Oleh : Syafaruddin Daeng Usman
HARI ini Pontianak Post merayakan ulang tahunnya yang melintasi setengah abad. Tentu sebuah usia yang matang. Dan untuk sebuah media cetak khususnya, tentu suatu prestasi atau capaian yang sangat sempurna, berkelanjutan pada perjalanan yang panjang.
Seiring waktu, bermula dengan perkenalan awal sebagai bacaan harian umum masyarakat Kalimantan Barat dengan nama Akcaya, koran ini merupakan pewarta bagi masyarakat daerah, terutama tentang pembangunan Kalimantan Barat. Pembangunan dalam artian luas, mental dan spiritual. Keduanya berpadu dalam memberikan pencerahan bagi masyarakat Kalbar, pada era tersebut, untuk menjadi manusia berkarakter pembangunan.
Belum jauh usia kelahiran provinsi Kalimantan Barat saat Akcaya pertama kali terbit, tentunya berpilin berkelindan dengan rona dinamika pertumbuhan dan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Kalimantan Barat lahir 1957, sementara Akcaya pada 1972, ini menandakan sebuah proses komunikasi dua arah yang seimbang, perjalanan tata kelola pemerintahan daerah dengan pemberitaan yang akurat, serupa adagium awalnya "aktual dan terpercaya".
Akcaya sendiri mengandung makna suatu yang tiada henti, tak kunjung binasa. Demikian pun makna kehadiran provinsi Kalimantan Barat ini sendiri. Maka pada tahap awal terbitnya, diluruskan perjalanan panjangnya hingga menjelma sebagai Pontianak Post hingga hari ini, koran ini adalah media terdepan yang mewartakan "luar dan dalam" tentang Kalimantan Barat seutuhnya.
Dalam perjalanan waktu yang tidak singkat tentunya, di hari ini keberadaan media yang juga terbit dengan e-medianya ini, menjadi penyeimbang komunikasi di tengah masyarakat pluralis Kalimantan Barat.
Tentu ada banyak hal yang patut dibenahi, akan tetapi kemampuan media ini untuk berada terdepan dan di tengah masyarakat, merupakan sebuah sejarah panjang perjalanan media massa di Kalimantan Barat.
Awal mula media cetak terbit di daerah ini, seabad lampau, hingga silih berganti media cetak lainnya yang dikarenakan banyak faktor, kini tinggal kenangan, tidak demikian dengan Pontianak Post. Mampu mendayung antara dua karang, antara tradisi baca cetak dan kebiasaan media canggih, yang tetap eksis.
Dengan kenyataan yang ada, koran yang selalu dinanti setiap paginya ini, tetap melekat erat di hati pembaca. Tak ayal, menjadi ikon sebuah penerbitan pewartaan yang tak kunjung henti. Di tengah deru zaman yang kian canggih, koran ini masih menjadi legenda yang diminati.
Akan halnya dalam memposisikan diri dengan pemerintahan sebagai penggerak roda pembangunan, media yang dapat dikatakan sebagai titik temu segala generasi dan cita-cita, memiliki keberanian dengan keterbukaan. Namun masih dalam tataran wajar dan menjaga etik atau kesopanan. Semuanya tentu untuk mengukuhkan integritasnya sebagai media harian yang aktual dan dapat dipercaya khalayak pembacanya.
Ada beberapa hal yang patut diperhatikan juga, menyangkut hal remeh temeh, hendaknya Pontianak Post memiliki dan menjaga intensitas penyajian bacaan yang sempurna. Dibarengi dengan pernik-pernik yang menyertainya. Semisal ilustrasi atau sentilan. Memang terlihat remeh temeh, namun akan sangat aktual apabila hasil kerja otak ilustratornya sebagai karya asli dan orisinil, bukan pengayaan dari luar. Kerap didapati untuk ilustrasi gambar, masih "mengadopsi" ilustrasi karya orang lain!
Akhirnya, apapun yang terasakan, Pontianak Post tetaplah sebagai media massa kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat. Tetaplah kritis namun tidak mengesampingkan etika yang profesional bagi para pewarta serta tetap menjaga kepercayaan publik.
Dirgahayu Pontianak Post!
(Penulis Syafaruddin DaEng Usman, freelance Akcaya Pontianak Post pada 1989-2002)
Editor : A'an