Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menata Arah Saat Muharram Datang

Hanif PP • Kamis, 3 Juli 2025 | 09:39 WIB
Eva Afifah Muyassarah, S. Ag
Eva Afifah Muyassarah, S. Ag

Oleh: Eva Afifah Muyassarah, S. Ag.*

Hari berganti hari. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Pagi-pagi sibuk di dapur, antar anak sekolah, lanjut urusan rumah, kerja, rapat, bantu tetangga, atau dampingi pasangan. Sore menjelang malam, badan sudah letih, kadang hanya sempat rebah sebentar sambil memejamkan mata. Lalu bangun, dan ternyata tahun berganti.

Muharram datang mengetuk. Bukan dengan sorak sorai atau kembang api, tapi dengan bisikan lembut dari langit, “Sudahkah kamu menengok hatimu hari ini?”

Sudahkah langkah ini semakin dekat kepada Allah? Atau justru makin menjauh, terbawa rutinitas yang kita jalani tanpa arah? Ketika Sayyidina Umar bin Khattab menetapkan kalender Hijriah, beliau tidak memilih hari kelahiran Rasul atau turunnya wahyu pertama. Beliau justru memilih peristiwa hijrah. Karena dalam hijrah ada makna perubahan, perjuangan, dan arah baru menuju Allah.

Hijrah bukan soal pindah tempat. Tapi soal pindah hati. Dari takut menjadi yakin. Dari zona nyaman menuju zona iman. Dari sibuk dunia menjadi rindu akhirat.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Asy-Syams. “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Hijrah hari ini bisa sesederhana niat salat tepat waktu, menjaga lisan dari menyakiti, belajar menahan amarah, atau membaca satu ayat Al-Qur’an sebelum tidur. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim, “Hakikat hijrah adalah meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai Allah.”

Bulan Muharram juga mulia. Mari kita hidupkan dengan puasa sunnah, seperti puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Rasulullah bersabda, “Puasa pada hari Asyura menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, no. 1162)

Ada kisah indah dari Fudhail bin Iyadh. Dulu seorang perampok yang ditakuti. Tapi suatu malam ia mendengar ayat ini, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16).

Fudhail pun menangis dan berkata, “Sudah waktunya aku kembali.”

Ia pun bertaubat, meninggalkan dunia kelamnya, dan menjadi ulama besar. Namanya harum hingga kini. Bukti bahwa perubahan itu mungkin, kapan saja. Asal kita mau mulai.

Sekarang, mari tanya diri kita sendiri, apakah niat sudah ada tapi masih tertunda? Ingin berubah tapi sering tergoda? Pengen hijrah tapi suka nunggu mood?

Kata Imam Al-Ghazali, “Yang jauh dari Allah bukan karena jarak, tapi karena hati yang tidak mendekat kepada-Nya, walaupun tubuhnya tampak taat.”

Ayo kita mulai. Pelan-pelan, tapi pasti. Cukup niat yang tulus dan satu langkah kecil yang istiqamah.

Mulailah dari satu rakaat sunnah sebelum Subuh. Menahan emosi saat marah. Minta maaf duluan.

Sedekah seribu rupiah. Baca satu ayat Alquran sebelum tidur.

“Kalau belum bisa lari, berjalanlah. Kalau belum bisa berjalan, tetaplah menghadap. Karena Allah menilai arah, bukan kecepatan.”

Semoga pergantian tahun ini bukan hanya soal kalender. Tapi juga perubahan dalam diri. Semoga niat-niat baik yang selama ini hanya terlintas di hati, tahun ini benar-benar dijalani.**

 

*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pontianak Kecamatan Pontianak Selatan.

Editor : Hanif
#rutinitas #tanggung jawab #muharram