Oleh: Aprianus Paskalius Taboen, S.Pd., M.Si*
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah independent woman atau perempuan mandiri menjadi bagian dari wacana sosial yang populer, terutama di kalangan perempuan urban, kelas menengah, dan kelompok yang memiliki akses terhadap pendidikan serta media digital. Figur ini sering diasosiasikan dengan perempuan yang memiliki penghasilan sendiri, mampu mengambil keputusan tanpa bergantung pada laki-laki, dan memiliki kontrol atas hidupnya. Namun, dalam kerangka sosiologi budaya dan gender, konsep independent woman tidak dapat dipisahkan dari struktur kekuasaan, konstruksi sosial, serta dinamika emosional yang melatarbelakanginya.
Opini ini berupaya memberikan perspektif lain dari fenomena independent woman secara kritis dengan memanfaatkan lensa sosiologi budaya dan sosiologi gender, sembari mempertanyakan: apakah prinsip tersebut merupakan pilihan otonom perempuan atau sekadar bentuk simbolik untuk menutupi kerentanan emosional dan kebutuhan validasi?.
Baca Juga: Tradisi Lebaran di Pontianak: Meriah dalam Dentuman, Hangat Balutan Silaturahmi
Dekonstruksi Ketimpangan dan Representasi Gender
Sosiologi gender memandang bahwa peran dan identitas gender bukanlah sesuatu yang kodrati, melainkan dibentuk secara sosial dan kultural. Judith Butler (1990) dalam Gender Trouble mengemukakan bahwa gender adalah performatif. Artinya, ia dilakukan dan dipertunjukkan secara berulang berdasarkan ekspektasi sosial.
Dalam konteks ini, independent woman bisa dibaca sebagai bentuk performativitas baru perempuan modern, yang berusaha menjauh dari stereotip tradisional seperti “wanita sebagai pendamping pria”, “wanita lemah lembut”, atau “wanita yang bergantung secara ekonomi”. Figur ini mengganggu dominasi maskulinitas dan memunculkan ketegangan dalam tatanan gender yang mapan.
Kemudian, muncul pertanyaan kritis: Apakah perempuan benar-benar menginginkan peran ini secara otonom, atau karena terpaksa oleh sistem sosial yang tidak mampu menjamin kesejahteraannya jika bergantung pada laki-laki?.
Peran sebagai perempuan mandiri bisa dilihat sebagai respons terhadap rapuhnya lembaga sosial seperti pernikahan atau keluarga, yang selama ini menjadi sandaran hidup perempuan. Jika lembaga-lembaga ini gagal memberikan rasa aman, keadilan, atau pengakuan, maka menjadi mandiri, baik secara ekonomi, sosial, maupun emosional menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Perempuan bisa merasa bangga karena mandiri, tapi di saat yang sama juga merasa terbebani secara emosional dan sosial karena ekspektasi itu.
Fenomena perempuan mandiri bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ada perempuan yang secara sadar memilih untuk mandiri sebagai bentuk identitas dan upaya mengatur hidupnya sendiri. Namun, di sisi lain, ada juga yang memilih menjadi mandiri karena gambaran ketimpangan dalam masyarakat di mana banyak perempuan merasa kecewa atau takut untuk bergantung pada laki-laki, terutama karena maraknya kasus yang menimbulkan ketidakpercayaan dan kekhawatiran tersebut.
Baca Juga: Jalan Tol IKN Seksi 3B-2 Capai 60,77%, Siap Rampung 2027!
Representasi, Konsumsi Simbolik, dan Kapitalisme
Dalam perspektif sosiologi budaya, seperti dikemukakan oleh Pierre Bourdieu, identitas sosial terbentuk melalui konsumsi simbolik dan habitus yang dilembagakan dalam struktur sosial. Independent woman dalam banyak hal telah direpresentasikan secara luas dalam budaya populer misalnya lagu-lagu Beyoncé, iklan produk kecantikan, bahkan dalam narasi drama Korea maupun film Hollywood.
