Oleh: Santriadi
BACK to school, demikian kalimat yang terdengar di setiap awal masuk sekolah. Usai liburan, kini aktivitas pembelajaran di sekolah pun dimulai. Lazimnya, setelah hari libur yang relatif lama, semangat belajar siswa mulai menurun dan redup. Oleh karena itu, semangat belajar siswa harus kembali dibangkitkan agar tidak malas disebabkan telah menikmati di zona nyaman dan keenakan saat hari libur.
Adalah tugas orangtua dan guru untuk membangkitkan semangat belajar siswa, paling tidak orangtua memotivasi putra-putrinya agar mereka terpacu semangat belajarnya. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru selalu dituntut untuk bisa membangkitkan semangat belajar siswa. Kendatipun metode dan gaya belajar setiap siswa tidak sama. Namun tugas guru dan orangtua untuk memacu dan memberikan motivasi agar semangat belajar siswa kita kembali bangkit usai liburan.
Mengarahkan dan membimbing serta memotivasi agar siswa bersemangat dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran bisa dicapai sesuai harapan menjadi sebuah keniscayaan. Gage dan Berliner dalam Abin Syamsudin Makmun (2001) menjelaskan bahwa seorang guru berperan, bertugas dan bertanggung jawab sebagai: (1) Perencana yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar, dan (2) Pelaksana yang harus mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana.
Kemudian Abin Syamsudin Makmun juga mengutip pendapat Dollar dan Miller yang secara fundamental menegaskan bahwa keefektifan perilaku belajar siswa itu dipengaruhi oleh empat hal yaitu adanya motivasi, perhatian dan mengetahui sasaran/tujuan belajar itu sendiri, usaha, dan evaluasi dan pemantapan hasil.
Prinsip lain yang tak kalah penting dalam teori belajar perilaku adalah ”kesegeraan” konsekuensi, bahwa konsekuensi yang segera mengikuti perilaku akan lebih mempengaruhi perilaku daripada konsekuensi-konsekuensi yang lambat datangnya. Misalnya pujian yang diberikan dengan segera setelah siswa melakukan suatu pekerjaan dengan baik, misalnya dengan memberikan penghargaan (reward) ketika siswa merespon positif dan aktif pada saat proses belajar mengajar. Sebaliknya siswa juga akan diberikan sanki/hukuman (punishment) kepada siswa yang nampak tidak merespon aktif atau mungkin sebaliknya “terlalu aktif” sehingga mengganggu teman-temannya.
Penulis sebagai guru yang berkecimpung langsung di lapangan merasa mendapat tantangan tersendiri betapa sulitnya membangkitkan semangat belajar siswa. Namun, penulis mencoba berdialog dengan siswa tentang manfaat dan pentingnya belajar bagi mereka yang manfaatnya akan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian bersama-sama membuat kesepakatan penting tentang cara yang baik dalam memperoleh keberhasilan belajar dan mencoba membicarakan agar mereka mengetahui beberapa hal yang dapat menghambat atau mengganggu proses pencapaian tujuan keberhasilan belajar. Jika dialog sudah dilakukan, kemudian buatlah kesepakatan dengan siswa bahwa syarat berhasil dalam belajar adalah ketika proses pembelajaran berlangsung siswa harus memperhatikan, menulis, membaca, dan banyak berlatih.
Upaya lain dalam membangkitkan semangat belajar siswa adalah dengan memberikan reward bagi siswa yang mendapat nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau yang sekarang dikenal dengan istilah KKTP ketika test tertulis. Kendatipun rewardnya tidak seberapa jika dilihat dari harganya karena mungkin hanya berupa makanan ringan (snack), permen atau coklat yang dipastikan mereka sendiri pun bisa membelinya di kantin sekolah.
Di samping itu juga, kita bisa menerapkan salah satu prinsip belajar yang mungkin sudah kuno yaitu “ala bisa karena biasa”. Jika kita sudah terbiasa menstimulasi kemampuan siswa dengan sedikit berfikir keras dalam mengkritisi sebuah persoalan, maka mereka akan mampu mengolah pikir dan menjadi kreatif berpikir ketika dihadapkan pada problem-problem untuk diselesaikan. Tentunya guru memiliki peranan dalam mengemas dan memoles proses pembelajaran sehingga semangat belajar siswa kembali bangkit dan menjadi hal yang menyenangkan bagi para siswa.
Baca Juga: Kesehatan Mental di Era Digital
Memberikan pujian pada siswa merupakan salah satu strategi guru yang paling ampuh untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Jangan pelit untuk memberikan pujian, karena para siswa akan merasa senang apabila hasil pekerjaannya diapresiasi, terutama oleh gurunya. Contohnya guru bisa memberi pujian saat siswa telah berhasil menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
Walaupun terdengar sederhana akan tetapi dengan sering mendapat pujian maka siswa akan jauh lebih termotivasi untuk menjadi yang lebih baik, terutama saat di hadapan gurunya. Pada akhirnya kondisi tersebut akan membuat siswa menjadi menyukai pelajaran yang disampaikan oleh guru. Bagi siswa yang tidak suka dengan pujian maka guru bisa menyiasatinya dengan memberi penghargaan lain, yang penting siswa itu diperhatikan dan diapresiasi hasil kerja kerasnya. Wallahu a’lam.**
*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.
Editor : A'an