Oleh: Abdul Hamid
SEORANG emak berusaha menghentikan angkot (angkutan kota) yang sedang kami tumpangi dari Pasar Baru Trade Center menuju ke Jalan Dewi Sartika/Alun-Alun Bandung. “Ke Tegallega?” tanyanya. Pak sopir setengah ragu menganggukkan kepalanya, karena tujuan angkot sebenarnya bukan ke situ.
Si emak yang tampaknya menggenggam HP di tangan kanannya langsung masuk saja ke dalam angkot, dan angkot pun terus melaju.
Setelah sejenak mengisi bensin di SPBU, ternyata angkot memang tidak menuju ke Tegallega, tetapi berbelok ke jalan lain, menuju ke Jalan Dewi Sartika. Si emak pun turun, tampaknya mau meneruskan perjalanannya ke salah satu taman di kota kembang itu dengan angkot lain, dengan wajah sedikit cemberut, tetap menggenggam HP nya.
Pulang ke rumah, di sekitar wilayah Kebun Binatang Bandung, Saya baru sempat membuka HP, mencari berita di twitter, facebook-an sejenak, dan chatting. Menelusuri medsos, membaca berita tentang koin jagat yang lagi viral di Bandung. Penasaran, keesokan harinya, Senin 13 Januari 2025, membeli koran nasional lokal utama, membaca berita pada halaman pertamanya tentang Koin Jagat Diburu, Taman-taman Dirusak. Diberitakan sejumlah warga Bandung dalam beberapa hari berburu koin jagat pada sejumlah taman kota, termasuk taman tujuan si emak. Perburuan koin ini ternyata berdampak negatif pada fasilitas publik itu. Taman rusak akibat tanahnya digali, keramik, dan paving block dicongkel demi mendapatkan lokasi si koin jagat.
Duh koin jagat. Tampaknya masih tetap viral dalam beberapa minggu ini. Apakah si koin juga “terbang” atau pun “berlayar” menuju Kalimantan Barat, ke Pontianak? Apakah si koin jagat yang lagi viral itu?
Sejumlah media nasional memberitakannya. Ternyata ia adalah salah satu aplikasi game/permainan yang lagi mencuri hati para pengguna medsos, aplikasi besutan anak negeri. Game ini mengajak penggunanya untuk mencari, dan mengumpulkan koin virtual yang disebarkan secara maya di berbagai ruang publik, taman-taman, pada kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya.
Lokasi koin dilacak dengan HP si pemain, dan jika berhasil ditemukan bisa ditukar dengan, atau diberikan imbalan berupa uang tunai yang bervariasi, tergantung dari jenis koin yang ditemukan. Mau tahu besar imbalannya? Berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Lumayan bukan kalau ketemu si koin? Jika jutaan rupiah imbalannya, bisa, maaf, “istirahat nguli”, sampai seminggu.
Setiap koin yang ditemukan bisa ditukarkan dengan imbalan uang tunai yang nominalnya bervarias itu.
Game memanfaatkan teknologi digital yang maya, dengan ruang publik yang nyata, tentunya bisa memberikan pengalaman yang unik. Adapun bagaimana cara bermain game koin jagat dan cara menemukan lokasinya tentu saja dijelaskan pada aplikasi tersebut, sebagaimana lazimnya suatu game.
Tulisan ini lebih mengingatkan akan sejumlah dampak negatif yang dapat diderita pemain, dan pemilik ruang publik, dalam hal ini pemerintah daerah kota/kabupaten setempat.
Seperti diketahui, sifat jenis game pada umumnya dapat berdampak positif maupun bedampak negatif bagi si pemain dan lingkungan yang menjadi objek game tersebut. Beberapa psikolog, mengomentari, menanggapi game yang sedang viral ini, melalui medsos maupun media cetak. Mereka mempertanyakan motif penyelenggara game ini.
Dari sisi pribadi pemainnya, dikatakan bahwa game ini berpeluang memancing emosional si pemain. Perburuan mencari koin dikatakan mengakibatkan si pemain terfokus pada mencari koin. Secara positif si pemain bisa kreatif, diuji ketangguhannya utk bagaimana mencari lokasi, dan menemukan koin. Adanya imbalan uang tunai yang cukup lumayan jika koin ditemukan, dapat membuat si pemain berpengharapan tinggi, terlebih bagi pemain yang memiliki waktu luang cukup panjang, karena sesuatu dan lain sebab.
Bagaimana dengan dampak negatifnya? Tentu saja dapat merusak infrastruktur utama atau bagiannya yang menjadi lokasi koin disebarkan, terlebih jika si pemain tidak mempehatikan rambu-rambu peringatan yang telah diberikan pada apilkasi tersebut, yang diantaranya bahwa keberadaan koin pada suatu lokasi tidak disembunyikan atau tertanam di dalam tanah/tanaman sehingga sampai membuka paksa keramik, paving block atau yang lainnya.
Namun bagi pemain tentu saja ada yang tidak memperhatikan rambu-rambu tersebut karena emosional, berego tinggi, dan adanya persaingan antar pemain sehingga berebut koin, untuk keepentingaan menguntungkan diri sendiri.
Sebagai seorang yang selama ini cukup banyak terlihat dalam hal infrastruktur, terutama infrastruktur teknik sipil, dan yang tidak menginginkan terjadinya kerusakan infrastruk akibat ulah pemain suatu game, serta yang tidak ingin pula suatu kreatifitas dicegat hanya karena berdampak negatif. Disarankan, pertama, pihak pembuat aplikasi seharusnya memilih lokasi persebaran koin yang tidak membahayakan pemain/orang lain, dan atau pemerintah daerah setempat. Kedua, pihak pemerintah daerah setempat beserta petugas keamanan terkaitnya sebaiknya mempersiapkan langkah-langkah tegas jika aplikasi koin jagat ini, di sebarkan di wilayah masing-masing tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Kerusakan fasilitas publik seperti yang telah terjadi pada sejumlah tempat di kota sasaran pengembang aplikasi, dapat dijadikan pembelajaran.
Bagi pemerintah daerah yang wilayahnya “belum kebagian” koin jagat yang kontroversial ini, apakah perlu mencegatnya? Langkah pecegatan kiranya tak perlu dilakukan, jika bisa diatur bersama antara pihak pengembang aplikasi dengan pemerintah setempat berikut pihak keamanannya. Disamping itu, biasanya “umur viralnya” game” tak berlangsung lama, seiring dengan bermunculannya sejumlah game lain yang imbalannya dibuat lebih menarik, tidak hanya uang kontan. Apakah si emak yang disinggung pada awal tulisan ini sedang ikut berburu koin jagat, di wilayah Taman Tegallega? Mungkin saja.**
*Penulis adalah purnatugas dosen Fakultas Teknik UNTAN sejak 2020; pemerhati masalah teknik sipil infrastruktur, lingkungan hidup, dan pendidikan.
Editor : A'an