Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Seremonial Tanpa Makna

Miftahul Khair • Kamis, 22 Mei 2025 | 16:49 WIB
Ilustrasi siswa.
Ilustrasi siswa.

Oleh: Nurul Ega Anggraini*

Di setiap tahunnya, kita pasti menyaksikan perayaan kelulusan siswa SMA yang makin mewah, dimulai dari dekorasi mewah di hotel hingga sewa toga dan selempang seperti mahasiswa sarjana. Dari hal tersebut memunculkan pertanyaan penting mengenai makna dan tujuan dari tradisi wisuda itu sendiri.  Apabila ditinjau secara filosofis dan historis,  wisuda  merupakan momen yang bersifat sakral akademik yang umumnya diperuntukkan bagi lulusan perguruan tinggi, sebagai tanda bahwa mahasiswa telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi. Namun, mengapa wisuda digunakan juga di tingkat SMA? Tentunya hal ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dapat kita lihat melalui pendekatan filsafat.

Dalam bidang filsafat pendidikan, persoalan ini dapat dilihat berdasarkan tiga aspek utama yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dari aspek ontologi, hakikat wisuda merupakan bentuk pengakuan akademik atas perjalanan mahasiswa dilihat dari proses berpikir ilmiah, penelitian, maupun kedewasaan intelektual. Dapat dikatakan bahwa wisuda menjadi perpindahan identitas keilmuan dari pembelajar ke praktik di dunia nyata, bukan hanya sebagai tanda ‘kelulusan’ semata. Maka, ketika wisuda diperuntukkan pada anak SMA, tanpa adanya muatan keilmuan yang sepadan maka esensinya pun akan tergerus.

Selanjutnya dari aspek epistemologi mengenai bagaimana wisuda ini diciptakan dan disebarkan, sepertinya terjadi pergeseran makna dikarenakan adanya pengaruh media sosial ataupun tren. Masyarakat awam memahami wisuda sebatas menciptakan kenangan terakhir, gaya berpakaian, atau momen viral, bukan sebagai hasil dari proses ilmiah yang lebih mendalam. Diperlukan kesadaran bahwa budaya seremonial dalam pendidikan termasuk permasalahan wisuda di tingkat SMA semakin menunjukkan pergeseran orientasi pendidikan dari makna ke bentuk, serta dari isi ke tampilan. Hal tersebut menjadi tantangan dalam meningkatkan kesadaran akan hakikat pendidikan yang sejatinya bersifat transformasional dan intelektual, bukan sekedar seremonial.

Selain itu, jika dilihat dari aspek aksiologi yakni mengenai nilai guna suatu hal, kita perlu bertanya apa nilai moral, intelektual, maupun sosial dari perayaan wisuda siswa SMA? Apakah benar pernyataan bahwa wisuda dapat memberikan makna yang mendalam bagi siswa atau hanya sekedar ikut-ikutan tanpa memahami maknanya. Maka dari itu, aspek aksiologi ini menunjukkan pada pemanfaatan ilmu dan pendidikan sebagai alat membentuk individu yang lebih baik, bukan sekedar memberikan perasaan senang atau bahagia yang berlebihan.

Makna wisuda semakin mengarah kepada ritual emosional serta tampilan visual yang terlihat ketika siswa sibuk memilih warna toga, latar foto aesthetic, dan menyewa aula megah, dibandingkan merefleksikan proses belajarnya selama tiga tahun. Permasalahan tersebut diperkuat dengan adanya peran media sosial yang membentuk standar baru yang memperlihatkan bahwa tanda ‘kelulusan’ harus dirayakan dengan gaya dan kemewahan. Alih-alih sebagai tolak ukur menuju fase kedewasaan intelektual, perayaan tersebut menjadi ajang konsumtif yang tidak berhubungan dengan capaian akademik siswa.

Mirisnya masih banyak orang yang menganggap bahwa permasalahan tersebut sebagai bentuk motivasi atau penghargaan bagi siswa. Padahal, penghargaan yang sesungguhnya justru terlihat pada bagaimana kita dibimbing di sekolah untuk mampu atau bisa bernalar kritis, bertanggung jawab secara moral, serta mampu menghadapi perubahan sosial dan tantangan zaman dengan bijak. Seremonial tanpa makna bisa menjauhkan siswa dari tujuan pendidikan yang membentuk karakter dan kecakapan hidup.

Apabila ditinjau dari bidang sosial pun, kemewahan dalam perayaan kelulusan dapat memunculkan kesenjangan sosial antarsiswa. Disebabkan tidak semua keluarga berasal dari kalangan menegah ke atas, sehingga tidak semua keluarga mampu mengikuti standar perayaan kelulusan yang semakin tinggi. Adanya kesenjangan tersebut akan menciptakan rasa tidak nyaman bagi sebagian siswa, sehingga tumbuhnya rasa iri, minder, atau bahkan merasa tidak pantas untuk dihargai karena tidak bisa mengikut tren tersebut dan bisa saja melakukan sikap yang menyimpang agar tetap bisa mengikuti perayaan kelulusan tersebut. Maka dari itu, permasalahan perayaan kelulusan ini yang awalnya ingin menciptakan kebersamaan dan kenangan manis, dapat berbanding terbalik.

Dari permasalahan diatas, semestinya kita kembali melakukan refleksi atas proses transisi pendidikan ini dibentuk. Jika ingin memberikan kesan atau kenangan yang manis, sebaiknya dikemas secara edukatif, tidak hanya bersifat simbolik dan seremonial. Seperti mengadakan panggung refleksi bersama siswa, guru, maupun orang tua mengenai perjalanan belajar siswa serta nilai-nilai yang diperoleh selama belajar. Bisa juga diadakannya pameran atau pertunjukkan yang menampilkan capaian belajar dan keunikan setiap siswa.

Pendidikan bukan sebagai panggung sandiwara yang hanya mementingkan kemasan daripada isi. Pendidikan sejatinya berperan sebagai jalan sunyi menuntun setiap individu  dalam membentuk kesabaran, ketekunan, dan penghayatan terhadap nilai-nilai kehidupan. Jika wisuda dilihat atau dijadikan sebagai titik puncak dari sebuah proses pendidikan, hendaknya juga memuat kualitas proses itu sendiri, tidak hanya soal lulus, melainkan juga bagaimana lulus dengan pemahaman, kesadaran, dan tanggung jawab. Akan lebih baik apabila pihak sekolah berkolaborasi dengan orang tua untuk mengedukasi siswa tentang makna sebenarnya dari kelulusan dan transisi pendidikan. Menyampaikan bahwa lulus SMA bukan sebagai jalan terakhir yang harus dirayakan secara besar-besaran, melainkan sebuah titik awal menuju fase kedewasaan yang lebih nyata mengenai tanggung jawab atas pilihan hidup, menghadapi dunia kerja atau pendidikan lanjutan, dan menjadi warga negara yang berpikir kritis.

Dengan demikian, kita bisa mengembalikan marwah pendidikan yang selama ini mulai ditekan oleh budaya seremonial yang kosong makna. Kita bisa menghindarkan pendidikan dari jebakan visual dan emosional yang semu. Serta hal yang terpenting yakni kita mengembalikan pendidikan pada jalur utamanya yaitu membentuk manusia merdeka secara berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab.**

 

*Penulis adalah mahasiswi PGSD.

Editor : Miftahul Khair
#opini #perayaan kelulusan