Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rintik Hujan Menyebabkan Mager

Miftahul Khair • Sabtu, 25 Januari 2025 | 13:59 WIB
P Adrianus Asisi
P Adrianus Asisi

Oleh: P Adrianus Asisi*

 

Kita mungkin pernah kenal dengan lagu anak bertajuk, “Tik-tik Bunyi Hujan di Atas Genteng”. Lagu ini viral tahun 2021 versi YouTube Kids. Lagu ini diproduksi Lagu anak hingga liriknya pendek, 3 bait yang sama seperti sebuah pantun dengan rima AB-AB berikut. “Tik tik hujan turun di atas Genting; Airnya turun tidak terkira; Cobalah tengok dahan dan ranting; Pohon dan kebun basah semua.” Lagu ini mengingatkan kita musim hujan melanda semester 3 hingga 4 dan berlanjut hingga kini tahun 2025.

Peringatan BMKG agar masyarakat waspada terhadap potensi curah hujan yang tinggi. Masa peralihan, kondisi transisi pancaroba dari musim kemarau ke musin hujan, kita diimbau lebih waspada utamanya cuaca ekstrim di antaranya hujan es, hujan lebat atau angin kencang.

Kantor berita Indonesia, untuk kondisi Jumat 17/1/2024 menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Jakarta diguyur hujan pada Jumat pagi, Aceh masih berpotensi diguyur hujan lebat. Denpasar, Tanggerang, Kota Lubuk Linggau Sumsel, dari Pulau Sumatera hingga pulau paling ujung, Pulau Papua. Artinya, merata di seluruh Indonesia terjadi hujan dalam perbagai tingkatan intensitas.

Konteks Kalbar, Oktober hingga Desember, bahkan Januari 2025, banyak daerah terlanda banjir, akibat dari intensitas tinggi dari hujan yang jatuh di bumi Kalbar. Hujan dapat menyebabkan di antaranya banjir. Viral pada platform media sosial, satu di antaranya banjir melanda Galang, Kabupaten Mampawah. Menarik ide kreatif warga membuat ‘jalan tol’ bagi pengendara roda dua, dengan maksud agar kendaraan tidak mogok.

Hujan yang terus menerus, entah terjadi pada sore hari, malam, subuh bahkan pagi hari yang diawali dengan turunnya hujan, sering menyebabkan kantuk. Hujan sore dan malam hari sering menyebabkan susah gerak atau malas gerak (mager). Hujan subuh hari, kadang kita mencari selimut lalu menariknya bahkan sampai ke kepala. Hujan di pagi hari, ketika hari kerja berakibat kita menghitung pergi dengan mantel atau menunda pergi.

Hujan berakibat pada tubuh kita mengantuk hingga malas gerak (mager). Apakah yang menjadi penyebab semua itu? Laman resmi The University of Melbourne menyebutkan hujan nyatanya memang bisa bikin cepat mengantuk. Alasannya, peningkatan kandungan ion negatif di udara, suara hujan adalah pengantar tidur, kandungan oksigen di udara menurun, dan peningkatan pengeluaran (sekresi) hormon melatonin.

Penulis mengulas dengan meningkatkan literasi mengenai keempat hal tersebut berikut.

Pertama, peningkatan kandungan ion negatif di udara. Situs CNN Indonesia mengatakan bahwa ion negatif yang hadir bersama hujan, justru berdampak positif bagi tubuh manusia. Meski kadang kita mengalami flu dan batuk. Peningkatan ion negatif yang cukup signifikan berbanding lurus dengan sistem saraf manusia, sistem kardiovaskuler atau sistem peredaran darah, dan sistem pernapasan makhluk hiidup. Artinya, terjadi peningkatan kerja sistem organ tubuh sehingga merasa lebih tenang.

Kita tahu bahwa saat terjadi hujan, ada banyak uap air di udara hingga tekanan udara juga tinggi dan kelembaban menjadi tinggi, tetapi jumlah oksigen menjadi lebih rendah karena terjadi pengikatan oleh unsur lainnya. Jika jumlah oksigen menurun, otak meresponnya dengan mengendur sehingga orang mengantuk. Ion negatif bersama hujan, memiliki efek menenangkan (hipnosis) yang menyebabkan cepat tidur.

Kedua, suara hujan pengantar tidur. Dalam laman The University of Moulbern dikatakan bahwa ketika suara hujan memasuki otak manusia melalui alat auditori telinga, otak secara tidak sadar menjadi rileks karena saat itu otak berada pada gelombang alpha (α) yang memicu orang lebih cepat tidur. Hujan berada dalam frekuensi 0 hingga 20 kHz.

Namun, ketika hujan yang disertai guntur dan petir di tengah suara hujan, menyebabkan orang stres bahkan ketakutan (astraphobia). Astraphobia adalah ketakutan ekstrem yang muncul ketika mendengar maupun melihat kilatan petir. Harapannya tidak berlebihan, ketika di kamar tidur, bisa dikurangi bunyinya dengan menutup bantal di telinga kita.

Ketiga, kandungan oksigen di udara menurun. Oksigen sangat berguna bagi oksidasi biologi di dalam tubuh kita, dengan mengolah makanan kita dapat memeroleh energi untuk aktivitas tubuh. Oksigen bisa merangsang otak, menyebabkan orang merasa lebih waspada. Ketika hujan, terjadi peningkatan uap air di udara, sehingga terjadi penurunan tekanan udara dan oksigen. Situasi tersebut, berakibat otak mulai mengendur dan akhirnya mengantuk deh.

Keempat, peningkatan sekresi hormon melatonin. Hormon adalah zat dari bentukan protein yang kita konsumsi dari makanan dan minuman. Hormon melatonin merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar di dalam otak kita yang dinamakan kelenjar pineal yang berukuran sebesar kacang polong.

Hormon melatonin berguna mengatur siklus tidur, sehingga sering disebut hormon untuk tidur. Melatonin disekresikan oleh otak manusia, dikeluarkan oleh otak ketika suasana gelap dan redup. Ketika tidur, beragam proses pemulihan yang terjadi pada tubuh manusia. Melatonin selain mengatur tidur tetapi juga mengatur kapan kita terjaga.

Secara alami di dalam tubuh kita hormon melatonin membantu kita menjadi tidur. Ternyata dalam situs sehatq.com disampaikan, “Melatonin selain ditemukan di otak, juga ditemukan di area mata, sumsum tulang, dan usus. Selain hormon tidur, melatonin juga berperanan sebagai efek antioksidan.”

Untuk menghindari kantuk saat hujan, selain kebetulan dengar suara petir dan guntur, kita dapat juga meneguk secangkir kopi atau teh panas, mengonsumsi makanan ringan hangat. Meski cuaca mendung dan redup serta malam hari ketiadaan matahari membangkitkan melatonin keluar, kita tetap optimis, masih banyak aktivitas yang dapat dilakukan agar target dan impian tercapai untuk untuk tahun 2025.

Meski hujan berakibat malas gerak (mager), ketika berpergian menggunakan kendaraan roda dua, sediakan selalu mantel atau jas hujan. Berhati-hatilah ketika hujan disertai angin kencang, lebih baik istirahat sejenak, jangan dilawan. Dengan begitu kita menghindari marabahaya dan sakit penyakit. Semoga.**

 

*Penulis adalah guru IPA/Biologi SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi; alumnus S-2 TEP FKIP Untan Kalimantan Barat.

Editor : Miftahul Khair
#opini #Hujan