Oleh: dr. I Gusti Putu Felix*
Mata minus atau rabun jauh (miopia) merupakan salah satu jenis kelainan refraksi dimana bayangan jatuh di depan retina sehingga bayangan terlihat tidak fokus saat melihat jauh. Penyebab rabun jauh adalah panjang bola mata yang tidak sesuai atau perubahan bentuk pada kornea atau lensa, yang diprediksi akan terus meningkat pada dekade yang akan datang. Angka penderita rabun jauh di dunia mencapai sekitar 1,95 miliar orang pada tahun 2010 dan angka ini meningkat cukup pesat pada tahun 2020 menjadi sekitar 2,5 miliar orang. Pada tahun 2050 diprediksi penderita rabun jauh akan mencapai 4,8-5 miliar orang atau setara dengan 50 persen populasi di dunia akan menderita rabun jauh.
Ada beberapa gejala rabun jauh. Yakni, kesulitan melihat objek jarak jauh seperti papan tulis maupun proyektor, memicingkan mata saat melihat objek, duduk dengan jarak yang dekat dengan televisi atau gadget, dan mata berair, pegal hingga nyeri kepala.
Rabun Jauh pada Anak-anak
Anak-anak merupakan usia rentan pada perubahan ukuran refraksi. Namun, anak-anak dengan rabun jauh tidak selalu mengeluhkan pandangan kabur sehingga skrining atau deteksi dini fungsi penglihatan pada anak merupakan tindakan yang penting. Orang tua, guru dan pengasuh diharapkan dapat mendeteksi kesulitan penglihatan yang dialami anak-anak dalam beraktivitas.
Siapa yang berisiko mengalami rabun jauh? Seorang anak dengan orang tua yang memiliki riwayat rabun jauh berisiko lebih besar untuk menderita rabun jauh, tetapi orang tua yang tidak memiliki riwayat rabun jauh bukan berarti anaknya tidak akan memiliki rabun jauh. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan rabun jauh pada seorang anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan gaya hidup. Beberapa faktor gaya hidup yang dapat menyebabkan dan memperparah perkembangan rabun jauh antara lain adalah lamanya penggunaan gadget / durasi screen time, kurangnya aktivitas di luar rumah (outdoor) dan juga tingginya aktivitas mata jarak dekat.
Komplikasi Rabun Jauh dan Dampak Sosial Ekonomi
Rabun jauh dapat semakin progresif atau semakin parah ditandai dengan perubahan ukuran kacamata setiap tahunnya, dimana pasien memerlukan ukuran kacamata minus yang semakin besar karena berhubungan dengan penambahan panjang bola mata pada usia pertumbuhan. Pasien dengan rabun jauh, terutama rabun jauh yang tinggi (lebih dari -6 diopter) berisiko mengalami komplikasi hingga kehilangan penglihatan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada rabun jauh tinggi antara lain adalah lepasnya lapisan retina, glaukoma (kerusakan saraf mata), dan juga katarak. Selain itu, rabun jauh juga menimbulkan beban bagi penderita dan keluarga baik dari aspek ekonomi seperti biaya untuk pengobatan, pembuatan kacamata, hingga dampak sosial seperti diejek dengan julukan “si mata empat”. Kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari juga dapat mengalami hambatan pada penderita rabun jauh. Beberapa anak kadang dapat merasa kurang percaya diri dan tidak leluasa untuk melakukan aktivitas olahraga seperti bermain bola, berenang dan hobi lainnya.
Pengobatan dan Pencegahan
Rabun jauh dapat ditatalaksana dengan perubahan perilaku / gaya hidup, penggunaan kacamata/lensa, penggunaan obat dan dengan dengan tindakan operasi. Rabun jauh terkadang tidak cukup hanya ditatalaksana hanya dengan pemberian kacamata. Mengingat rabun jauh dapat semakin parah, maka perjalanan dari penyakit ini perlu diperlambat baik dengan gaya hidup dan terapi dari dokter. Rabun jauh dapat dicegah dan dihambat keparahannya dengan melakukan peningkatan aktivitas outdoor dengan durasi 2 jam sehari atau 14 jam dalam 1 minggu. Pada anak di bawah usia 1 tahun tidak dianjurkan diberikan gadget sama sekali sedangkan pada anak usia 2-4 tahun penggunaan gadget tidak lebih dari 1 jam per hari. Selain itu rabun jauh juga dapat dihambat dengan terapi seperti pemberian obat tetes mata atropine, penggunaan lensa kontak khusus seperti Ortho K ataupun kombinasi dari keduanya sesuai dengan petunjuk dokter. Tindakan operasi tidak terlalu dianjurkan pada anak karena proses pertumbuhan mata biasanya masih berlangsung. Jika tidak dilakukan intervensi, dikhawatirkan rabun jauh seorang anak akan semakin berat. Semakin besar rabun jauh yang diderita oleh seseorang, kemungkinan terjadi komplikasi semakin meningkat. Sehingga penting bagi orangtua untuk memeriksakan fungsi penglihatan anak ke dokter spesialis mata.**
*Penulis adalah praktisi kesehatan.
Editor : Miftahul Khair