat bagi orang lain.
Oleh karena itu, menjelang tahun 2025 saatnya untuk tegas terhadap resolusi yang dibuat, jadikan itu sakral lakukan evaluasi lalu buatlah konstruksi resolusimu dengan berbasis pada kualitas bukan kuantitas. Sesuatu yang berkualitas adalah bukan tentang jumlah tetapi tentang seberapa bermanfaat hal itu dilakukan. Jadilah dirimu sendiri dengan versi yang terbaik, karena waktu tidak pernah menunnggu dan peduli kepada sesuatu yang lugu, maka bergeraklah dan lakukan perubahan tertuju.
*Penulis merupakan Founder Family Research Center Of West Borneo
Editor : Miftahul Khair