Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Optimalisasi Perpustakaan Sekolah

Hanif PP • Rabu, 18 Juni 2025 | 11:16 WIB
Ahmad Yazid
Ahmad Yazid

Oleh: Ahmad Yazid*

Pada tahun 2009, Christopher Dowrick dan tim penelitinya di Liverpool membentuk kelompok baca bagi penderita depresi. Selama satu tahun, dua kali seminggu, para partisipan di kelompok tersebut membaca, mendiskusikan, serta merefleksikan buku-buku prosa dan puisi dengan didampingi oleh seorang fasilitator

Hasilnya, membaca dan mendiskusikan buku-buku prosa dapat memberikan ketenangan dan meningkatkan kemampuan reflektif para partisipan. Sementara itu, membicarakan buku-buku puisi dapat meningkatkan konsentrasi mereka sehingga mereka mampu hadir sepenuhnya (mindful) dalam aktivitas yang sedang diikuti, terutama saat berdiskusi di kelompok baca.

Selain itu, program ini juga mampu meningkatkan kualitas relasi sosial para pesertanya. Di dalam kegiatan, mereka belajar untuk saling bertukar ide, pikiran, dan perasaan, serta mendengarkan dan mendukung pendapat anggota lain mengenai buku yang sedang dibahas. 

Seluruh perubahan yang diberikan oleh buku dan kelompok baca, ketenangan, kemampuan reflektif, hadir secara penuh dalam suatu aktivitas (mindful), kesediaan untuk mendukung dan bekerjasama terbukti mampu mengurangi gejala depresi para partisipan (Christopher Dowrick, dkk., 2012).

Penelitian sederhana ini memperluas wawasan kita mengenai manfaat membaca buku, bahwa membaca buku tidak hanya sekadar untuk menajamkan pikiran dan menambah pengetahuan. Lebih dari itu, membaca buku juga dapat menjadi medium untuk meningkatkan kemampuan sosial hingga mengobati gangguan mental.

Di saat negara lain sudah merasakan berbagai manfaat dari membaca buku, kita di Indonesia masih berkutat dengan perjuangan menumbuhkan minat baca. Hari ini, perjuangan itu tampaknya semakin berat. Sebab, sebagian besar masyarakat kita juga tengah berjuang menghadapi tekanan ekonomi.

Bagaimana mau membeli dan membaca buku, memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja masih sulit. Ditambah lagi, harga buku terus naik setiap tahunnya sehingga buku telah dianggap sebagai “barang mewah” yang entah kapan bisa dibeli dan dibaca.

Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat baca, paling tidak untuk tahap awal, kita tidak bisa memulainya dari toko buku, melainkan dari perpustakaan. Dari beberapa jenis perpustakaan di Indonesia—nasional, daerah, kota, desa, hingga sekolah, perpustakaan sekolah tampaknya yang paling bisa diandalkan untuk meningkatkan minat baca secara lebih luas.

Alasannya, pertama, jumlahnya yang jauh lebih banyak dibanding jenis perpustakaan lainnya (144.191 perpustakaan sekolah pada tahun 2023). Kedua, perpustakaan sekolah hampir merata di tiap wilayah, menyesuaikan keberadaan sekolah di tiap-tiap daerah. Terakhir, target pembacanya dekat, yaitu para siswa yang ada di sekolah tersebut.

Namun, persoalan belum selesai. Perpustakaan sekolah, meskipun sudah tersedia hampir di setiap sekolah, ia masih belum berjalan optimal. Jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan sekolah masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan jumlah kunjungan mereka ke kantin dan toilet. 

Menurut penulis, rendahnya minat siswa untuk mengunjungi, membaca, dan meminjam buku di perpustakaan sekolah salah satunya disebabkan oleh pembelajaran di kelas yang sering kali tidak terhubung dengan perpustakaan sekolah. Di lingkungan sekolah, guru dan siswa cenderung membatasi proses pembelajaran hanya di dalam kelas. Aktivitas belajar di kelas biasanya berpusat pada buku paket atau buku LKS, baik sebagai sumber tugas maupun jawaban.

Opsi guru untuk mencukupkan pembelajaran hanya di kelas bukan tanpa alasan. Guru-guru jarang mengandalkan perpustakaan sekolah karena buku-buku di perpustakaan kurang memadai untuk mendukung pembelajaran di kelas.

Sejauh ini, koleksi buku di perpustakaan didominasi oleh buku-buku paket pelajaran, buku yang juga dipegang oleh guru dan siswa di kelas, dan buku-buku yang kurang relevan dengan materi pembelajaran. Alhasil, perpustakaan sekolah tidak terlalu dibutuhkan oleh guru dan siswa.

Mengoptimalkan perpustakaan sekolah

Terbitnya Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah dapat menjadi langkah awal untuk mengoptimalkan kembali perpustakaan sekolah. Di dalamnya diatur bahwa untuk buku-buku di perpustakaan sekolah mestilah terdiri dari buku teks utama pelajaran dan buku pengayaan untuk pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Jika kita ingin mengaktifkan hubungan antara pembelajaran di kelas dan perpustakaan sekolah, maka untuk buku-buku pengayaan di perpustakaan, kita mesti menyediakan buku-buku yang dapat memperkaya pembelajaran di kelas. Untuk itu, guru bersama petugas perpustakaan perlu mendata materi-materi pembelajaran yang diajarkan di kelas. Setelahnya, petugas perpustakaan dan bendahara sekolah bekerja sama untuk menyediakan buku-buku tambahan yang diperlukan. 

Ketika buku-buku pengayaan yang relevan dengan pembelajaran tersedia di perpustakaan sekolah, para guru dapat memvariasikan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti perguruan tinggi, di beberapa pertemuan, para guru dapat memulai pembelajaran dengan memberikan pertanyaan, masalah, kasus, atau tugas yang harus dipecahkan oleh peserta didik melalui buku-buku pengayaan yang telah disediakan di perpustakaan.

Tentu metode ini tidak bisa dilakukan setiap hari oleh semua guru di sekolah, mengingat banyaknya rombongan belajar di suatu sekolah dan terbatasnya ruangan di perpustakaan. Agar tertib dan efektif, jadwal kunjungan perlu dibuat. Dalam menyediakan buku-buku di perpustakaan, petugas perpustakaan dan pihak sekolah juga mesti selektif. Sebab, tidak semua buku yang terbit, kualitasnya baik. Ada banyak buku yang ditulis dan diterbitkan dengan asal-asalan. Buku seperti ini tidak hanya membosankan, tapi juga dapat membuat anak trauma dengan aktivitas membaca buku.

Selain itu, buku-buku yang ramai dibahas dan direkomendasikan oleh para pembaca buku juga layak untuk ditambahkan ke perpustakaan sekolah. Sebab, buku-buku yang terkenal ini biasanya punya daya yang luar biasa untuk membuat pembaca baru mencintai buku.

Inilah upaya yang sejauh ini cukup realistis untuk mendongkrak minat baca di tengah beratnya tekanan ekonomi yang menimpa masyarakat kita. Optimalkan perpustakaan sekolah: sediakan buku-buku yang relevan dengan pembelajaran di kelas, hubungkan pembelajaran di kelas dengan perpustakaan, lalu selipkan buku-buku luar biasa yang mampu membuat mereka menjadi para pencinta buku.**

 

*Penulis adalah guru SD Negeri 28 Pontianak Kota.

Editor : Hanif
#penelitian #perpustakaan sekolah #Mindful #puisi #Optimalisasi #liverpool #Prosa