Oleh: Soependi, S.Si, MA*
Dalam perjalanan menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Indonesia berdiri di persimpangan jalan yaitu di bonus demografi. Apa itu bonus demografi? Bonus demografi adalah potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur umur penduduk, dimana proporsi usia kerja (15-65 tahun) lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja (0-14 tahun dan >65 tahun) (United Nations Population Fund (UNFPA),2020). Dalam pengertian lain bonus demografi akan terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dari usia non-produktif dan diperkirakan Indonesia memasuki masa bonus demografi sejak 2012 hingga 2035 dan akan berlangsung hingga sekitar 2045 dengan perkiraan 69 persen penduduk usia produktif.
Dengan lebih dari 281 juta penduduk (Proyeksi SUPAS, BPS) di tahun 2024, peluang yang dihadirkan oleh jumlah besar penduduk usia produktif tidak bisa dianggap sebelah mata. Peluang mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sebelum beban populasi lansia meningkat. Rasio ketergantungan Indonesia diperkirakan mencapai titik terendah pada 2030-an dengan 68,3 persen penduduk usia produktif. Menunjukkan dampak bonus demografi di negara berkembang dapat menurun tanpa kebijakan yang tepat (McKinsey Global Institute, 2012).
Komitmen dan kebijakan yang tepat menjadi kunci untuk membuka pintu kesuksesan bagi generasi mendatang. Bonus demografi dapat menjadi landasan untuk mempercepat pembangunan ekonomi, sehingga Indonesia tidak hanya bisa berbangga, tetapi juga bersaing di panggung dunia.
Pendidikan yang berkualitas, partisipasi perempuan yang lebih tinggi dalam angkatan kerja, dan investasi dalam inovasi adalah beberapa senjata yang wajib persiapkan. Negara juga harus memperhatikan kesehatan tenaga kerja agar mereka bisa terus produktif. Dengan kebijakan yang tepat dan kesadaran kolektif, Indonesia bisa meraih masa depan yang lebih cerah di era bonus demografi ini.
Indonesia saat ini, sedang berada dalam fase kritis bonus demografi, di mana sebagian besar penduduk berada di usia produktif. Seperti yang kita ketahui, bonus demografi dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan baik. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat tantangan serius yang mengintai yaitu meningkatnya prevalensi penyakit kronis, salah satunya adalah diabetes.
Menurut data dari Federasi Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2021, Indonesia mencatatkan sekitar 19,5 juta penderita diabetes, dan angka ini diprediksi akan meningkat menjadi 28,6 juta pada tahun 2045 jika tidak ada intervensi yang tepat. Prevalensi diabetes di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 11,7 persen dan terus meningkat.
Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 160 gram gula putih per hari, tiga kali lipat dari batas aman. Prevalensi diabetes di Indonesia meningkat dari 1,5 per mil pada 2013 menjadi 2 per mil pada 2018. Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah diabetes terbanyak dengan 19,5 juta penderita. Jumlah penderita diabetes di dunia pada tahun 2021 mencapai 537 juta dan diprediksi terus meningkat (sehatnegeriku.kemkes.go.id, Sept 2022).
Diabetes merupakan ibu dari segala penyakit dan dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Faktor Risiko dan Pencegahan Diabetes (WHO). Risiko terkena diabetes dipengaruhi oleh gaya hidup, riwayat keluarga, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi gula yang tinggi (Kemkes.go.id, 2024). Ini memperlihatkan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkan bonus demografi, peningkatan angka diabetes dapat menjadi beban berat bagi sistem kesehatan dan ekonomi sebuah Bangsa.
