Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjaga Spirit Ramadan

Hanif PP • Senin, 7 April 2025 | 11:46 WIB
Santriadi
Santriadi

SESUDAH Ramadan adalah Syawal yang berarti peningkatan. Di sinilah letak pentingnya kita untuk menjaga spirit Ramadan. Meskipun Ramadan telah berlalu, tapi di bulan Syawal ini kita punya tugas berat, yaitu menjaga spirit Ramadan. Berlalunya Ramadan bukan berarti kita meninggalkan amaliyah yang sudah kita lazimkan selama satu bulan penuh, tapi justru tugas kita selanjutnya adalah membuktikan keberhasilan ibadah Ramadan itu dengan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT.

Lalu, bagaimana caranya agar spirit Ramadan tetap terjaga? Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadan yang harus tetap kita jaga, di antaranya adalah:

 

Pertama, Tidak Gampang Berbuat Dosa

Secara harfiah, Ramadan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa diibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Oleh karena itu, jangan sampai dosa yang sudah kita tinggalkan ketika Ramadan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi jika Ramadan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang dalam beberapa waktu kemudian.

 Baca Juga: The Power of Silaturahmi

Kedua, Berhati-hati dalam Bersikap dan Bertindak

Selama Ramadan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadan kita menjadi sia-sia disebabkan kekeliruan yang dilakukan. Ramadan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah bisa membelah atau membedakan antara yang hak dengan yang batil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya, seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi semata.

Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra [17]:36).

 

Ketiga, Bersikap Jujur

Ketika berpuasa, kejujuran mewarnai kehidupan kita sehingga tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Hal ini karena kita yakin Allah SWT yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau membohongi Allah SWT dan tidak mau membohongi diri sendiri. Inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan Ramadan, harusnya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.

Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, kejujuran merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Banyak kasus di negeri kita yang tidak cepat selesai bahkan tidak selesai-selesai karena tidak ada kejujuran. Orang yang bersalah sulit untuk dinyatakan bersalah karena belum bisa dibuktikan kesalahannya dan mencari pembuktian memerlukan waktu yang panjang, padahal kalau yang bersalah itu mengaku saja secara jujur bahwa dia bersalah, tentu dengan cepat persoalan bisa selesai. Sementara orang yang secara jujur mengaku tidak bersalah tidak perlu lagi untuk diselidiki apakah dia melakukan kesalahan atau tidak. Tapi karena kejujuran itu tidak ada, yang terjadi kemudian adalah saling curiga-mencurigai bahkan tuduh-menuduh yang membuat persoalan semakin rumit.

 Baca Juga: Israel Akui Serang Petugas Medis, 42 Warga Gaza Tewas dalam 24 Jam: Situasi Kemanusiaan Memprihatinkan

Keempat, Memiliki Semangat Berjemaah

Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat setan merasa kesulitan dalam menggoda manusia sehingga setan menjadi terbelenggu pada bulan Ramadan. Hal ini diperkuat lagi dengan semangat yang tinggi dalam menunaikan salat secara berjemaah, bahkan melaksanakannya juga di masjid.

Di samping itu, ibadah Ramadan yang membuat kita dapat merasakan lapar dan haus, telah memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki solidaritas sosial kepada mereka yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan. Itu pun sudah kita tunjukkan dengan zakat fitrah yang kita tunaikan. Karena itu, semangat berjemaah kita sesudah Ramadan ini semestinya menjadi sangat baik, apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap sangat memerlukan  pihak lain.

 

Kelima, Melakukan Pengendalian Diri

Puasa Ramadan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok (primer) seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua (sekunder) dan ketiga (tersier), bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu.

Untuk itu, harus disadari bahwa Ramadan adalah bulan pendidikan dan latihan. Keberhasilan ibadah Ramadan justru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadan yang dikerjakan dengan baik, tapi juga yang sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan takwa (sebagai lulusan orang beriman yang berpuasa) yang dimulai dari bulan Syawal ini hingga Ramadan tahun yang akan datang.Wallahu a’lam.

 

*) Penulis adalah Guru MA GERPEMI Tebas, Kabupaten Sambas

Editor : Hanif
#ibadah ramadan #spirit ramadan #syawal #ramadan #Amaliyah