Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menghafal Kalam Ilahi

Hanif PP • Jumat, 25 April 2025 | 11:01 WIB
H. Burhansyah. S Ag, M Pd.
H. Burhansyah. S Ag, M Pd.

Oleh:  H. Burhansyah. S Ag, M Pd.*

Pernahkah kita merenung, betapa mulianya seorang hamba yang hatinya diisi dengan firman Allah? Setiap ayat yang dihafalnya bukan sekadar barisan huruf. Itu adalah kalam Tuhan semesta alam, yang dulu turun dengan kemuliaan, dijaga para malaikat, dan kini disimpan dalam dada seorang manusia biasa.

Ketika seorang mukmin menghafal Alquran, sejatinya ia sedang membangun jembatan langsung dengan Rabb-nya. Ia bukan hanya belajar, tapi dipilih untuk memelihara pesan langit. Dalam diamnya mengulang hafalan, Allah mendengarkan, dan para malaikat mengelilinginya.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman, "Sesungguhnya (ayat-ayat Alquran ini) adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menginginkan surga yang dijanjikan Allah dalam Alquran itu, niscaya ia mengambil Alquran ini untuk menjadi  jalan hidupnya untuk menuju kepada Tuhannya. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."(QS. Al-Insan: 29–30)

Maka, menghafal Alquran bukan sekadar pilihan pribadi. Itu adalah tanda bahwa Allah memberi taufik, membimbing hati, dan memilihnya untuk jalan cahaya. Karena tak seorang pun mampu menempuh jalan itu, kecuali dengan izin dan rahmat Allah. Saat seseorang sedang menghafal Alquran maka saat itu Ia sedang menuliskan cahaya Allah SWT di hatinya. "Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (yaitu Rasulullah), dan Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang-benderang (yaitu Alquran)." (QS. An-Nisa: 174)

Makna “cahaya” dalam konteks Alquran, pertama, menerangi hati yang gelap oleh maksiat dan kebodohan. Kedua, menunjukkan jalan kebenaran di tengah kebingungan hidup. Ketiga, menyinari kehidupan dengan petunjuk yang menenangkan jiwa. Keempat, jadi, ketika kita membaca, menghafal, dan mengamalkan Alquran, kita sedang menyalakan cahaya Allah dalam diri kita sendiri.

Ayat demi ayat menjadi pelita di dunia, dan kelak menjadi mahkota cahaya di akhirat. Sebab Rasul bersabda, "Bacalah dan naiklah..."—derajat surganya setinggi hafalannya. Hafalkanlah Alquran, karena itu bukan hanya amal, itu adalah undangan dari langit untuk menjadi hamba-Nya yang spesial. Hafalkanlah Alquran karena Allah menjanjikan kemudahan kemudahan bagi yang ingin menghafalnya. Qs: Al Qamar ayat 17, 22, 32 dan. 40

 “Sungguh-sungguh, Kami (Allah) Terus menerus akam mempermudah Al quran untuk dihafalkan, dipahami, diamalkan, Maka adakah yang mau menghapalnya? Mempelajarinya? Hafalkanlah Alquran, sebab di dalam "neraka sair" nanti ada manusia  yang menyesal karena melalaikan Alquran.

Qs: Al Muluk ayat 10, "Mereka berkata seandainya dulu Kami mau mendengarkan Al quran atau mau memikirkan (belajar memahami, menghafalkan)  Al quran, tentu tidaklah Kami menjadi Penghuni neraka. Sa'ir."

Hafalkan Alquran karena Allah cemburu dengan kamu yang menggunakan karunia-Nya  berupa perasaan dan akal, penglihatan serta pendengaran tetapi bukan untuk memahami Alquran. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Qs : Al A'raf ayat 179, “Sungguh akan Kami penuhi neraka jahannam dari kebanyakan jin dan manusia, dikarenakan mereka punya hati akan tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat Allah, mereka punya penglihatan tetapi tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, mereka punya pendengaran tetapi tidak digunakan untuk tasmi' atau mendengarkan ayat-ayat Allah, mereka bagai hewan ternak, bahkan lebih sesat dari hewan ternak, mereka adalah orang yang lalai.”

Dengan upaya seseorang  bertekad untuk menghapalkan Alquran, maka si penghafal Alquran akan menjaga untuk disiplin dalam setiap ibadahnya, menjaga kesucian dirinya dengan wudhu dan beristighar. Menjaga ucapan dan perbuatannya agar tidak menyimpang dari Alquran. Menjaga hatinya dari kemusyrikan dan terjaga dari kelalaian dunia. Karena Alquranul Karim tidak betah berada di dalam jiwa dan hatinya yang penuh dosa. Alquran tidak akan menyentuh orang yang hatinya kotor dan Al quran tidak boleh disentuh kecuali oleh seseorang yang disucikan.

 “Maka Aku bersumpah dengan kedudukan bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar jika kamu mengetahui. Sesungguhnya (Alquran) ini adalah bacaan yang sangat mulia. Dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam”. (Qs: Al Waqiah Ayat : 75-80).**

 

*Penulis adalah Ketua PW IKADI Kalbar.

Editor : Hanif
#neraka jahanam #manusia #Malaikat #kalam #jin #Firman Allah #Kemuliaan #hamba