Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Merenung Ulang Pendidikan di Antara Struktur dan Agensi

Hanif PP • Selasa, 3 Juni 2025 | 11:24 WIB
Syamsul Kurniawan
Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan*

Hari libur seringkali justru membawa kita pada ruang kosong yang tak nyaman. Pontianak belakangan ini panas sekali. Udara seakan tak bergerak, mengendap seperti pertanyaan-pertanyaan lama yang tak sempat dijawab. Di rumah, rutinitas hanya berputar di sekitar layar, membuka beranda media sosial, membaca kabar singkat dari portal daring, dan mengunduh buku-buku dari repositori bayangan yang terasa lebih seperti pelarian ketimbang pencarian. Namun, justru dari kekosongan ini muncul refleksi yang lebih tajam. Tentang pendidikan. Tentang mengapa, dalam segala kecanggihan zaman, kita masih belum selesai dengan persoalan paling mendasar: bagaimana manusia bertumbuh? Mengapa sistem pendidikan kerap kali terasa seperti ruang sempit yang hanya menampung prestasi, bukan pertumbuhan? Pendidikan seharusnya bukan soal pengisian, melainkan pengembangan. Anak didik bukan benda kosong yang harus diisi dengan informasi. Mereka adalah potensi, daya, kemungkinan.

Tugas pendidikan adalah membimbing daya itu agar tumbuh, berkembang, dan menemukan bentuknya. Guru bukan pusat pengetahuan, melainkan penuntun. Tapi kenyataan berkata lain. Sistem pendidikan kita masih banyak menyandarkan diri pada kompetisi, pada ranking, pada capaian-capaian kognitif yang tidak selalu mencerminkan keseluruhan manusia. Kita mencetak lulusan yang cerdas, tapi seringkali asing terhadap dirinya sendiri.

Undang-undang pun sebenarnya telah meletakkan landasan etis yang kuat. Pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, yang sehat, berilmu, dan mandiri. Tapi, semangat itu tenggelam dalam praktik yang terlalu teknokratis dan kerap kehilangan arah.

Pendidikan yang hanya menekankan sisi akademik adalah pendidikan yang pincang. Ia mengabaikan keutuhan pribadi. Padahal manusia tak hanya hidup dari pengetahuan, tapi juga dari rasa, dari iman, dari tanggung jawab sosial. Pendidikan adalah proses pembentukan kemanusiaan, bukan sekadar penyiapan tenaga kerja.

Kita sedang hidup dalam masa di mana semua berubah cepat: teknologi, budaya, sosial, bahkan identitas. Dalam situasi seperti itu, pendidikan harus menjadi sistem yang terbuka yang sanggup berinteraksi, merespon, dan beradaptasi. Ia tak boleh membatu.

Dalam kerangka pemikiran Anthony Giddens (1995), pendidikan adalah ruang dialektika antara struktur dan agensi. Ia bukan sistem yang menindas individu, tetapi juga bukan medan kosong tempat individu bertindak semaunya. Pendidikan adalah arena tempat manusia dan sistem saling membentuk, saling menggugat.

Struktur pendidikan memang menetapkan kurikulum, standar, evaluasi. Tapi agensi muncul dalam tindakan guru dan murid yang menafsirkannya, menghidupkannya, bahkan mengubahnya. Seorang guru yang menyisipkan empati di sela kurikulum formal sedang merekonstruksi struktur dengan tindakannya.

Agensi itu pula yang membuat pendidikan bersifat dinamis. Ia tak pernah selesai. Ia terus berkembang, menyerap pengaruh sosial, budaya, ideologis, dan spiritual. Pendidikan yang kaku, yang menutup diri dari perubahan, adalah pendidikan yang segera usang.

Dalam masyarakat yang plural dan terus bergerak, pendidikan harus menjadi cermin sekaligus agen perubahan sosial. Ia tidak hanya mentransmisikan nilai-nilai lama, tetapi juga menjadi ladang pembaruan nilai. Pendidikan adalah tempat masa depan dipertaruhkan.

Karena itu, peran masyarakat dalam pendidikan tak bisa dikesampingkan. Bukan sekadar sebagai pengawas atau donatur, tapi sebagai pemilik. Pendidikan yang tidak terhubung dengan komunitasnya hanya akan menciptakan alienasi.

