Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Merayakan Makna Cinta

A'an • Kamis, 13 Februari 2025 | 10:27 WIB
Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

 

Oleh: Y Priyono Pasti

 

APA sesungguhnya substansi cinta? Mengapa setiap insan sangat penting untuk merayakan cinta di dalam hidupnya? Dalam konteks peringatan dan perayaan Valentine’s Day yang senantiasa dirayakan pada 14 Februari setiap tahunnya (terutama oleh kalangan remaja-kaum muda), bagaimana kita memaknainya? Apa yang mesti kita lakukan agar hati kita penuh cinta, terus hidup dan bertumbuh di tengah keluarga dan lingkungan (masyarakat) kita?

Praktik hidup yang dipenuhi cinta yang tulus murni tak gampang dilakukan. Tak semua insan mampu menjalankan hidupnya dalam suasana penuh cinta. Penyebabnya antara lain ketidaktahuan dan ketidakmampuan memaknai hakikat cinta secara benar.

 

Kebutuhan Eksistensial

Mengkristalisasikan sejumlah pandangan filsuf terkait cinta, Cinta merupakan unsur hakiki dalam diri manusia yang sangat potensial, yang mampu memperkaya, mengembangkan dan mengutuhkan manusia. Cinta merupakan sarana-jembatan untuk mengantar orang mencapai kepenuhan diri, kematangan psikologis, dan kedewasaan diri.

Cinta merupakan kebutuhan eksistensial umat manusia. Cinta memang begitu indah. Setiap orang tak kuasa menolak kehadirannya. Cinta merupakan bagian esensi dari hidup manusia, sehingga tanpa kehadiran cinta dalam diri seseorang, ia bukanlah manusia.

Cinta merupakan energi yang menggerakkan jiwa manusia yang bertalian dengan keaktifan dan terpancar sebagai sikap hidup, sekaligus untuk memanusiakan manusia. Inilah pentingnya cinta bagi manusia. Tanpa memiliki perasaan cinta, hidup akan terasa hambar, kering tanpa makna. Dan dalam jiwa yang tandus, di sanalah kematian psikologis menanti. Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa tidak ada ajang hura-hura, bersenang-senang semata, apalagi sarana penguasaan dan pemuasan diri.

Pemahaman dan penghayatan yang benar tentang cinta (yang hakiki) mutlak diperlukan. Ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami dan memaknai hakikat cinta secara benar akan mengakibatkan terjadinya proses pemiskinan, pendangkalan, dan manipulasi cinta. Praktik-praktik “free love” yang marak belakangan ini, sama sekali tak ada cinta di dalamnya, kecuali pemuasan dan penguasaan.

Atas nama cinta (katanya), banyak orang dengan mudahnya menjalin cinta dengan lawan jenis untuk merajut hidup bersama. Namun tragisnya, dengan alasan yang tidak jelas, begitu gampangnya mereka memutuskan hubungan cintanya. Maka, jangan heran kalau belakangan ini banyak kasus ‘MBA’ (Married By Accident), aborsi, perceraian, dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).

Gita Valentine

Gita cinta Valentine terus bergema hingga hari ini. Ada banyak cara dan ekspresi yang digunakan orang untuk mengisi hatinya penuh cinta dan membuat cintanya menjadi lebih hidup sebagai wujud syukurnya atas anugerah cinta yang diterimanya dari Sang Maha Cinta. Jumat, 14 Februari 2025, ribuan bahkan jutaan manusia di seluruh dunia (terutama muda-mudinya, termasuk di Indonesia) memeringati dan merayakan Hari Valentine.

Bagaimana kita memaknai Hari Valentine, Hari Kasih Sayang itu agar hati kita penuh cinta dan cinta (kasih sayang) kita sungguh hidup dan nyata bagi sesama, orang-orang di sekitar kita?

Agar perayaan Hari Valentine yang kita laksanakan setiap tanggal 14 Februari itu sungguh bermakna (untuk hidup kita dan sesama), sebagai umat beriman kita memang selayaknya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks umat Kristiani, kita bersyukur sebab Allah yang kita kenal dan sembah dalam Yesus Kristus adalah Kasih (1 Yohanes 4:16b).

