Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyikapi Tangisan Bayi di Ruang Publik Secara Bijak dan Manusiawi

C
Penulis: Chairunnisya❯
Ilustrasi anak menangis di ruang publik (AI)
Ilustrasi anak menangis di ruang publik (AI)

PONTIANAK POST - Perdebatan mengenai tangisan bayi memanas di media sosial. Pemicunya adalah sebuah video viral yang memperlihatkan seorang perempuan meluapkan emosinya karena merasa terganggu oleh suara bayi milik tetangganya. Fenomena ini membelah warganet: ada yang merasa kenyamanannya terampas, namun banyak pula yang membela bahwa bayi tidak bisa dipaksa untuk diam seketika.

Advertisement

Bukan Sekadar Suara, Tapi Tekanan Sosial

Dosen Sosiologi Universitas Airlangga, Pingkan Sekar Savira, S.Sos., M.Sos., menilai konflik ini tidak sesederhana masalah kebisingan. Menurutnya, ada beban ekspektasi sosial yang berat di pundak orang tua.

"Ada standar tak tertulis bahwa orang tua yang baik adalah mereka yang mampu menenangkan anaknya dengan cepat. Tekanan ini sering berujung pada pelabelan 'orang tua tidak becus', padahal mereka mungkin sudah berusaha maksimal," ungkap Pingkan dikutip dari Jawapos.

Di sisi lain, Pingkan mengakui bahwa merasa kaget atau tidak nyaman saat mendengar suara melengking adalah respons alami otak manusia. Namun, yang menjadi pembeda adalah bagaimana cara kita merespons rasa tidak nyaman tersebut.

Etika Menegur Tanpa Menghakimi

Advertisement

Menegur orang tua agar menenangkan bayinya di ruang publik sebenarnya bukan hal terlarang. Namun, Pingkan menekankan bahwa ruang publik bersifat inklusif, milik semua orang, termasuk anak kecil. Pendekatan empatik jauh lebih efektif daripada teguran yang menghakimi.

Alih-alih langsung marah, cobalah memulai percakapan yang suportif.

"Bisa dimulai dengan kalimat seperti, 'Adiknya sudah dibawa keliling, Bu?' atau 'Mungkin butuh udara segar ya?'. Cara ini membuat orang tua merasa dihargai, bukan diserang," saran Pingkan.

Tentu saja, jika berada di tempat yang butuh ketenangan khusus seperti perpustakaan atau bioskop, pesan tetap bisa disampaikan secara spesifik namun tetap dengan nada yang halus.

Pentingnya Dukungan Tetangga

Dalam konteks lingkungan tempat tinggal, terutama di permukiman padat, toleransi antarwarga sangat diuji. Pingkan menyayangkan tren urbanisasi yang membuat relasi sosial kian renggang sehingga empati menurun.

Jika merasa terganggu, ia menyarankan untuk membuka dialog ringan saat suasana sedang tenang. Menanyakan kondisi si kecil, seperti apakah sedang tumbuh gigi, dapat membuka komunikasi tanpa memicu pertengkaran. Bahkan, tawaran bantuan sederhana akan sangat berarti bagi orang tua yang mungkin sedang lelah secara fisik dan psikis.

Pesan untuk Orang Tua: Jangan Defensif

Dari sisi orang tua, Pingkan mengingatkan agar tetap terbuka terhadap masukan yang disampaikan secara sopan.

Advertisement

Artikel Terkait

Ini Kesalahan Orang Tua Saat Mengajak Anak ke Museum

Ini Kesalahan Orang Tua Saat Mengajak Anak ke Museum

Psikolog membagikan tips agar kunjungan anak ke museum lebih bermakna, mulai dari persiapan hingga cara mendampingi saat eksplorasi.

Museum Membantu Anak Mengasah Kemampuan Observasi dan Rasa Ingin Tahu

Museum Membantu Anak Mengasah Kemampuan Observasi dan Rasa Ingin Tahu

Museum membantu anak mengembangkan kemampuan observasi, rasa percaya diri, dan berpikir kritis melalui pengalaman langsung.

Psikolog Ingatkan Screen Time Berlebihan Bisa Mengubah Perilaku Anak

Psikolog Ingatkan Screen Time Berlebihan Bisa Mengubah Perilaku Anak

Psikolog mengingatkan screen time berlebihan dapat memengaruhi perilaku, tidur, belajar, hingga interaksi sosial anak.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer