Oleh: Abdul Hamid*
Tiba-tiba saja teringat dengan selingkuh. Kata yang tampaknya kini sudah diakrabi siswa kelas tujuh ke atas. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh dari bebas, dan cepatnya arus informasi yang masuk ke rumah tangga, grup, kelompok, perkumpulan, majelis, dan entah apalagi namanya, nonstop 24 jam sehari se malam. Apalagi kalau adminnya pun senang dengan berita selingkuh.
Apa itu selingkuh? Kenapa menarik dari remaja sampai yang berusia senja? Cari saja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) edisi cetak ataupun daring. Dalam kamus itu disebutkan bahwa selingkuh itu berarti menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, curang, tidak berterus terang, tidak jujur. Kata ini juga berarti korupsi (menggelapkan uang) atau menyeleweng.
Dalam masyarakat kini, kata selingkuh lebih umum digunakan untuk perbuatan atau kegiatan yang ada kaitannya dengan ketidakjujuran, penyelewengan terhadap pasangan resmi, seperti pacar, tunangan, suami, isteri; memiliki hubungan dengan orang lain. Memang, hubungan resmi tak selamanya berjalan mulus sesuai yang diperkirakan, diharapkan. Selalu ada saja muncul sejumlah persoalan dalam hubungan asmara, percintaan, suami isteri yang tak atau belum terpecahkan dengan gampang, butuh waktu untuk diselesaikan, bahkan mungkin tak terselesaikan.
Dalam satu sumber online disebutkan bahwa selingkuh berasal dari kata bahasa Jawa kuno “singkuh” yang artinya dengan diam-diam atau sembunyi-sembunyi. Jadi, sesuatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain itu, tanpa kejujuran, menyimpang dari yang seharusnya dalam suatu hubungan itulah yang disebut selingkuh.
Ketika terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan kesetiaan bersama dalam sebuah resmi, apapun bentuknya, maka peluang selingkuh dengan orang lain pun akan muncul. Makna sebenarnya selingkuh berarti cukup luas, meskipun dalam keseharian lebih terkait dengan prilaku, perbuatan pasangan sebagaimana disinggung di atas. Bahkan, selingkuh ternyata bisa terjadi juga dengan teman bisnis, atau yang menyangkut hubungan bersama dalam arti luas. Dalam kata ini terkandung pengkhianatan, merusak kepercayaan, kecurangan, serong, penyelewengan, penggelapan, ataupun korup, maaf-bukan kurap, meski yang kurap pun ada juga yang korup.
Tentu saja ada motivasi tertentu dalam perbuatan ini, seperti untuk memperoleh keuntungan moral maupun material, yang mencerminkan ketidak-adilan satu pihak terhadap pihak yang lain karena kepentingan tertentu satu pihak itu. Kalau dibaca berita tentang perselingkuhan, memang umumnya hal ini terjadi karena ketidak-jujuran, atau penyelewengan satu pihak terhadap pihak lainnya.
Kita mengetahui bahwa hubungan antardua pihak yang berbeda, suami dengan isteri, atau kolega bisnis, memang tak selamanya berjalan sebagaimana yang diharapkan, tak mulus; selalu ada saja kerikil atau batu-batu pecah yang berserakan yang membuat teratas tertusuk duri.
Siapapun pada dasarnya membenci perselingkuhan, termasuk yang selingkuh itu sendiri, karena tahu risikonya. Namun, nafsu syahwatnya, entah syahwat cuan, entah syahwat menduduki tahta, entah syahwat seksual, membuat dia “bertekuk lutut”. Ternyata pula, selingkuh itu tampaknya dibutuhkan untuk menguji kejujuran, kesetiaan, kebertanggungjawaban seseorang.
Seorang mantan pejabat disuatu tempat diberitakan selingkuh, korup, puluhan sampai ratusan milyaran rupiah. Pejabat yang lain dikatakan selingkuh dengan memiliki sampai lebih dari sembilan pasangan selingkuhannya, sebagai hasil dari korupsi yang melibatkan atau bekerjasama dengan beberapa pihak, dan teman kerjasamanya itu sendiri sebenarnya juga ikut selingkuh, yang berarti korupsi.
Jadi, selingkuh itu tidak hanya masalah rumah tangga suami isteri, tetapi juga bisa dari “rumah tangga” proyek, walaupun rumah tangga yang satu ini bisa berisi manusia yang bersamaan jenis, sama sama pria atau sama sama wanita, atau pria dan wanita. Bukankah proyek, sebut saja proyek infrastruktur yang sebanyak 13 kategori menurut Griggs itu, bisa menjadi tempat mengatur perselingkuhan-korup?
Kalaulah benar satu alat untuk infrastruktur pendidikan yang harganya sekitar Rp2 juta bisa “disulap” menjadi Rp10 juta sungguh besarnya jumlah hasil cuan perselingkuhan yang terjadi. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka tidaklah mengherankan apabila ada yang mengatakan bahwa, misalnya infrastruktur jalan dan atau jembatan, hanya sekitar 40 persen hingga 60 persen saja yang berwujud dari total biayanya. Bahkan, ada yang mungkin saja fiktif; cuan sudah dibayarkan tetapi proyeknya “gaib”.
Baca Juga: Kawal Program 100 Hari Kerja Norsan-Krisantus, Norsan Apresiasi Perhatian PMII
Memang dampak negatif dari perselingkuhan itu bisa sangat luar biasa. Sebut saja diantaranya merasa terhina/direndahkan, marah, dipersalahkan; kesedihan yang mendalam, kebencian, kekesalan, kekecewaan; dan yang paling tinggi adalah bunuh diri. Bukankah ada berita tentang pejabat muda bunuh diri karena diduga “selingkuh”, dalam arti korup?
Namun, ternyata tampaknya ada juga ya yang merasa lega karena selingkuhan pasangannya ketahuan.
Konon katanya cewek, cowok, suami, iisteri yang suka selingkuh pasti suatu saat akan diselingkuhi. Konon juga, katanya, mereka yang selingkuh, dalam arti korup, itu hidupnya menderita lahir dan batin, meski cuannya tak terhitung banyaknya. Selingkuh itu meski katanya katanya emas, bisa saja emasnya dicampur pasir.**
*Penulis adalah pensiunan PNS dosen Fak. Teknik UNTAN sejak 2020.
Editor : Hanif