Perempuan yang “independen” tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga fashionable, berpendidikan, memiliki mobilitas tinggi, dan tampak self-sufficient. Figur ini menjadi simbol aspiratif sekaligus komoditas dalam budaya konsumsi kontemporer. Maka, pertanyaan selanjutnya muncul: apakah perempuan benar-benar menginternalisasi nilai-nilai tersebut sebagai kebutuhan aktual, ataukah karena struktur budaya yang memproduksi figur ideal perempuan urban modern secara hegemonik?
Antara Otonomi dan Mekanisme Pertahanan Emosional
Beberapa kajian psikososial menunjukkan bahwa perempuan yang menyatakan dirinya sebagai “independen” seringkali mengembangkan mekanisme pertahanan emosional karena pengalaman traumatis, relasi toksik, atau kekecewaan terhadap institusi patriarki seperti pernikahan. Dalam hal ini, menjadi “independen” adalah bentuk resistensi terhadap luka, sekaligus ruang aman yang menciptakan jarak terhadap ketergantungan emosional.
Fenomena ini dapat dianalisis dengan teori Goffman tentang front stage dan back stage. Di ruang publik (front stage), perempuan menunjukkan identitas kuat, tangguh, dan mandiri. Namun, di ruang privat (back stage), kerapuhan, kesepian, dan kebutuhan akan dukungan emosional tetap menjadi bagian dari pengalaman mereka. Maka, independent woman bukanlah identitas tunggal, melainkan sebuah ambivalensi antara keinginan untuk bebas dan kerinduan akan koneksi emosional yang aman.
Validasi Sosial dan Kebutuhan Eksistensial
Dalam masyarakat digital, eksistensi seringkali dibangun lewat validasi sosial. Narasi perempuan mandiri kerap dijadikan konten yang dikapitalisasi di media sosial, dengan tujuan menciptakan persona yang dikagumi dan dihormati. Namun, apakah ini adalah bentuk autentik dari kebutuhan eksistensial perempuan, atau justru bentuk adaptasi terhadap tuntutan budaya populer?.
Sosiolog seperti Zygmunt Bauman berbicara tentang liquid modernity, di mana identitas menjadi cair dan sangat bergantung pada pengakuan eksternal. Maka, menjadi independent woman tidak hanya soal kemandirian sejati, melainkan juga strategi eksistensial untuk mendapatkan pengakuan dalam masyarakat yang tidak lagi memiliki kepastian dan stabilitas relasional.
Dengan kata lain, kemandirian perempuan terjadi bukan sekadar pilihan ideal, tapi juga menjadi strategi atau jalan lain untuk bisa tetap dihargai dan merasa aman dalam situasi sosial yang sering tidak stabil atau tidak bisa diandalkan.
Baca Juga: Polresta Pontianak Ungkap 23 Kasus Narkotika
Ruang Autonomi dan Kritik Kultural
Fenomena independent woman harus dibaca sebagai konstruksi sosial yang kompleks, yang dipengaruhi oleh struktur gender, dinamika budaya, kebutuhan psikososial, serta logika pasar. Ia bisa menjadi ruang otonomi dan pembebasan perempuan dari ketimpangan struktural, tetapi juga bisa menjadi selubung kultural yang menyembunyikan kerentanan dan kebutuhan akan validasi emosional.
Maka, penting bagi kita untuk tidak meromantisasi atau menghakimi figur ini, melainkan mendekatinya dengan empati dan pemahaman terhadap kompleksitas pengalaman perempuan dalam masyarakat kontemporer. Pertanyaan bukan lagi apakah perempuan benar-benar ingin menjadi mandiri, tetapi sejauh mana masyarakat memberi ruang bagi perempuan untuk memilih baik untuk mandiri, bergantung, atau berada di antara keduanya, tanpa stigma dan tuntutan moral.**
*Penulis adalah dosen sosiologi FISIP Universitas Nusa Cendana.
Editor : Hanif