Kasih karunia Allah tidak terbatas. Ia mengasihi kita yang sungguh-sungguh mendambakan Kasih-Nya. Allah tidak pernah berhenti untuk mengasihi kita. Pertanyaan reflektif-substansial yang jawabannya menjadi pergumulan kita masing-masing; bagaimanakah kita dapat memiliki Kasih Karunia Allah yang begitu besar dan maha luas itu dalam kehidupan kita? Bagaimana kita dapat meneruskan Kasih Karunia Allah itu kepada orang lain di sekitar kita?

Syarat utama untuk dapat memiliki Kasih-Nya, kita harus menerima Dia dalam hidup kita dan senantiasa rindu untuk menjalani kehidupan seperti yang dikehendaki-Nya, yaitu hidup penuh kasih dengan sesama. Matius 22:37-39 menjelaskan bahwa hukum kasih yang utama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Yohanes 13:34 menjelaskan bahwa perintah baru dari Tuhan adalah untuk saling mengasihi seperti Tuhan telah mengasihi kita. Kasih mengajarkan kita untuk mengampuni, melayani, dan mengembangkan kasih yang sesungguhnya.

Jika kita mengisi kehidupan kita dengan Kasih-Nya secara terus-menerus, maka kehidupan kita pun akan melimpah dengan Kasih-Nya. Jika kehidupan kita melimpah akan Kasih Karunia Allah, maka kasih yang sama akan membanjiri orang-orang yang ada di sekitar kita lewat kehidupan dan tindakan nyata yang kita lakukan.

Melalui moment perayaan Hari Valentine yang kita rayakan setiap tanggal 14 Februari ini, kita harus sungguh-sungguh menghadirkan Kasih Karunia Allah itu di dalam hidup dan di tengah-tengah masyarakat kita di mana pun kita berada. Kita mesti menjadi garam dan terang dunia. Kita harus membuat cinta, kasih, dan perasaan sayang kita sungguh-sungguh hidup dengan mencintai, mengasihi, dan menyayangi sesama secara tulus/iklas.

Lewat perayaan Hari Valentine ini, kita harus peduli terhadap sesama. Berbagi kasih untuk membantu sesama, lebih-lebih bagi yang menderita.  Kebenaran besar mesti kita perjuangkan. Relasi positif-konstruktif dengan sesama mesti kita lakukan dan tingkatkan. Di mana pun, dan dengan siapa pun, kita mesti berbagi kasih agar panggilan Tuhan kepada kita untuk mengasihi sesama dapat kita tunaikan dengan baik.

Di tengah getirnya hidup masyarakat miskin akibat dampak rupa-rupa krisis dan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup saat ini (termasuk mereka yang menjadi korban banjir beberapa waktu yang lalu), berbagi kasih sekecil apapun dengan mereka merupakan tindakan mulia. Dengan demikian makna Kasih Sayang itu sungguh hidup dan nyata. Makna perayaan Hari Valentine (Kasih Sayang) itu sungguh berarti bagi sesama.

Semoga kita semakin mampu memahami, menghayati, memaknai, dan menempatkan (mengimplemetasikan) hakikat cinta yang sesungguhnya itu sebagai kebutuhan manusia yang paling hakiki dalam keluarga kita masing-masing, dalam komunitas, dalam pekerjaan, di lingkungan, di masyarakat, dan dalam setiap gerak langkah menuju kepenuhan hidup kita.

Mari kita merayakan indahnya cinta dalam hidup kita dengan penuh hikmat. Mari kita saling memberikan cinta yang tulus, tak hanya saat Valentine (hari kasih sayang) melainkan sepanjang perjalanan ziarah hidup kita, dalam kerja-kerja pelayanan kita.

Manusia harus memiliki cinta dan membagikannya untuk kemaslahatan bersama. Tanpa cinta, manusia enggak lebih dari sekadar robot. Happy Valentine’s Day!!

*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak.                                                                               

Editor : A'an
#makna cinta