Oleh: Khairul Fuad*
Pascahitung hari demi hari, Ramadan usai pada akhirnya karena usia sebulan penuh telah menghiasi aktivitas keseharian untuk mengingatkan pertalian kepada Allah. Sebab sebulan Ramadan wajib melaksanakan ibadah puasa dari terbit hingga terbenam matahari. Tidak ketinggalan di malam hari sibuk ibadah, mulai menjelang Maghrib berbuka puasa dan pasca-Isya’ salat tarawih. Kemudian, tadarus membaca Alquran, baik sendiri maupun bersama-sama dan menjelang fajar merekah masih sibuk ibadah sahur demi puasa di siang hari.
Sebulan Ramadan lamanya, kaum muslimin sekampung, senegara, dan sedunia, melaksanakan ibadah puasa. Sebuah kerangka menegakkan bulan suci Ramadan demi Allah mewujudkan cinta kepada hamba-Nya sebagaimana bukti dalam Hadist Qudsi, al-saumu li wa ana ajzi bihi, puasa untuk-Ku dan Aku yang bakal memberi pahala. Oleh karena itu, hanya orang yang dipandang fit and proper untuk memenuhi perintah tersebut.
Tentunya, kadar cinta tertuju kepada hamba-Nya dengan kriteria atau spek tertentu, tidak sembarang orang maka orang-orang beriman yang fit and proper, mampu mewujudkan ekspektasi ruhaniah tersebut. Manusia-manusia dengan kesalehan langitan memiliki potensi istikamah untuk menapaki panduan cinta-Nya. Panduan itu tidak sekadar imbauan, tetapi laku nyata di setiap hari, bahkan di setiap hela nafas laku Ramadan melalui imsak (menahan) lapar dan dahaga sebagai kebutuhan dasariah (basic needs).
Harapannya, intimasi secara citra mampu membangun self-control dari perbuatan yang mereduksi nilai puasa. Bukan sekadar menahan makan dan minum, Nabi Muhammad SAW di dalam hadistnya, “Betapa banyak berpuasa tidak memetik buah manis puasa hanya menyisakan lapar dan dahaga.” Dengan kata lain, mawas diri dapat menjadi buah manis selama prosesi puasa sebagai upaya menjawab kritik tersebut. Melalui mawas diri, sekaligus upaya-hasil puasa, pasca-Ramadan, bekal sebelas bulan ke depan.
Mawas diri merupakan upaya bisa merasa, bukan merasa bisa dalam interaksi hidup, misalnya, merasa awal kejadian berasal dari sesuatu yang sederhana, dari setetes air memancar. Oleh karena itu, manusia tidak perlu menyandang sifat adigang, adigung, dan adiguna. Merasa menang sendiri, kuat sendiri, dan mulia sendiri di antara semua makhluk ciptaan Allah, khususnya manusia liyan.
Di antara upaya mawas diri setidaknya, mawas diri terhadap Allah, kesadaran manusia sebagai ciptaan Allah untuk tetap melakukan penghambaan di tengah gejala ateisme akhir-akhir ini. Mawas diri untuk terus bersyukur, misalnya nyawa masih dikandung badan sehingga masih menikmati syahdu-rindu Ramadan. Mawas diri terhadap sesama manusia, sering disebut ukhuwah basyariah, sesama semestinya saling menghormati, sesama anak Adam, sesama di bawah kanopi yang sama, sacred canopy dalam istilah teologi.
Di pihak lain, ukhuwah insaniyah, manusia sebagai makhluk sosial hendaknya memiliki mawas diri sesama manusia secara sosial. Membangun kepedulian terhadap liyan sebagai upaya, sebaik-baik manusia paling bermanfaat terhadap liyan. Sikap semacam ini berpotensi menciptakan ketertiban dan keadilan sosial sebagai upaya partisipasi perjuangan, agar tidak sloganitas semata ibarat cebol menggayuh gemintang.
Mawas diri berikutnya terhadap alam semesta, menciptakan keseimbangan alam, equilibrium, harnonisasi manusia dengan alam. Mengingat, hidup manusia tergantung kepada keseimbangan alam semesta, sederhananya ketidakseimbangan lingkungan tempatan dapat mengancam kehidupan sekitar. Salah guna lokasi peruntukan sebagai keseimbangan, dapat berkesudahan bencana yang mendatangkan kerugian, seperti erosi, tanah longsor, dan banjir bandang. Dampak ketidakseimbangan lingkungan global, berujung global warming, kutub es mencair menjadikan volume air laut meningkat berdampak banjir rob di mana-mana, bahkan sampai sekarang tidak berkesudahan.
Tak kalah penting, bangsa ini melalui anak bangsa ini, mayoritas muslim, membekali mawas diri untuk memelihara kesadaran dan merawat kepekaan. Setidaknya mawas diri terhadap kinerja dan tanggung-jawab masing-masing sebagai komponen anak bangsa demi pilar kebangsaan tetap tegak. Misalnya, kaum elit tidak berpikir sempit atas amanat yang diberi agar tidak menghimpit kaum alit yang semakin sulit terlilit. Dengan asa besar, surga tidak lagi dinanti, tetapi justru diturunkan melalui isi perut bumi bangsa ini yang melimpah tak terperi demi semua lapisan bangsa ini menikmati, bukan segelintir atas nama kepentingan sempit.
Harapannya meski dapat terjebak utopia, dengan mawas diri dalam ruang terbatas menjadi sumbangsih untuk merangkai mawas diri lebih meluas konteks bangsa ini. Sebagai usaha dan upaya berpartisipasi mewujudkan cita-cita, yaitu keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa ini dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulo Rote.
Ramadan usai dapat diperpanjang usianya melalui rasa yang tertinggal dan pernah ada penuh sebulan. Rasa masih tetap berusia panjang meski Ramadan sebagai tamu telah pergi berpamitan untuk setahun kembali datang. Rasa itu, kemudian merawat kesadaran mawas diri meski di luar atmosfer yang mendukung. Mawas diri perlu agar terhindar dari kemungkinan yang berkesudahan sesal berdasar ukur diri, seperti cuplikan lirik Ebiet G. Ade, “Tengoklah ke dalam sebelum bicara.” Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah.**
*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).
Editor : Miftahul Khair