Oleh: Khairul Fuad
PENGHARAPAN Allah sebagai Khalik kepada Manusia sebagai makhluknya adalah sederhana sebagaimana kejadian manusia berawal sangat, bahkan sangat-sangat sederhana, itu pun hanya setetes, yaitu air yang memancar. Ketekunan salat, kepatuhan puasa, kesanggupan zakat, dan kemampuan ke Baitullah, apalagi pengakuan hamba-Nya, tidak perlu dan tidak dibutuhkan oleh Allah swt, tetapi konsistensi atau istikamah dalam istilah agama, yaitu tetap pada regulasi-Nya dan melanggengkannya.
Wujud istikamah adalah proses terus-menerus dalam menjalankan nilai-nilai agama, sedangkan salat, puasa, dan haji sebagai bentuk implementasi. Dengan demikian, agama terangkum secara utuh, antara bentuk abstrak berupa nilai dan bentuk konkret berupa amalan. Di sisi lain, bertemunya sisi ide dan sisi praksis sebagai upaya istikamah, yaitu penghormatan kepada pemikiran dan keyakinan yang dianut, serta aplikasi bentuk konsekuensi.
Allah pun menganugerahkan pahala dalam istikamah sebagai wujud ide sekaligus praksis dalam beragama. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat al-Ahqaf: 13, “Sungguh orang-orang yang mengumpulkan Iman, tauhid, dan konsisten (istikamah) terhadap aturan Allah, kebencian yang ditakutkan tidak menimpanya di akhirat dan tiada duka yang ditinggalkan di dunia bagi mereka”
Seorang hamba berbuat baik, Allah pun akan membalasnya dengan pahala sesuai yang telah dijanjikan. Akan tetapi, seorang hamba tidak konsisten atas perintah dan larangan-Nya maka rasionalitasnya, Allah tidak menganugerahkan sebagaimana apa yang dianugerahkan kepada hamba-Nya yang istikamah. Reward dan punishment dalam istilah pendidikan atau bashiran dan nadziran dalam istilah agama dipantik oleh tindakan yang berdampak dari akibat yang ditimbulkan.
Memang Allah telah memberikan kebebasan kepada manusia atas opsi yang dipilih, apakah mengimani atau mengingkari. Kedua opsi tersebut menimbulkan akibat yang sama secara ide, yaitu balasan Allah, hanya tentunya berbeda secara praksis, opsi mengimani berujung bashiran, sedangkan opsi mengingkari berkesudahan nadziran. Dengan kata lain, Allah tetap melakukan konsistensi dan konsekuensi atas opis-opsi yang dipilih.
Sebagaimana pernyataan Allah dalam sebuah Hadist Qudsi bernilai nadhiran atau punishment kepada para hamba-Nya sekaligus gambaran konsistensi dan konsekuensi relasi Sang Khalik dan makhluk-Nya bernama manusia. Sa’id bin Abdullah dari Abu Abdullah, Nabi Muhammad bersabda: Allah berfirman barang siapa tidak rida atas ketentuan-Ku, tidak syukur atas nikmat-Ku, dan tidak sabar atas coba-Ku lebih baik mencari tuhan selain Aku. Barang siapa rida atas ketentuan-Ku, syukur atas nikmat-Ku, dan sabar atas coba-Ku maka Aku menetapkannya ke dalam orang-orang benar di samping-Ku.
Inilah pengharapan Allah yang sederhana, logis, dan rasional. Jika konsisten, istikamah kepada tali-Nya, Allah pun tidak menyianyiakan. Jika sebaliknya, Allah mempertanyakan eksistensinya selama ini di muka bumi sehingga logis dan rasional jika diminta hengkang dan keluar dari bumi-Nya sebagai salah satu susunan tata surya bima sakti untuk mencari selain Allah.
Qiyasnya, jika tidak menunjukkan sopan santun saat bertandang ke sebuah rumah, secara rasional jika tuan rumah menendang keluar rumah. Hanya saja ketika Allah sendiri menendang dari muka bumi sebagaimana riwayat lain menyebutkan untuk keluar dari bumi-Ku, maka ke mana lagi harus bertandang, ke luar angkasa. Itu pun masih termasuk rangkaian absolut properti-Nya dalam susunan tata surya bima sakti. Hanya memalingkan wajah saja, di situ keberadaan Allah, mustahil jika hengkang dari bumi.
