Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Perempuan dalam Peristiwa Paskah

Hanif PP • Selasa, 22 April 2025 | 10:28 WIB
Kristoforus Bagas Romualdi
Kristoforus Bagas Romualdi

Oleh: Kristoforus Bagas Romualdi*

Dalam kebudayaan Yahudi abad pertama, perempuan menempati posisi sebagai warga negara kelas dua yang sering diabaikan dalam lingkup publik dan religius. Hukum Yahudi saat itu bahkan tidak mengakui perempuan sebagai saksi yang sah di pengadilan, dan suara mereka dianggap kurang bernilai secara sosial. Di tengah kondisi patriarki yang demikian, kisah Injil justru menempatkan perempuan sebagai bagian tokoh dan saksi kunci pada momen-momen paling menentukan dalam peristiwa misi penyelamatan Yesus Kristus, yakni mulai dari perjalanan, kematian hingga kebangkitan-Nya. Injil seolah dengan sengaja menonjolkan keteguhan perempuan, seolah pula hendak mengatakan bahwa iman sejati lahir dari keberanian mengasihi hingga tuntas, bukan dari status gender atau kekuasaan.

Injil mencatat dengan rinci bagaimana perempuan hadir dalam setiap tahap peristiwa Paskah. Sebagaimana tercatat dalam Matius 27:55-56, saat Yesus disalib, mereka kaum perempuan adalah yang bertahan di kaki salib. Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, Salome, dan lainnya menyaksikan kematian Yesus dengan mata mereka sendiri, sebuah tindakan berani mengingat risiko penganiayaan oleh otoritas Romawi atau agama saat itu yang membenci Kristus. Setelah kematian-Nya, dalam Markus 15:47, disebutkan mereka pula lah yang mengikuti Yusuf dari Arimatea untuk memastikan lokasi makam. Mereka juga turut menyiapkan rempah-rempah untuk mengurus jenazah Yesus seperti yang tercatat dalam Injil Lukas 23:56. Bahkan, kebangkitan Yesus pertama kali dinyatakan kepada mereka. Maria Magdalena yang datang ke kubur pada pagi Paskah justru mendapat mandat menjadi “rasul bagi para rasul”, pembawa kabar sukacita yang mengubah sejarah. 

Tidak ada yang kebetulan dalam cara Injil menarasikan peran perempuan. Justru dalam konteks masyarakat yang meragukan kapasitas perempuan, Allah memilih mereka sebagai pembawa kabar terbesar sepanjang masa. Ini adalah paradoks yang disengaja, bahwa kuasa kebangkitan dinyatakan melalui mereka yang dianggap lemah oleh dunia. Perempuan yang suaranya tak didengar di pengadilan, menjadi “saksi utama” di pengadilan Ilahi. Yesus selama pelayanan-Nya pun kerap melibatkan perempuan dalam perumpamaan. Bahkan mengizinkan Maria duduk belajar di kaki-Nya, sebuah tindakan yang melanggar norma patriarki saat itu. Hal ini senada dengan yang pernah ditulis oleh Moltmann-Wendel, bahwa Yesus selalu berkata dalam kualitas yang sama terhadap semua orang (terhadap laki-laki dan perempuan) sebagai manusia.

Dengan memilih perempuan sebagai saksi pertama, Injil tidak hanya mengoreksi ketimpangan budaya, tetapi juga menegaskan bahwa iman tidak bergantung pada status sosial. Perempuan-perempuan itu tidak dihormati karena kedudukan mereka, tetapi karena kesetiaan dan keberanian mereka dalam mengikuti Kristus hingga akhir. Tercatatnya Maria Magdalena dalam sejarah sebagai apostola apostolorum menegaskan perannya sebagai perempuan yang menyampaikan kabar kebangkitan kepada para murid yang kemudian menjadi pemimpin gereja. Ia menjawab secara utuh perutusan Yesus dan mau mengikuti Ia sekaligus menjadi saksi mata kebangkitan serta menjadi pewarta Injil.

Pada akhirnya, kisah perempuan dalam Paskah bukan hanya warisan sejarah, melainkan seruan profetik. Mereka mengajarkan bahwa iman yang otentik selalu inklusif dan bahwa perubahan besar sering dimulai dari mereka yang dianggap “kecil”. Di era ketika perempuan masih berjuang untuk didengar, kisah Maria Magdalena dan kawan-kawannya menginspirasi. Keberanian mereka mengubah dunia, dan suara mereka yang dahulu dianggap tak layak kini bergema sebagai kabar pembebasan bagi semua orang. Paskah mengajarkan bahwa kebangkitan tidak mungkin terjadi tanpa kehadiran perempuan. Maka, mustahil membayangkan gereja atau masyarakat yang menghidupi nilai Kerajaan Allah tanpa memberi ruang bagi perempuan untuk memimpin, bersuara, dan bertumbuh. Kebangkitan Yesus bukan hanya kemenangan atas maut, tetapi juga pengudusan atas setiap insan yang setia, tanpa memandang gender, status, atau latar belakang. Dalam terang Paskah, tak ada lagi diskriminasi yang ada hanyalah manusia baru yang dibentuk oleh kasih dan kesetaraan di hadapan Sang Kebangkitan.**

 

*Penulis adalah dosen Pendidikan Sejarah Universitas Tanjungpura.

Editor : Hanif
#religius #yahudi #perempuan #yesus kristus #Injil #Tokoh #patriarki #Diabaikan #saksi