Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mahalnya Kejujuran di Era Post-Truth

A'an • Selasa, 25 Februari 2025 | 10:19 WIB
Syamsul Kurniawan
Syamsul Kurniawan

 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

SAYA menulis opini ini setelah menonton sebuah video eksperimen sosial yang cukup menggugah hati saya. Dalam video tersebut, seorang konten kreator YouTube melakukan eksperimen yang menguji perilaku jujur masyarakat di berbagai negara. Eksperimen dimulai dengan sang kreator menjatuhkan sejumlah uang di dekat orang-orang yang tidak dikenalnya, lalu menanyakan apakah uang tersebut milik mereka. Hasilnya mengejutkan. Sebagian besar dari target eksperimen tersebut mengaku bahwa uang itu milik mereka, padahal jelas-jelas uang tersebut bukan milik mereka. Hanya satu atau dua orang yang dengan tegas menolak, mengatakan bahwa uang itu bukan milik mereka.

Eksperimen ini langsung membuat saya berpikir tentang moralitas dan perilaku jujur di masyarakat. Namun, setelah lebih banyak berpikir, saya mulai menyadari bahwa video tersebut, seperti banyak hal lainnya di dunia digital, belum tentu benar adanya. Mungkin saja itu hanya sebuah konten yang dirancang untuk menggugah emosi penonton, untuk memicu debat atau menarik perhatian. Dalam dunia yang semakin terhubung oleh teknologi, kita tidak bisa dengan mudah membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya sekadar simulasi atau rekayasa untuk memenuhi kebutuhan konten. Batas antara kenyataan dan rekayasa itu sangat kabur, dan hal ini semakin memperumit pemahaman kita tentang kejujuran.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Sebagai contoh, kita juga sering kali disuguhkan video-video YouTube yang menceritakan kisah-kisah misterius dan menegangkan, seperti perburuan dukun santet atau pertarungan gaib antara kiyai-kiyai yang terlibat dalam dunia mistis. Video-video tersebut sering kali disajikan dengan narasi yang sangat dramatis dan penuh dengan emosi, mengundang rasa ingin tahu dan ketegangan. Seperti dalam beberapa video viral yang menceritakan kisah seorang kiyai yang terlibat dalam pertarungan gaib dengan dukun santet, yang pada akhirnya diketahui, setelah penyelidikan lebih lanjut, hanyalah sebuah rekayasa untuk kebutuhan konten. Kisah yang tampaknya menggugah itu hanyalah sebuah simulasi yang dirancang untuk memikat perhatian dan meningkatkan jumlah penonton.

 Baca Juga: Didik Rachbini: Danantara Diharapkan Dorong Ekonomi RI Melompat ke Kancah Global

Kehilangan Realitas di Era Post-Truth

Di sinilah letak masalah besar yang kita hadapi di era post-truth ini, di mana realitas sering kali dipertanyakan dan bahkan digantikan oleh narasi-narasi yang lebih menguntungkan atau lebih menggugah emosi daripada kebenaran itu sendiri. Istilah post-truth menggambarkan situasi di mana perasaan dan keyakinan pribadi lebih dominan daripada fakta objektif. Dalam era digital yang semakin cepat ini, kita sering kali menerima informasi bukan berdasarkan kebenarannya, tetapi berdasarkan apa yang terasa benar, atau apa yang sesuai dengan preferensi dan keyakinan kita.

Fenomena ini semakin diperburuk oleh media sosial yang menjadi lahan subur bagi penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Citra yang tampak sempurna di media sosial, kesuksesan yang terlihat di setiap postingan, semua itu mungkin hanyalah sebuah konstruksi. Dunia digital dengan mudah menciptakan citra kehidupan ideal, di mana segalanya tampak baik-baik saja. Padahal, di balik layar, ada ketidaksempurnaan yang tersembunyi. Inilah yang disebut sebagai hyperreality, sebuah keadaan di mana simulasi atau citra yang kita lihat di dunia maya terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Kejujuran pun mulai terdistorsi, karena kita lebih sering terperangkap dalam narasi yang tidak nyata, namun lebih menarik dan lebih mudah diterima.

