Oleh: Sihabuddin*
India sebuah negara di Asia Selatan yang memiliki julukan tersendiri sebagai Anak Benua. Sebutan sebagai Anak Benua ini bukan tanpa alasan, hal ini karena kondisi geografis India yang unik yang seolah-olah dipisahkan dari Asia oleh Pegunungan Himalaya di sebelah Utara. Selain itu, negara yang kaya akan sejarah dan budaya ini merupakan tempat lahirnya agama Hindu & Budha serta rumah lebih dari 200 juta muslim (tapi minoritas) ini mayoritas penduduknya memiliki ciri fisik yang berbeda dengan orang Asia pada umumnya, mungkin ini menjadi alasan lain kenapa negara terluas ketujuh di dunia ini disebut Anak Benua Asia.
Sebagai salah satu negara terluas di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, yang menurut data PRB (Population Reference Bureau) 2024 mencapai 1,44 miliar, bukan suatu yang mengherankan jika negara ini memiliki masalah yang begitu komplek. Hal ini karena populasi yang begitu besar tidak diimbangi dengan daya dukung linkungan yang baik sehingga masalah kemiskinan, polusi, sanitasi dan sebagainya masih menjadi masalah serius hingga kini. Meskipun India telah mencapai kemajuan ekonomi yang signifikan, kemiskinan dan ketimpangan masih menjadi masalah serius. Sekitar 16,4 persen penduduk India masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Masalah polusi di India Masalah sanitasi di India sangatlah buruk. India menjadi negara nomor 1 dengan tingkat buang air besar sembarangan terbesar di dunia. Sekitar 344 juta orang di India tidak memiliki akses reguler ke toilet menurut statistik WHO dan UNICEF tahun 2017. Masalah sampah turut menjadi masalah serius di India. Dijelaskan dalam sebuah media online yang merujuk The Travel, India menjadi negara paling kotor kedua di dunia. Mulai dari kota yang tercemar, sungai kotor, kondisi jalan yang buruk serta pembuangan air yang kecil menjadi masalah besar yang tidak terselesaikan hingga kini.
Dari masalah-masalah inilah menjadikan citra India begitu buruk bagi banyak orang di seluruh dunia. Bahkan bagi sebagian orang Indonesia citra India adalah negara terbelakang hal ini karena banyak sekali konten-konten di media sosial yang menggambarkan joroknya orang India dalam mengolah dan mengkonsumsi makanan dan banyaknya tempat-tempat kumuh di India. Bahkan di media sosial banyak oknum orang Indonesia menyebut India dengan Prindapan yang konotasinya negatif. Jika ada berita kehebatan India banyak yang heran bahkan tidak terima sebab. Padahal negeri Hindustan ini adalah negeri yang paradoks. Jadi bukan suatu yang mengherankan banyak suatu yang bertentangan di India namun saling terkait.
Beberapa contoh nyata paradoks di India adalah orang-orang terkaya di dunia, bahkan orang terkaya di Asia dan empat dari sepuluh orang terkaya se Asia dari India. Namun, masalah kemiskinan yang begitu besar masih belum teratasi di India. India menjadi salah satu negara dengan pemenang kontes kecantikan kelas dunia terbanyak di dunia seperti Miss World, Miss Universe, Miss International, Miss Grand International dan sebagainya. Bahkan, menjadi negara pemenang Miss World terbanyak di dunia tapi kontes kecantikan yang identik dengan kata mewah dan gelamor berbanding terbalik dengan jutaan kondisi perempuan India di daerah-daerah kumuh di negaranya. Di bidang teknologi India menunjukan kemajuan yang begitu pesat dan menjadi salah satu pusat teknologi terbesar di dunia. Bahkan CEO di perusahaan teknologi dunia banyak dari India seperti Sundar Pichai CEO Alphabet/Google, Satya Nadella CEO Microsoft, dan Shantanu Narayen CEO Adobe. Namun, masih terdapat kesenjangan digital yang tinggi khususnya di pedesaan India. Tentu masih banyak paradoks lain di negeri Sungai Gangga ini.
Berbicara paradoks berarti berbicara positif dan negatif yang bisa dipelajari. Positifnya bisa ditiru negatifnya ditinggalkan. Banyak hal positif yang bisa dipelajari dari orang India baik yang ada di negaranya sendiri atau yang sudah menjadi warga negara lain. Di India sendiri perkembangan teknologi begitu pesat. India memiliki banyak pusat teknologi seperti di Bangalore, Hyderabad, Chennai, dan Technopark di Thiruvananthapuram. Selain itu memiliki ekosistem start up yang dinamis seperti Flipkart, Ola, dan Paytm. Dengan ini tentu India memiliki talenta-talenta berkualitas tinggi di bidang IT. Di bidang perfilman India memiliki puluhan industri perfilman dan Bollywood sebagai rajanya. Dari Bollywood ini kebudayaan India semakin dikenal ke seluruh dunia. Tanpa meninggalkan identitas budayanya Bollywood mampu bersaing dengan Hollywood raksasa industri perfilman Amerika. Uniknya lagi dari Bollywood inilah banyak orang tahu budaya luar yang masuk ke India akhirnya di-Indiakan salah satunya muncul istilah Indian English bahasa Inggris dialeg India yang diakui dunia.
Di luar India kiprah orang India luar biasa. Selain banyak yang menjadi CEO Perusahaan global, banyak orang-orang keturunan India yang menduduki posisi penting di negaranya. Seperi Kemala Harris mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Rishi Sunak mantan Perdana Menteri Inggris, Mohamed Irfaan Ali Presiden Guyana dan keturunan India lainnya. Di Indonesia sendiri dunia perfilman banyak dipegang keturunan India seperti Raam Punjabi, Dhamoo Pujabi dan lainnya. Bahkan Sri Prakash Lohia orang terkaya keenam di Indonesia merupakan keturunan India. Melihat banyaknya orang hebat dari India dan keturunan India tentu hal yang perlu dipelajari dari mereka yaitu tentang keberhasilan di negeri sendiri meski berawal dari keterbatasan dan kesuksesan di negeri orang meski berawal dengan sendirian.**
*Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Editor : Miftahul Khair