Oleh: Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA*
Kalimantan Barat memiliki posisi strategis sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, menempati peringkat ketiga setelah Riau dan Kalimantan Tengah. Dengan luas perkebunan sawit yang mencapai lebih dari 1,5 juta hektare, Kalbar menghasilkan limbah yang melimpah, terutama Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS atau Tankos) dan Sabut Buah Sawit (SBS). Sayangnya, limbah-limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal, sering kali hanya digunakan sebagai pupuk kompos, bahan baku matras, atau dibiarkan menumpuk tanpa diolah. Padahal, dengan teknologi yang ada, kedua bahan ini memiliki potensi untuk diolah menjadi kertas selulosa berkualitas tinggi serta berbagai produk turunan bernilai ekonomi.
Pengembangan industri berbasis Tankos dan SBS di Kalbar menawarkan berbagai manfaat yang signifikan. Pertama, pengolahan limbah ini dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah yang substansial. Kedua, industri ini berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak dan retribusi dari sektor pengolahan. Ketiga, pembukaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Terakhir, diversifikasi ekonomi di luar sektor perkebunan konvensional akan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Dalam kajian ini, kami akan mengeksplorasi kelayakan pengembangan industri kertas dari Tankos dan SBS di Kalbar dari berbagai aspek, termasuk ketersediaan bahan baku, teknologi, pasar, keuntungan finansial, penyerapan tenaga kerja, dan strategi pengembangannya.
Ketersediaan bahan baku di Kalbar sangat melimpah, dengan estimasi limbah Tankos mencapai sekitar 230 kg per ton Tandan Buah Segar (TBS). Dengan demikian, setiap tahun, jutaan ton Tankos dan SBS terbuang percuma. Jika diolah menjadi kertas, limbah ini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi petani dan pelaku industri. Keunggulan bahan baku ini terletak pada kandungan selulosa yang tinggi (40-50 persen), yang sangat cocok untuk pembuatan pulp kertas. Selain itu, teknologi ekstraksi yang sudah tersedia, termasuk metode kraft dan penggunaan CaO dari limbah claybath, memungkinkan proses produksi yang efisien dan biaya yang lebih rendah.
Proses pengolahan Tankos dan SBS menjadi kertas berkualitas tinggi dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti pirolisis dan karbonisasi untuk kertas karbon, serta proses kraft yang didukung oleh CaO dari limbah claybath. Pemutihan serat juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk akhir. Produk yang dihasilkan dari proses ini meliputi kertas karbon untuk industri energi, kertas anti-air untuk kemasan makanan, popok bayi, dan pelapis plywood untuk industri kayu.
Dari segi ekonomi, potensi pasar untuk produk kertas berbasis Tankos dan SBS sangat menjanjikan. Permintaan global untuk kertas, termasuk kertas khusus seperti kertas tahan air dan kertas medis, terus meningkat. Selain itu, industri plywood di Indonesia dapat menjadi pasar alternatif untuk produk pelapis plywood. Analisis finansial menunjukkan bahwa biaya produksi per ton pulp berkisar antara Rp5 juta sampai Rp7 juta, sementara harga jual pulp dapat mencapai Rp 10-15 juta per ton, dan harga kertas khusus dapat mencapai Rp20 juta sampai Rp30 juta per ton. Dengan skala produksi yang optimal, ROI (Return on Investment) dapat mencapai 20 persen sampai 25 persen per tahun.
Dampak sosial-ekonomi dari pengembangan industri ini juga sangat signifikan. Industri skala menengah yang memproduksi 50.000 ton per tahun dapat menyerap antara 500 hingga 1.000 tenaga kerja langsung, serta 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja tidak langsung, seperti pekerja pengumpul tankos dan transportasi. Hal ini akan meningkatkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kalbar, yang saat ini berada di angka 67,96 persen. Selain itu, pajak industri dan retribusi ekspor dapat menambah Rp100 miliar hingga Ro200 miliar per tahun ke kas daerah.
Untuk mencapai potensi ini, diperlukan strategi pengembangan yang matang. Pabrik skala kecil dengan kapasitas 10.000 ton per tahun membutuhkan investasi sekitar Rp200 miliar hingga Rp300 miliar, sedangkan skala optimal dengan kapasitas 50.000 ton per tahun memerlukan investasi antara Rp 1-1,5 triliun. Strategi pengembangan yang dapat diterapkan meliputi kemitraan dengan perkebunan sawit untuk memastikan pasokan bahan baku yang stabil, kolaborasi riset dengan perguruan tinggi untuk optimasi teknologi pengolahan, serta insentif fiskal dan kemudahan perizinan dari pemerintah daerah untuk menarik investor. Pemasaran global juga harus diperhatikan, dengan potensi ekspor ke Timur Tengah dan Asia melalui pelabuhan yang ada di Kalbar.
Strategi pembentukan klaster industri kertas berbasis sawit di daerah penyangga seperti Sanggau dan Sintang, mempermudah perizinan, memberikan tax holiday untuk investor pertama, serta sinergi dengan pabrik kelapa sawit untuk pemanfaatan limbah claybath sebagai sumber CaO merupakan strategi yang dapat direkomendasikan kepada pemangku kebijakan.
Secara keseluruhan, kajian pengembangan industri kertas dari tankos dan SBS di Kalbar ini memiliki potensi layak secara teknis, finansial, dan sosial. Dengan bahan baku yang melimpah, teknologi yang tersedia, dan pasar yang luas, industri ini dapat menjadi penggerak ekonomi hijau sekaligus menambah varian baru komoditas ekspor selain CPO (Minyak Sawit Mentah). Dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dan kolaborasi antar-stakeholder menjadi kunci suksesnya. Mari wujudkan Kalbar sebagai pusat industri kertas berbasis sawit terbesar di Indonesia.**
*Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura; Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Kalbar; Ketua DPW HEBITREN Kalbar.
Editor : Hanif