Ketika dunia digital semakin mengaburkan batas antara yang nyata dan yang tidak, kejujuran menjadi semakin sulit untuk dipertahankan. Kejujuran bukan hanya sekadar berkata benar, tetapi juga tentang kemampuan kita untuk melihat dan mengenali kenyataan yang sesungguhnya. Namun, jika yang kita hadapi adalah dunia yang penuh dengan manipulasi, distorsi, dan rekayasa digital, bagaimana kita bisa tahu apa yang benar dan apa yang palsu? Ketika kebohongan atau citra yang dibangun terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri, kita mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan yang asli dari yang palsu.

Dalam konteks media sosial dan dunia digital yang semakin canggih, kebohongan, baik itu berita palsu, pencitraan diri yang tidak realistis, atau manipulasi data, menjadi lebih mudah disebarkan dan diterima oleh masyarakat luas. Berita palsu atau informasi yang belum terbukti kebenarannya sering kali lebih cepat menyebar karena menyentuh emosi atau menjual ideologi tertentu. Kebohongan menjadi lebih menarik daripada kebenaran yang lebih kompleks dan membingungkan. Inilah tantangan utama dalam mempertahankan kejujuran di era post-truth ini.

 Baca Juga: Kelola Aset Rp14.500 T, Tiga Regulasi Jadi Dasar Operasional Badan Pengelola Investasi Danantara

Pendidikan: Membangun Kebiasaan Jujur yang Konsisten

Namun, meskipun tantangannya besar, bukan berarti kita tidak dapat melakukan sesuatu untuk membangun kembali kejujuran. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh James Clear dalam bukunya Atomic Habits (2018), perubahan besar dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan keterampilan akademis, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan yang akan membimbing kita untuk tetap berpegang pada kebenaran, meskipun dunia di sekitar kita semakin terdistorsi oleh simulasi.

Pendidikan yang mengajarkan pentingnya kebiasaan jujur, seperti berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menghindari membagikan berita palsu, dapat membantu membentuk generasi yang lebih jujur. Dengan membiasakan diri untuk selalu bertanya dan mengevaluasi setiap informasi yang kita terima, kita dapat mulai membangun kejujuran yang lebih kokoh meskipun hidup dalam dunia yang penuh dengan hyperreality.

Namun, menjaga kejujuran di dunia yang serba digital ini bukanlah hal yang mudah. Kita sering kali terperangkap dalam dunia hyperreality, di mana kebohongan atau citra yang dibangun terasa lebih nyata daripada kenyataan. Dalam dunia yang semakin terhubung dengan teknologi, kebohongan bisa dengan mudah tersebar, dan kebenaran sering kali menjadi hal yang sulit ditemukan. Tantangan terbesar dalam mempertahankan kejujuran adalah bagaimana kita bisa kembali melihat dunia dengan mata yang jernih, untuk mengenali kenyataan yang sesungguhnya di balik citra yang terbentuk di dunia maya.

Kejujuran memang semakin mahal di era post-truth, namun kita tidak boleh menyerah. Kejujuran tidak hanya soal berkata benar, tetapi juga tentang memahami dan menerima kenyataan, meskipun kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kejujuran bukan hanya tentang menghindari kebohongan, tetapi juga tentang mengembalikan kemampuan kita untuk melihat dan mengenali dunia seperti apa adanya, tanpa terperangkap dalam simulasi atau citra yang diciptakan oleh teknologi.

Pada akhirnya, kejujuran adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya tugas individu untuk menjaga kejujuran, tetapi juga tugas kolektif masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kejujuran, baik dalam dunia nyata maupun dunia digital. Kejujuran harus dipupuk sejak dini, melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibentuk dalam pendidikan, dan melalui kesadaran untuk selalu mengevaluasi dan memverifikasi informasi yang kita terima.

Jika kita dapat membentuk kebiasaan jujur yang konsisten, kita akan dapat membangun masyarakat yang lebih jujur, di dunia yang semakin terhubung, yang penuh dengan kebohongan dan citra yang tidak selalu mencerminkan kenyataan. Kejujuran memang mahal di era post-truth, tetapi dengan upaya bersama, kita masih dapat membangun dunia yang lebih jujur dan lebih sadar akan kenyataan yang sesungguhnya.**

 

*Penulis adalah Ketua Divisi Pengembangan Kaderisasi dan Cendekiawan Muda ICMI Kota Pontianak.

Editor : A'an
#post truth #Kejujuran