Selanjutnya, terkait ide dan praksis, masih saja terjadi ketidaksambungan atau tiada sinkronitas antarkeduanya. Apa yang terpikirkan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Nilai-nilai luhur diajarkan justru luruh saat dipraktikkan, bahkan ditinggalkan. Padahal betapa banyak, norma etika Negeri ini Nusantara dari ujung ke ujung, masih tetap relevan sampai sekarang sebagai wujud kelayakan dan kepantasan, baik menjaga invidu maupun menyelaraskan rasa sosial.
Demikian juga, puasa sebagai ajaran agama masih terjadi disoreintasi antara nilai yang terpirkirkan berbanding terbalik 1800 dengan praksis yang dipraktikkan. Perbuatan tidak semestinya sesuai anggapan sosial, masih saja dan kerap terjadi di tengah masyarakat. Idealnya, nilai puasa berimplikasi terhadap komunitas sosial sehingga perbuatan tidak semestinya tidak terjadi dan tidak merugikan secara sosial. Malahan terdapat kritik, berapa banyak orang berpuasa hanya berkesudahan lapar dan dahaga, tanpa atsar membekas.
Di sisi lain, sebagai negara yang dibangun di atas ideologi, juga jauh dari apa yang dibilang sinkron antara ide dan praksis. Citra yang ditimbulkan dari ideologi begitu menyejukkan pandang dan menentramkan rasa, tetapi dari fakta justru jauh panggang dari api. Sudah banyak dan tampaknya terlalu banyak kejadian tidak layak dan tidak patut, baik di mata hukum maupun sosial, sebab disorientasi citra dan fakta.
Misalnya, politik praktis seperti kehilangan ideologi perpolitikannya, sementara ideologi adalah dasar gerak-langkahnya. Seseorang bagian dari politik praktis mudah berpindah dari satu mesin politik ke mesin politik lain, justru sebelumnya berbeda ideologi. Oleh karena itu, muncul asumsi adanya kepentingan sesaat, sedangkan politik praktis sebenarnya tidak sesaat, tetapi dari satu saat ke lain saat karena di belakang ada kepentingan besar, yaitu hasrat dasariah orang banyak dan kebanyakan negeri ini.
Jika menengok jauh ke belakang, dapat dijadikan pelajaran bagaimana para pendahulu mempertimbangkan konsekuensi dan konsistensi demi memperjuangkan kepentingan khalayak banyak dalam ranah politik praktis. Selalu dan tetap di bawah bendera masing-masing sesuai ideologi yang dipegang dan anut, bukan perbedaan dituju, melainkan upaya titik-temu dari pendapat-pendapat berbeda. Melalu konsistensi ideologi masing-masing, kepentingan diperjuangkan demi kemaslahatan bangsa karena raison d’etre bangsa jauh lebih penting
Negeri ini dengan agama di dalamnya, termasuk ideologi sering dihadapkan disoreintasi citra dan fakta. Citra begitu ideal dicita-citakan, hanya saja fakta di lapangan ibarat tidak hanya jauh panggang dari api, tetapi sangat jauh bainas sama’ wa sumber minyak, antara langit dan kerak bumi sebagai sumber minyak. Di dalam pemikiran sesuai ketentuan yang dijunjung bersama, tetapi pelaksanaan kerap melukai rasa semestinya dan sebenarnya.
Dengan demikian, tetap perlu mengupayakan orientasi citra dan fakta, tersambung nyata sehingga citra sebagai ruh mampu bertiup ke dalam fakta melaui praktik senyatanya. Ibarat jasad tanpa ruh pastinya mati tidak berguna, sedangkan ruh tanpa jasad sulit menjelma dalam wujud nyata. Citra memfakta dan fakta mencitra, baik dalam agama maupun ideologi menjadikan apa yang terkatakan akan ternyatakan dan yang ternyatakan terdapat apa yang terkatakan dalam sebuah dokumetasi kelak bernama sejarah.**
*) Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).
Editor : A'an