Oleh: Dr. Herwulan Irine Purnama, M.Pd*
Akhir-akhir ini istilah “Deep Learning” sering digaungkan dalam berbagai diskusi pendidikan yang sudah tentu hal ini memicu kebingungan serta rasa penasaran para guru. Banyak guru yang bertanya-tanya, “Apakah deep learning ini kurikulum baru?’ atau “apakah deep learning ini sama saja konsepnya dengan pendekatan pembelajaran pada kurikulum sebelumnya?” Bahkan ada beberapa guru yang kritis pun bertanya “apa yang menjadi urgensi pembeda pendekatan deep learning ini dengan dengan pendekatan saintifik?” Serta ada kekhawatiran beberapa guru “Apakah deep learning ini selalu menerapkan teknologi dalam prosesnya?” Kebingungan ini tentu menimbulkan kekhawatiran di benak beberapa guru, karena mereka juga lah nantinya yang akan menjalankan pendekatan ini dalam proses pembelajarannya. Cukup banyak guru yang berasumsi bahwa apapun pendekatan yang di gaungkan oleh pemerintah tidak akan terlalu berdampak jika pada faktanya banyak guru yang mengajar di dalam kelas masih dengan pola konvensional serta masih dengan konsep menghafal dan hanya berfokus mengejar nilai tanpa memperhatikan proses perolehan sebuah ilmu.
Deep Learning: Bukan Sekedar Menghafal, Melainkan Pemahaman Mendalam
Secara pengertian Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistic dan terpadu guna mewujudkan 8 dimensi profil lulusan (keimanan & ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Secara sederhana, Deep Learning ini merujuk pada pendekatan dalam pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami materi secara utuh dan mendalam. Hal ini tentu bukan hanya sekedar menghafal fakta atau hanya sekedar mengerjakan latihan soal, melainkan peserta didik harus menggali inti dari materi pengetahuan, menghubungkannya dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, serta mampu berpikir kritis untuk menciptakan solusi atas masalah nyata yang di hadapi dalam keseharian.
Apa yang membuat Deep Learning Berbeda?
Jika pada kurikulum 2013 bertumpu pada pembelajaran berbasis kompetensi serta mengintegrasikan berbagai mata pelajaran melalui tema tertentu yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan abad 21, seperti berpikir kritis, berpikir kreatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi. Di sisi lain pada kurikulum merdeka lebih memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada guru dan peserta didik. Kurikulum ini erat kaitannya dengan pendekatan berbasis projek yang dimana peserta didik di berikan tantangan untuk dapat memecahkan masalah nyata sesuai kehidupan sehari-hari mereka. Kurikulum ini juga menekankan pada pembelajaran yang diferensiatif, yang dimana peserta didik di dorong serta di fasilitasi belajar sesuai minat, bakat, dan kemampuan mereka masing-masing.
Sedikit berbeda dengan kurikulum sebelumnya, pendekatan Deep Learning ini lebih berfokus pada pemahaman mendalam yang bersifat lintas disiplin. Pendekatan ini tidak hanya membangun kompetensi peserta didik, namun juga dapat melatih peserta didik untuk berpikir secara sistematik serta menghubungkan berbagai pengetahuan sehingga dapat menciptakan sebuah inovasi yang berbasis data.
Integrasi Deep Learning dalam Kurikulum
Booming nya istilah Deep Learning bukan berarti harus menggantikan kurikulum sebelumnya, karena deep learning ini bukan kurikulum melainkan sebuah pendekatan. Sebaliknya, pendekatan ini dapat diintegrasikan untuk memperkuat serta menyempurnakan kurikulum sebelumnya.
Guru dapat memulai menerapkan Deep Learning di kelas dengan melakukan langkah- langkah kecil seperti, (1) mengajukan pertanyaan terbuka untuk menstimulus peserta didik dapat berpikir lebih mendalam; (2) memfasilitasi diskusi yang melibatkan berbagai sudut pandang; dan (3) merancang penugasan yang meminta peserta didik menerapkan serta mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Deep Learning bukan hanya tentang teknologi, namun juga tentang cara berpikir yang mendalam serta sistematis. Dengan mengintegrasikan pendekatan ini ke dalam pembelajaran di harapkan dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, namun juga membentuk peserta didik yang kritis serta siap menghadapi tantangan globalisasi di masa depan.
Dengan menerapkan deep learning secara tepat di kelas tentu guru tidak hanya membantu peserta didik memahami materi secara mendalam namun juga melatih mereka untuk berpikir kritis, kreatif, dan relevan dengan dunia nyata. Mari kita bersama-sama menjadi guru yang adaptif dan terbuka terhadap inovasi, menjadikan deep learning sebagai alat untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa meninggalkan esensi pendidikan itu sendiri. Dengan langkah kecil yang konsisten, kita bisa menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan berdaya guna bagi peserta didik.
*Penulis adah Guru SDN 37 Pontianak Tenggara
Editor : Miftahul Khair