Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Generasi Z Kalbar, Tantangan dan Potensi Besar di Tengah Variasi Demografis

A'an • Senin, 6 Januari 2025 | 10:31 WIB

 

Soependi, S.Si, MA
Soependi, S.Si, MA

Oleh: Soependi, S.Si, MA

 

DI era digital saat ini, hampir semua lini kehidupan tak bisa lepas dari yang namanya media sosial. Dari Instagram hingga TikTok, platform-platform ini menawarkan beragam konten yang bisa dinikmati kapan saja. Namun, di balik kesenangan tersebut, muncul sebuah fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu "Brain Rot" atau yang bisa kita sebut sebagai "pembusukan otak". Istilah ini menggambarkan kondisi di mana seseorang merasa tidak bersemangat dan mati rasa setelah mengonsumsi terlalu banyak konten berkualitas rendah. Ketika seseorang terus-menerus terpapar pada konten yang bersifat sensasional, dangkal, atau tidak edukatif, otak mereka dapat mengalami penurunan dalam hal konsentrasi, produktivitas, dan motivasi. Gejala yang sering muncul termasuk kesulitan fokus, perasaan lesu, dan bahkan gangguan tidur. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan individu.  Sehingga penting untuk mengelola konsumsi konten digital dengan bijak. (Finandita Utari, Psikolog).

Istilah brain rot telah digunakan secara daring pada tahun 2004, tetapi mulai populer pada tahun 2023. Pada tahun 2024, brain rot terpilih sebagai Word of the Year oleh Kamus Oxford. Penentuan ini didasarkan pada suara publik yang melibatkan lebih dari 37 ribu orang (Casper Grathwohl, Presiden Oxford Languages,2024).

Generasi Z (Gen Z) dan Alfa, yang tumbuh di tengah gempuran informasi digital, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif ini. Mereka sering kali terjebak dalam siklus konsumsi konten yang tidak mendidik, yang dapat mengganggu kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mereka. Pengertian Gen Z sendiri merujuk pada penduduk yang lahir di periode kurun waktu tahun 1997-2012 atau berusia antara 12 sampai 27 tahun. (William H Frey). Kebiasaan scrolling yang berlebihan dan ketergantungan pada konten yang tidak mendidik dapat mengganggu perkembangan kognitif dan emosional dan kondisi mental. Penting bagi Gen Z untuk menyadari dampak dari konsumsi konten yang tidak berkualitas dan mengambil langkah-langkah untuk menyaring informasi yang mereka terima, demi menjaga kesehatan mental dan kognitif mereka (DAAI TV, Brain Rot Mengintai Gen Z).

Bila dilihat, jumlah penduduk di Kalbar tahun 2023 mencapai 5.623.328 jiwa (BPS Prov. Kalbar). Pontianak menempati posisi teratas dengan jumlah penduduk 675.468 jiwa, yang merupakan 12,01% dari total populasi Kalbar. Sambas dan Kubu Raya juga memiliki jumlah penduduk yang signifikan, masing-masing 648.181 jiwa (11,53%) dan 639.250 jiwa (11,37%). Kabupaten dengan Jumlah Penduduk Terendah: Kayong Utara mencatat jumlah penduduk terendah dengan 132.855 jiwa (2,36%). Sekadau dan Melawi juga memiliki populasi yang relatif kecil, masing-masing 219.724 jiwa (3,91%) dan 239.502 jiwa (4,26%).

Jumlah penduduk Gen Z di Kalbar mengalami sedikit peningkatan dari 1.424.509 jiwa pada tahun 2022 menjadi 1.425.626 jiwa pada tahun 2023. Meskipun pertumbuhannya hanya 1.117 jiwa, hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tetap menjadi kelompok yang signifikan dalam struktur demografi provinsi Kalbar. Secara struktur Gen Z mengalami penurunan dari 25,71% pada tahun 2022 menjadi 25,35% pada tahun 2023. Penurunan ini, meskipun kecil, menunjukkan bahwa struktur Gen Z dalam populasi secara keseluruhan mulai berkurang, yang bisa jadi disebabkan oleh pertumbuhan populasi yang lebih cepat di kelompok usia lainnya, seperti Generasi Alpha.

Terdapat variasi struktur Gen Z di setiap kabupaten/kota. Kayong Utara mencatat persentase tertinggi dengan 26,49%, diikuti oleh Bengkayang (26,43%) dan Ketapang (26,37%). Hal ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah ini memiliki struktur Gen Z yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah lainnya. Di sisi lain, Sambas memiliki persentase terendah, yaitu 24,18%.

Secara umum, persentase Gen Z di Kalbar menunjukkan konsistensi, dengan semua wilayah berada dalam rentang 24,18% hingga 26,49%. Hal ini mencerminkan bahwa Gen Z merupakan kelompok yang cukup merata di seluruh kabupaten kota. Penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memahami karakteristik dan kebutuhan spesifik dari Gen Z di masing-masing daerah. Hal ini akan membantu dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan responsif terhadap aspirasi generasi muda di Kalbar.

