Oleh: Adityo Darmawan Sudagung*
Selang setahun, Bandara Supadio kembali berhak menyematkan kata internasional pada namanya. Perayaan peningkatan status tersebut dilakukan dengan meriah pada 4 Juni 2025. Walau demikian, untuk beroperasi kembali melayani rute penerbangan internasional, masih diperlukan izin penerbangan dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Selama masa tunggu tersebut, pihak Malaysia sudah bertandang menemui Gubernur Kalimantan Barat guna membahas tindak lanjut kembalinya status internasional dari Bandara Supadio pada tanggal 23 Juni 2025. Keaktifan Konsulat Jenderal Malaysia untuk Indonesia di Pontianak sudah terlihat dari beberapa pertemuan dengan Gubernur Kalimantan Barat pada Maret 2025 serta sebelumnya membawa delegasi asal Malaysia bertemu PJ Walikota Pontianak pada September 2024. Selain itu, ketertarikan Malaysia atas Kalimantan Barat dan Kalimantan pada umumnya juga didasari pada minat mereka mempromosikan diplomasi kesehatan Sarawak dan terlibat aktif pada proyek pembangunan Nusantara di Kalimantan Timur. Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, juga telah menyampaikan kesiapan Kalimantan Barat beserta masyarakatnya untuk menghidupkan kembali rute penerbangan internasional ke Kuching dan Kuala Lumpur. Kesempatan bepergian ke Malaysia yang dalam beberapa tahun terakhir hanya bisa dilakukan secara langsung via darat tentu juga akan disambut oleh masyarakat dengan suka cita.
Bermimpi Besar Terbang dari Supadio ke Penjuru Dunia
Namun, di balik suka cita tersebut, penulis teringat beradu pandangan dengan netizen yang skeptis akan potensi kemajuan dari kembalinya status bandara internasional. Saat itu penulis ikut berkomentar di akun sosial media pribadi Gubernur Kalimantan Barat pada tanggal 10 Juni 2025. Komentarnya sederhana, berisi mimpi besar buat perkembangan Kalimantan Barat, “Pontianak-Jeddah atau Timur Tengah lain semoga dibuka, jadi ada akses ke Eropa atau Afrika. Begitu juga Pontianak ke Beijing, Seoul, Taiwan atau Tokyo,” ditambah logo bertepuk tangan sebagai bentuk dukungan.
Komentar penulis disambar dengan skeptisme yang menyebut itu hanya mimpi dan harus menerima kenyataan bahwa Kalimantan Barat itu hanya daerah medioker yang kalah dengan Jawa. Di komentar lain, netizen tersebut juga membandingkan Kalimantan Barat yang dianggapnya masih jauh dari Nusa Tenggara Barat. Baiklah. Penulis pun menyadari, dan begitu dalam komentar balasan kepada yang bersangkutan, bahwa saat ini Kalimantan Barat memang masih betah di peringkat 30 IPM se-Indonesia. Itu fakta. Tak terbantahkan. Kalimantan Barat masih banyak masalah pembangunan infrastruktur, ketimpangan kemiskinan antar daerah, dan klaim negatif lainnya, mungkin juga benar.
Namun, bagi penulis, itu tidak mengurangi kecintaan pada tanah kelahiran. Tidak ada salah pula bermimpi besar: “Kalimantan Barat juga akan tersambung dengan dunia internasional lewat rute penerbangan secara langsung.”
Sudah ada warga Kalimantan Barat yang merasakan merantau ke negara seberang nan jauh itu. Hanya saja, saya dan juga mereka, harus terbang lewat Jakarta menuju negara-negara tujuan perantauan untuk belajar maupun bekerja tersebut. Bayangkan jika suatu saat orang Kalimantan Barat sudah bisa terbang langsung dari Bandara Internasional Supadio menuju destinasi penting di dunia. Tentu konektivitas terbuka, kesempatan kegiatan ekonomi lintas batas meningkat, peluang belajar dari sekolah atau kampus terbaik se-dunia juga jauh lebih mudah, dan juga kunjungan wisatawan mancanegara bisa lebih ditingkatkan.
Mempersiapkan Konektivitas Kalimantan Barat dan Malaysia
Sambil menunggu mimpi itu terwujud, saat ini, Malaysia adalah mitra terdekat Kalimantan Barat. Rute penerbangan yang sedang dinanti izinnya dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia pun adalah dari Pontianak ke Kuala Lumpur dan Kuching. Bagaimana sebaiknya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyiapkan diri dengan rencana dibukanya rute penerbangan internasional tersebut? Penting dipertimbangkan bahwa euforia peningkatan status menjadi bandara internasional, yang nantinya disusul pembukaan kembali rute penerbangan ke Malaysia, jangan hanya dimaknai orang Kalimantan Barat bisa wisata atau kunjungan ke sana. Tapi, harus pula dipikirkan bagaimana menarik lebih banyak orang Malaysia, investasi dari Malaysia, dan ilmu dari Malaysia datang ke Kalimantan Barat. Hubungan bilateral antara dua negara serumpun ini harus dibangun atas dasar kepercayaan bersama dan saling menguntungkan.
