Oleh: Sihabuddin*
Fenomena kunjungan turis asing ke Thailand dalam beberapa tahun terakhir sangat menarik untuk dibahas. Negara yang berada di Asia Tenggara ini pada tahun 2024 menjadi jawara dengan mengungguli tetangga-tetangganya dalam urusan pariwisata. Bahkan, negara yang disebut sebagai Negeri Gajah Putih ini dinobatkan sebagai sepuluh negara yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia. Thailand berada di posisi delapan dengan 39,8 juta pengunjung. Untuk kawasan Asia, Thailand berada di posisi ketiga di bawah China dan Turki. Tentu dengan prestasi ini Thailand patut berbangga diri karena berhasil menarik turis asing dari berbagai belahan dunia untuk berkunjung ke negaranya.
Selain Thailand, ada Malaysia yang merupakan negeri serumpun Indonesia ini mencatat prestasi yang tidak kalah menarik untuk dibahas dalam dunia pariwisata. Malaysia berada posisi kedua pada tahun 2024 sebagai negara yang paling banyak dikunjungi turis asing. Bahkan, pada tahun 2023 sempat menggeser Thailand sebagai negara yang selalu paling banyak dikunjungi di Asia Tenggara di tahun-tahun sebelumnya. Negara yang menjadikan “Malaysia Truly Asia” sebagai jargon pariwisatanya ini mampu menarik 29 juta wisatawan asing untuk berkunjung ke negaranya pada tahun 2023.
Bagaimana dengan Indonesia sebagai negara paling luas di Asia Tenggara? Di peta Asia Tenggara luas wilayah Indonesia paling mencolok daripada negara-negara Asia Tenggara lainnya. Karena memang wilayah Indonesia jauh lebih luas daripada negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Prestasi Indonesia dalam hal kunjungan pariwisata kalah jauh dari kedua negara tersebut. Pada tahun 2024 Indonesia berada di posisi ke lima dengan hanya menerima 6,4 juta kunjungan wisatawan asing. Hal ini jauh di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam dan Singapura. Pun di tahun 2023 Indonesia nyaman berada di posisi ke lima Indonesia dengan hanya menerima 11,7 juta wisatawan asing di bawah Malaysia, Thailand, Singapura dan Vietnam.
Melihat jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia dalam dua tahun terakhir dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya sungguh sangat ironis melihat Indonesia yang sangat kaya akan sumber daya pariwisata. Sebagai salah satu negara terluas di Asia dan paling luas di Asia Tenggara dengan sejarah yang panjang dan dihuni lebih dari 1.300 suku dengan budaya yang berbeda-beda serta kondisi geografis yang sangat lengkap dan cantik-cantik tentu menjadi pertanyaan, “Kok bisa jumlah kunjungannya kalah jauh dari negara-negara tetangganya?” Khususnya pada Thailand dan Malaysia.
Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan panorama alam yang cantik seperti Bali, Lombok, Kepulaun Raja Ampat, Kepulauan Karimun Jawa, Kepulaun Bangka Belitung, Banda Neira, Labuan Bajo dan lain-lain. Disertai dengan budaya yang unik yang telah diakui dunia, yang tidak kalah cantik dengan destinasi wisata di Thailand dan Malaysia. Bahkan, menurut penilaian penulis banyak yang jauh lebih bagus destinasi pariwisata Indonesia daripada kedua negara tersebut. Ada beberapa hal menurut analisis penulis kenapa Thailand dan Malaysia jauh mengungguli Indonesia dalam urusan kunjungan wisatawan mancanegara.
Pertama, Thailand dan Malaysia berada di wilayah yang strategis bisa dilewati jalur darat dari beberapa negara sehingga lebih mudah dikunjungi karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah daripada menggunakan pesawat terbang. Hal ini sangat menguntungkan bagi wisatawan yang ingin berwisata ke luar negeri dengan biaya yang pas-pasan dan waktu yang relatif singkat, setidaknya tidak perlu naik pesawat terbang yang harganya jauh lebih mahal daripada transportasi darat. Sedangkan Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia Timur, Papua Nugini dan Timor Leste yang mana ketiga wilayah ini bukan wilayah ramai bahkan masih dipenuhi hutan lebat.
Tentu berbeda dengan perbatasan antara Malaysia-Thailand dan Malaysia-Singapura yang begitu ramai dengan kondisi penduduk yang dilengkapi dengan infrastruktur modern. Untuk berkunjung ke pariwisata andalan Indonesia seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo dan lain-lain harus menggunakan pesawat terbang atau kapal laut yang tentunya tidak lebih murah dan lebih praktis daripada jalur darat.
Kedua, transportasi dan akomodasi yang mudah di kedua negara tersebut bahkan ada bus yang melayani transportasi langsung tiga negara, yaitu Thailand, Malaysia, dan Singapura. Hal ini memudahkan turis asing untuk mengunjungi tiga negara sekaligus dalam sekali perjalanan wisata. Tentu ini merupakan paket hemat berkunjung ke tiga negara sekaligus.
Maka tidak heran wisatawan asal Malaysia tahun 2024 merupakan yang paling banyak berkunjung ke Thailand setelah China. Sedangkan wisatawan asal Singapura dan Thailand tahun 2024 merupakan wisatawan asing yang paling banyak berkunjung ke Malaysia, Singapura posisi pertama, Thailand posisi ke empat.
Ketiga, pemerintah Thailand dan Malaysia benar-benar serius dalam pengelolaan pariwisata. Hal ini bisa dibuktikan dengan memberikan bebas visa bagi warga negara China oleh pemerintah Thailand dan Malaysia untuk berkunjung ke negaranya. Pemberian bebas visa bagi warga China merupakan strategi yang tepat melihat China memiliki populasi lebih dari satu miliyar dengan kemajuan ekonomi yang begitu pesat.
Maka tidak heran wisatawan asal China menduduki posisi pertama di Thailand dan posisi ke tiga di Malaysia. Selain itu pemerintah Thailand & Malaysia benar-benar mempercantik diri untuk wilayah-wilayah strategis dikunjungi dengan mudah. Misalnya, Kota Hat Yai di Selatan Thailand yang didesain nyaman dikunjungi dengan berjalan kaki. Kota tersebut bersih, teratur dan tidak macet. Maka tidak heran banyak wisatawan asal Malaysia di kota ini karena ada bus langsung dari Malaysia ke kota Hat Yai. Sedangkan Malaysia mempercantik Johor dan memberikan akses yang mudah dan nyaman bagi warga Singapura sehingga banyak wisatawan asal Singapura di kota ini.**
*Penulis adalah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Biodata Penulis
Nama : Sihabuddin
Instansi : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta.
No HP : 08977324951
Editor : Hanif