Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bekerja adalah Ibadah

Hanif PP • Jumat, 13 Juni 2025 | 10:55 WIB
Sholihin HZ
Sholihin HZ

Oleh: Sholihin Hz* 

Dalam kehidupan sehari-hari, bekerja sering kali hanya dimaknai sebagai aktivitas mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup. Pandangan sempit ini membuat sebagian orang menganggap pekerjaan hanyalah rutinitas duniawi yang terpisah dari nilai-nilai spiritual. Padahal, dalam pandangan Islam yang holistik, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bisa menjadi bentuk ibadah apabila dilandasi niat yang benar dan dilakukan dengan cara yang halal serta bertanggung jawab.

Prof. M. Quraish Shihab, seorang cendekiawan Muslim dan pakar tafsir Alquran terkemuka di Indonesia, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Beliau memaparkan bahwa ibadah dalam Islam bukan hanya salat, puasa, zakat, atau haji, tetapi juga meliputi segala aktivitas yang dilakukan karena Allah dan untuk kemaslahatan umat manusia. Dalam satu penjelasannya, beliau menyatakan bahwa bekerja yang dilakukan dengan niat tulus untuk memberi nafkah kepada keluarga, menolong sesama, serta tidak melanggar syariat, merupakan bentuk ibadah yang tidak kalah mulia dibanding ibadah ritual.

Prof. Quraish Shihab juga menegaskan bahwa dalam Alquran, manusia didorong untuk beramal dan berusaha. Dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Jumu'ah ayat 10, "Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah..." dijelaskan bahwa ayat ini mengandung dorongan kepada umat Islam untuk bekerja setelah menunaikan kewajiban spiritual. Menurut beliau, ini menunjukkan bahwa ibadah dan kerja saling melengkapi. Salat menyucikan jiwa dan memperkuat niat, sedangkan bekerja mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bentuk konkret yang membawa manfaat sosial.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa salah satu bentuk ibadah tertinggi adalah ketika seseorang bekerja dengan penuh amanah dan profesional. Ia mengatakan, “Jika bekerja dilakukan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan memberikan manfaat bagi orang lain, maka pekerjaan itu menjadi ibadah yang sangat mulia.”

Dalam pandangannya, kesungguhan dan etika kerja mencerminkan kedekatan seseorang dengan Allah, karena Allah mencintai hamba-Nya yang kuat dan bersungguh-sungguh, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakannya." (HR. Thabrani).

Maka, bekerja tidak boleh dipandang remeh. Seorang petani yang mencangkul ladangnya demi memberi makan keluarganya dengan makanan halal, seorang guru yang mengajar dengan niat mencerdaskan generasi, atau seorang pegawai yang melayani masyarakat dengan jujur, semuanya berpotensi mendapatkan pahala seperti halnya orang yang berzikir di masjid, selama mereka menjaga niat dan etika sesuai ajaran agama.

Di zaman modern ini, sering kali pekerjaan menjadi sumber stres dan tekanan karena orientasinya semata-mata pada materi. Jika kita kembali pada esensi bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, maka beban itu bisa berubah menjadi sumber ketenangan. Bekerja menjadi jalan mendekat kepada Allah, sarana mewujudkan nilai keadilan dan kasih sayang dalam masyarakat, serta bentuk nyata dari peran khalifah di muka bumi.

Sebagai penutup, penting bagi kita untuk selalu memperbaiki niat dalam bekerja. Dengan menjadikan pekerjaan sebagai ladang ibadah, kita tidak hanya mencari nafkah tetapi juga menapaki jalan menuju ridha Allah. Seperti yang dikatakan Prof. Quraish Shihab, “Kita tidak pernah tahu amalan mana yang paling dicintai Allah. Bisa jadi bukan salat malam atau puasa sunnah, tetapi keringat yang menetes karena mencari rezeki halal yang menjadi ibadah sejati.”**

 

*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak; Penulis Buku “Rumus Hidup Bahagia”.

 

Editor : Hanif
#ibadah #zakat #salat #puasa #Nafkah #haji #bekerja dalam islam