Pengaruh bonus demografi terhadap kesehatan masyarakat, terutama dalam hal penyakit kronis seperti diabetes, sangat signifikan. Dengan meningkatnya jumlah populasi usia produktif, ada risiko yang lebih tinggi bagi individu untuk mengembangkan diabetes akibat pola hidup yang kurang sehat. Gaya hidup modern yang ditandai dengan konsumsi makanan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan stres dapat memperburuk situasi ini. Jika tidak ditangani, implikasi kesehatan dapat merugikan produktivitas tenaga kerja dan, pada gilirannya, pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang meningkat selama periode bonus demografi dapat terhenti jika banyak dari tenaga kerja produktif menderita penyakit kronis. Data menunjukkan bahwa produktivitas Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara maju, dengan output per jam kerja hanya sekitar US$ 14 per jam terhadap produk domestik bruto (PDB), Sedangkan Singapura bisa mencapai US$ 74, Brunei Darussalam US$ 49, Malaysia US$ 26, Thailand US$ 15, dan rata-rata negara maju yang mencapai US$ 60 per jam (ILO, 2023).
Untuk memaksimalkan manfaat dari bonus demografi dan mengatasi masalah Kesehatan, perlu menerapkan strategi holistik. Pertama, pendidikan kesehatan harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu mendapatkan informasi tentang gaya hidup sehat dan pentingnya menjaga pola makan yang benar. Kedua, pemerintah dan pihak swasta harus bekerja sama dalam menyediakan fasilitas kesehatan yang baik dan terjangkau, serta akses ke program pencegahan dan pengobatan penyakit. Ketiga, menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti ruang publik yang ramah bagi aktivitas fisik, dapat membantu masyarakat tetap aktif. Pada akhirnya, pencegahan penyakit seperti diabetes merupakan investasi yang akan memengaruhi keberhasilan dalam memanfaatkan bonus demografi.
Beberapa Negara seperti Korea Selatan dan Singapura berhasil memanfaatkan bonus demografi dengan investasi strategis dalam pendidikan dan keterampilan. Korea Selatan berinvestasi dalam pendidikan, Research and Development (R&D), dan infrastruktur industri sejak 1970-an. Singapura berfokus pada pendidikan, keterampilan tenaga kerja, dan inovasi teknologi. Strategi memanfaatkan bonus demografi meliputi peningkatan produktivitas tenaga kerja, partisipasi angkatan kerja wanita, dan industri bernilai tambah tinggi (Labor Market Brief, LPEM FEB UI, Vol 5, No 2, Februari 2024).
Mengembangkan kebijakan yang tepat agar manfaat bonus demografi dapat dirasakan secara luas, misalnya dengan menciptakan lingkungan usaha yang lebih baik, mendukung inovasi, dan menarik investasi. Investasi dalam infrastruktur fisik dan digital juga akan mendukung pertumbuhan industri dan meningkatkan efisiensi operasional bisnis secara keseluruhan, menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi bonus demografi dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sebelum memasuki fase penuaan populasi.
Dengan prediksi jumlah penderita diabetes yang dapat mencapai 28,6 juta pada tahun 2045, jelas bahwa kita berada di ambang tantangan yang dapat membebani sistem kesehatan dan menghentikan laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menerapkan strategi proaktif yang mengedepankan pendidikan kesehatan, akses terhadap layanan medis berkualitas, serta promosi gaya hidup sehat di masyarakat (S.NadiaTarmizi,Dir.P2PTM Kemenkes).
Investasi dalam kesehatan bukan hanya sekedar tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari sektor swasta dan masyarakat. Ketika berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, bukan hanya produktivitas tenaga kerja yang akan meningkat, tetapi juga kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
Momentum bonus demografi ini sebagai kesempatan untuk bertransformasi, tidak hanya dari segi angka ekonomi, tetapi juga dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan berdaya saing. Hal ini penting, tidak hanya untuk keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai warisan generasi mendatang. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia tidak hanya dapat meraih status negara berpenghasilan tinggi, tetapi juga menjadi contoh negara yang peduli akan kesehatan dan kesejahteraan warganya.**
*Penulis adalah Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Pusat.
Editor : A'an