Pertama, menyiapkan informasi pariwisata yang terintegrasi dengan informasi transportasi bagi calon wisatawan mancanegara. Kalimantan Barat telah mencatat perkembangan yang pesat di bidang pariwisata, ditandai dengan penghargaan desa wisata yang diterima beberapa desa sejak penyelenggaraan pertama Anugerah Desa Wisata Indonesia di tahun 2021. Promosi pariwisata pasca pandemi juga semakin gencar di kanal media sosial. Namun, keterhubungan antar kota lewat opsi moda transportasi harus dipersiapkan dengan baik. Pengalaman baik para wisatawan akan memberi dampak promosi sukarela yang mereka lakukan di era digital. Tetapi, belajar dari pengalaman beberapa destinasi wisata di Indonesia yang “terkenal” karena ulah segelintir orang, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat perlu mencegah jangan sampai ada oknum yang mempraktikkan pungutan liar atau penipuan-penipuan kepada wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Karena sekali tindakan itu dilakukan dan kemudian jadi viral, akan lama untuk memulihkan kepercayaan publik agar mau berwisata kembali ke Kalimantan Barat.
Kedua, menjadikan terbukanya akses penerbangan sebagai momentum untuk belajar dari tata kelola rumah sakit yang ada di Malaysia. Realistis saja, sebagian orang Kalimantan Barat masih memilih berobat ke Malaysia jika memiliki dana yang cukup. Penulis mencatat sebuah pernyataan menarik dalam perayaan HUT Normah Medical Specialist Center di Pontianak pada 24 Mei 2025, yaitu “…terbuka terhadap pertukaran pengalaman dan praktik baik dengan rumah sakit di Kalimantan Barat maupun rumah sakit lainnya.” Terkoneksinya Kalimantan Barat dengan Malaysia via udara tentu memberikan peluang bagi kolaborasi di bidang kesehatan antara rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain di Kalimantan Barat dengan yang ada di Malaysia. Kalimantan Barat harus mau belajar dari Malaysia, khususnya Sarawak, dalam mengembangkan ilmu di bidang kesehatan agar mampu berada sejajar dengan mereka. Sehingga masyarakat di dua wilayah nantinya memiliki pilihan yang sama baiknya saat berobat di Kalimantan Barat atau Sarawak. Tidak hanya di bidang kesehatan, pada rilis QS Ranking universitas dunia, bahkan peringkat Universitas Indonesia yang terbaik se-Indonesia baru di peringkat 189 dunia, sementara Universiti Malaya ada di peringkat 58 dunia. Barometer sederhana ini harusnya menjadi momen refleksi diri orang Indonesia untuk mau belajar dari tetangga serumpun.
Ketiga, memanfaatkan keterhubungan ini untuk juga menjalin kerja sama internasional yang lebih erat dan saling menguntungkan antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Malaysia maupun Sarawak. Penulis masih ingat saat mencari bahan mengenai kontribusi dari Malaysia terhadap IKN selain investasi infrastruktur, Sarawak menawarkan dukungan pembangunan pembangkit listrik tenaga air. Sarawak juga telah mengekspor 150 MW energi hidro ke Kalimantan Barat setiap tahun dan pada 2023 PLN bahkan telah menjajaki kerja sama dengan Sarawak Energy Berhad untuk pengembangan hydropower. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga dapat memanfaatkan kesuksesan Sarawak di bidang energi terbarukan untuk dipelajari dan direplikasi keberhasilannya. Seperti sebelumnya di poin pertama mengenai pariwisata, menurut penulis pemerintah kedua daerah juga dapat menjalin hubungan internasional di bidang tersebut lewat upaya paradiplomasi. Kolaborasi antara keduanya tentu akan jadi hal yang menarik karena sama-sama mempromosikan wisata bersama termasuk di kawasan perbatasan yang didominasi oleh masyarakat dengan hubungan suku dan kekeluargaan yang erat sejak dulu. Dengan memposisikan diri sebagai dua daerah yang terhubung karena sejarah, kesamaan suku, dan hubungan kekerabatan, Kalimantan Barat dan Sarawak bisa lebih bahu membahu untuk meningkatkan nilai kerja sama. Keduanya juga selama ini sering kali dijadikan sebagai daerah pinggiran bagi pemerintah pusat, sehingga kolaborasi antara dua kawasan berbatasan ini akan jadi praktik baik hubungan internasional di tingkat daerah.
Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa keterhubungan via angkutan udara harus bisa dimaknai dengan objektif dan mempertimbangkan sisi baik dan buruknya. Meski dalam jangka pendek, Malaysia adalah tujuan terdekat bagi Kalimantan Barat. Kesiapaan kedua belah pihak akan menentukan ke arah mana keterhubungan ini di masa depan. Namun, penulis berkeyakinan mimpi besar melihat Kalimantan Barat terhubung secara langsung dengan kota-kota besar dunia suatu waktu akan dapat terwujud. Mungkin nanti, jika kita semua sudah siap menjadi warga dunia dengan bekal pembangunan daerah yang lebih baik.**
*Penulis adalah Dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura; Mahasiswa S3 Department of Development Studies University of Vienna.
Editor : Hanif