Melalui rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Ketenagakerjaan, 5 November 2024, Gen Z kini memasuki pasar kerja. Terdapat peningkatan jumlah pekerja dengan pendidikan tinggi, terutama di kalangan lulusan universitas. Pada Agustus 2024, lulusan universitas mencatatkan angka 254,47 ribu orang, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 1,02%. Gen Z, yang umumnya lebih terdidik dan memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, dapat memenuhi kebutuhan pasar kerja yang semakin kompetitif.

Namun, tantangan tetap ada, terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang pendidikan menengah ke bawah, tamatan SD ke bawah (tidak/belum pernah sekolah/belum tamat SD/tamat SD), yaitu sebesar 43,10 persen yang masih mendominasi pasar kerja di Kalbar. Sebesar 62,92 persen penduduk bekerja sebagai pekerja penuh, sementara 37,08 persen adalah pekerja tidak penuh. Gen Z cenderung lebih memilih fleksibilitas dalam pekerjaan, yang dapat dilihat dari meningkatnya jumlah pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kalbar pada Agustus 2024 tercatat sebesar 4,86 persen, yang menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, generasi muda, termasuk Gen Z, seringkali menghadapi tantangan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Meskipun ada peningkatan dalam jumlah angkatan kerja, penting untuk menciptakan lebih banyak peluang kerja yang sesuai dengan keterampilan dan aspirasi generasi ini. Sektor penyediaan akomodasi dan makanan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebesar 0,86%, yang dapat menjadi peluang bagi Gen Z yang tertarik pada industri kreatif dan layanan.

Pertumbuhan populasi yang stabil, Gen Z diharapkan dapat berkontribusi pada perekonomian Kalbar. Tantangan seperti pengangguran dan akses terhadap pendidikan berkualitas harus diatasi untuk memastikan bahwa mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan ekonomi.

Dalam survei Jakpat (15/03/2024) kepada 1.262 responden gen Z berusia 18-20 tahun pada Februari 2024, sebanyak 95 persen gen Z menyatakan work life balance adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pemberi kerja. Adapun 5 persen gen Z lainnya menyatakan tidak memerlukan work life balance karena merasa mencari pekerjaan saja sudah susah. Gen Z juga memainkan peran penting dalam perekonomian global, jumlah gen Z saat ini secara global menduduki lebih dari seperempat populasi penduduk dunia. Dengan estimasi jumlah penduduk di dunia sekitar 8,1 miliar, populasi gen Z saat ini berkisar 2 miliar. Dengan populasinya yang luar biasa, sebanyak 98 persen dari semua gen Z di seluruh dunia saat ini memiliki telepon pintar.

Sementara itu, di Indonesia, menurut BPS, untuk kelompok umur 15-24 tahun, proporsi individu yang menguasai atau memiliki telepon genggam pada 2023 mencapai 92,14 persen. Mereka tak hanya terampil menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak, tetapi mereka juga paham tentang tren teknologi, seperti kecerdasan buatan, blockchain, dan internet of things. Kemampuan ini menjadikan mereka sebagai motor penggerak inovasi dan perubahan di berbagai sektor ekonomi, termasuk konsumsi.

Sisi Positif Gen Z, dikenal sebagai generasi yang peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan (IDN Times,2024). Dengan jumlah yang signifikan, Gen Z berpotensi menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Pemerintah dan organisasi non-pemerintah perlu melibatkan mereka dalam program-program yang berkaitan dengan keberlanjutan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Ancaman “Brain Rot” untuk Gen Z, dan kita semua, perlu menjadi perhatian serius agar potensi emas Gen Z tidak berubah menjadi ancaman. Beberapa tips bijak dalam bermedia antara lain:  Penting untuk memilih konten yang berkualitas dan edukatif. Menghindari konten yang tidak mendidik atau berkualitas rendah dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kognitif. Membaca, baik itu buku, artikel, atau materi lain yang mendidik, dapat melatih konsentrasi dan memperkaya pengetahuan. Mengintegrasikan olahraga atau aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian dapat membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Aktivitas fisik juga dapat meningkatkan suasana hati dan energi. Menetapkan batasan waktu untuk penggunaan media sosial dapat membantu mengurangi paparan terhadap konten berkualitas rendah. Menggunakan aplikasi yang memantau waktu layar juga bisa menjadi solusi. Menghindari penggunaan media sosial sebelum tidur dan menciptakan rutinitas tidur yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, yang penting untuk kesehatan mental dan kognitif. Menghabiskan waktu dengan teman dan keluarga secara langsung dapat membantu mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan keterampilan sosial, yang sering kali terpengaruh oleh penggunaan media sosial yang berlebihan (Ref.Psikolog). Dengan mencoba tips praktis ini, semoga Generasi Z dapat lebih mudah menghindari brain rot dan berkontribusi positif bagi diri mereka sendiri dan masyarakat.

 

*Statistisi Ahli Madya, BPS Provinsi Kalimantan Barat

Editor : A'an
#demografis #Gen Z