Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Membangun Moral Bangsa melalui Filsafat Ki Hadjar Dewantara dan Pancasila

Miftahul Khair • Rabu, 18 Juni 2025 | 14:02 WIB
Ilustrasi pendidikan karakter.
Ilustrasi pendidikan karakter.

Oleh: Feni Ekawati*

 

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk kepribadian individu dan menentukan jalur perkembangan suatu negara. Pendidikan bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga merupakan proses dalam menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan budaya kepada generasi penerus bangsa. Khususnya untuk anak-anak, pendidikan sangat penting dalam membentuk pola pikir, tingkah laku, serta cara mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pendidikan yang baik tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga yang dapat membentuk manusia berintegritas, berjiwa sosial, dan memiliki komitmen terhadap kemanusiaan.

Namun, dalam beberapa waktu belakangan ini, kita melihat kecemasan yang besar mengenai menurunnya moral di kalangan anak muda Indonesia. Kasus seperti perundungan di sekolah, intoleransi, kurangnya rasa hormat kepada sesama dan yang lebih tua, hingga aksi kekerasan menunjukkan adanya masalah serius terkait moral dalam dunia pendidikan. Fenomena ini mencerminkan adanya ketimpangan antara perkembangan kognitif siswa dengan kualitas karakter yang mereka miliki. Pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada pencapaian akademik dan penguasaan teknologi, melainkan juga harus bisa untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan yang dapat membentuk sikap dan perilaku siswa.

Sebagai solusi untuk masalah ini, Indonesia sebenarnya memiliki dua warisan berharga yang bisa dijadikan rujukan utama dalam merancang pendidikan yang bermoral, yakni pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Pancasila. Kedua dasar ini bukan hanya bernilai historis, tetapi juga mengandung pandangan yang besar tentang pendidikan yang membebaskan, memanusiakan, dan mempersatukan.

Ki Hadjar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, memiliki pandangan yang sangat maju mengenai pendidikan. Beliau berpendapat bahwa pendidikan bukan hanya merupakan cara untuk menghasilkan pekerja atau warga negara yang patuh, melainkan sebagai sebuah proses yang memerdekakan manusia agar mampu berpikir, merasa, dan bertindak dengan rasa tanggung jawab. Dalam semboyannya yang terkenal, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” Ki Hadjar Dewantara menekankan peran penting pendidik dalam pendidikan sebagai teladan, pembimbing, dan pendorong. Konsep ini menempatkan guru tidak hanya sebagai orang dewasa yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sosok yang turut terlibat dalam membentuk karakter anak didiknya melalui keteladanan dan kasih sayang.

Filsafat Ki Hadjar Dewantara juga sangat menekankan betapa pentingnya pendidikan yang kontekstual dan berakar pada kebudayaan lokal. Beliau mencetuskan pendidikan sebagai “taman” yang menyenangkan, tempat dimana anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman mereka. Melalui pendekatan ini, anak-anak diharapkan mampu menjadi individu yang kompetitif secara global, sekaligus tetap mencintai tanah air dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Filsafat Ki Hadjar Dewantara sejatinya sejalan dengan Pancasila yang memberikan arah dan menjadi fondasi sistem pendidikan di Indonesia. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila yaitu keimanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial, sepatutnya diimplementasikan dalam setiap aspek pendidikan, baik dalam kurikulum, kebijakan, maupun praktik di lapangan.

Saat menggabungkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan nilai-nilai Pancasila, terdapat peluang besar untuk memperbaiki moralitas bangsa yang terdampak oleh modernisasi. Keduanya aspek ini dapat saling melengkapi, yang satu fokus pada metode dan pendekatan pendidikan berbasis kebudayaan lokal serta karakter, sementara yang lain menekankan pada  nilai-nilai universal yang perlu dijunjung tinggi oleh setiap warga negara. Dengan memanfaatkan keduanya sebagai dasar maka pendidikan di Indonesia akan bisa menghasilkan generasi muda yang bukan hanya berprestasi secara akademik tetapi juga berbudi luhur, dan memiliki kesadaran berbangsa.

Lebih jauh lagi, jika kedua hal tersebut diterapkan sebagai dasar dalam sistem pendidikan, maka praktik pendidikan akan lebih memperhatikan potensi serta karakter anak-anak. Hal ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi mereka untuk mengembangkan bakat dan minat tanpa merasa tertekan. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita untuk merevisi arah pendidikan nasional dengan menempatkan nilai-nilai dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Pancasila di inti pendidikan. Guru seharusnya tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagi pendidik yang menjadi teladan hidup. Kurikulum seharusnya bukan hanya berisi materi pelajaran, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai. Dan sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga komunitas yang membentuk kebiasaan hidup yang baik.

Maka dari itu, pendidikan harus kembali kepada esensinya sebagai proses untuk memanusiakan manusia. Pendidikan sejatinya tidak hanya melahirkan generasi muda yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga menjunjung tinggi nilai moral, etika, dan semangat kebangsaan. Ki Hadjar Dewantara telah menunjukan arah, dan Pancasila telah menyediakan landasannya. Kini, tugas kita adalah mewujudkan pendidikan yang tidak hanya sekedar mencerdasakan, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai kehidupan. Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh budaya luar, moral bangsa kita tidak boleh terombang-ambing. Karena tanpa moral, ilmu akan kehilangan arah. Maka dari itu, mari kita jadikan pendidikan sebagai ladang menumbuhkan karakter dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, agar negara kita tidak hanya maju dalam teknologi tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan bermartabat.**

 

*Penulis adalah mahasiswa PGSD FKIP Untan.

Editor : Miftahul Khair
#opini #ki hajar dewantara #moral bangsa #pancasila