Begitu pula dengan nilai-nilai budaya dan agama. Pendidikan tak bisa steril dari nilai. Sebab manusia bukan makhluk netral. Ia berakar, bertumbuh, dan hidup dalam konteks yang sarat makna. Pendidikan Islam, misalnya, membentuk manusia yang berilmu tapi juga beradab.Yang tidak hanya tahu, tapi juga bertanggung jawab.

Baca Juga: PGRI Pelita Pancasila dalam Mendidik Generasi Emas Indonesia

Tujuan pendidikan bukan hanya mencetak sarjana, tetapi membentuk pribadi yang utuh. Yang

berpikir, merasa, dan bertindak secara etis. Yang menjadikan ilmu sebagai jalan penghambaan, bukan sekadar alat produksi. Dalam konteks itu, pendidikan bukan benda mati. Ia adalah proses hidup yang berlangsung dalam struktur, tapi digerakkan oleh agensi. Tujuannya bukan sekadar hasil akhir, tapi seluruh perjalanan, seluruh tahap yang dilalui oleh anak didik menuju kedewasaan yang paripurna.

Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat selalu beriringan dengan transformasi pendidikan. Kadang direncanakan, kadang datang tiba-tiba, seperti arus budaya luar yang tak bisa dibendung. Pendidikan harus bisa menyaring dan menyusun ulang pengaruh itu, bukan sekadar menolaknya atau menerimanya mentah-mentah.

Kita pernah dan masih berada dalam fase masyarakat ganda: terpisah antara masyarakat dan negara, antara harapan dan kenyataan. Pendidikan, dalam fase ini, seringkali tercerabut dari kebutuhan nyata masyarakatnya. Ia menjadi proyek birokrasi. Namun, harapan tetap ada. Kita menuju masyarakat tunggal, lalu masyarakat etis. Sebuah masyarakat yang dibentuk bukan oleh kekuasaan, tapi oleh kesadaran. Di situ, pendidikan memainkan peran utama sebagai pembangun akal dan nurani.

Masyarakat etis lahir dari pendidikan yang etis. Yang tidak semata mengajar, tapi juga mendengarkan. Yang tidak hanya mengarahkan, tapi juga menyemai. Di sinilah pentingnya guru sebagai pemimpin moral, bukan sekadar petugas administratif.

Pendidikan semacam ini menolak untuk netral. Ia berpihak pada anak didik, pada nilai, pada masa depan yang lebih baik. Ia membangun keberanian untuk bertanya, bukan hanya ketepatan menjawab.

Dalam perspektif strukturasi, keberanian itu muncul dari pemahaman bahwa setiap tindakan

bermakna. Seorang murid yang mengajukan pertanyaan kritis, seorang guru yang membiarkan ruang hening untuk refleksi, adalah tindakan politik. Mereka sedang meretas jalur perubahan.

Pendidikan seperti ini tak selalu populer. Ia tidak menjanjikan hasil cepat. Tapi ia membentuk karakter, membangun keutuhan, menyusun tatanan baru dengan cara yang pelan tapi tahan lama.

Ia tidak tumbuh dari ketakutan, melainkan dari harapan. Harapan bahwa manusia bisa menjadi lebih baik. Bahwa masyarakat bisa lebih adil. Bahwa pengetahuan bisa menjadi cahaya, bukan hanya alat kekuasaan.

Di sinilah, bahkan dalam terik hari dan kesunyian layar laptop, saya percaya bahwa pendidikan tetap penting. Ia tidak selalu gegap gempita, tapi selalu menentukan. Ia adalah titik awal dari masyarakat yang sadar, yang merdeka, dan yang bermartabat. Dan mungkin, dalam keheningan rumah dan panasnya siang hari, pendidikan yang seperti inilah yang layak kita perjuangkan, yang memberi tempat bagi anak untuk tumbuh, bagi guru untuk membimbing, dan bagi masyarakat untuk berubah. Bersama.**

 

*Penulis adalah Wakil Direktur Pascasarajana IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#Ruang Kosong #pendidikan #agensi #hari libur #portal #daring