Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si*
Awal tahun 2000an viral pemutih wajah dan badan yang banyak membuat perempuan Indonesia mengorbankan kesehatan jangka panjang. Keinginan agar bisa cantik dan glowing memang sah-sah saja terlebih untuk kaum hawa yang identik dengan keindahan dan lebih dominan ingin tampil menarik. Hanya saja faktanya banyak masyarakat lalai dan mudah tergoda iklan kecantikan, sehingga tidak peduli untuk melindungi diri. Keinginan agar cantik, bahkan awet muda menjadi tujuan banyak kalangan sehingga apapun dilakukan, termasuk merubah bentuk tubuh.
Fakta nyata terakhir sudah mulai banyak menjangkiti masyarakat Indonesia. Trend cantik ala Korea atau Barbie, perlahan menjadi identitas cantik khususnya untuk gen milineal. Dan, sekarang diwariskan ke gen z karena tontonan serta doktrin media sosial. Fenomena ini sesungguhnya sangat mencemaskan. Perlahan hilanglah identitas cantik Asia ala Indonesia yang dulu disebut ayu karena hitam manis, cantik dengan warna kulit sawo matang atau kuning langsat.
Operasi Kosmetik
Istilah operasi plastik atau bedah plastik bukan seperti namanya, yang sepintas bermakna prosedur di meja bedah dengan menggunakan plastik sebagai bahan utama. Namun, merujuk pada asal kata dari bahasa Yunani plastikos yang berarti membentuk atau mencetak. Awalnya, operasi plastik dilakukan untuk membantu keadaan seseorang yang secara fisik tidak normal atau ada kelainan, maka melakukan operasi plastik menjadi pertolongan hidup untuk membantu individu tadi stabil secara mental dan sosial. Semakin kesini, masyarakat memahami oplas (operasi kosmetik) adalah prosedur untuk membentuk atau mengubah bentuk jaringan tubuh. Dilakukan bukan sebab alasan kesehatan, tetapi ingin mendapatkan kecantikan fisik karena sebab tertentu.
Misalnya penyanyi Denada, yang tampil lebih percaya diri sejak melakukan oplas di Negeri Ginseng. Saat ditanya perubahan wajahnya, dengan enteng ia menjawab karena kebutuhan hidup, agar bisa bertahan di tengah gempuran artis muda cantik dan berbakat. Sesuatu yang awalnya bertabrakan dengan norma sosial (bahkan dicemooh), melanggar ajaran agama, perlahan dibenarkan pula oleh norma kebiasaan karena dilakukan oleh figur tertentu.
Walaupun dapat memberikan sensasi bahagia, memunculkan kepercayaan diri yang tinggi, operasi plastik tidak selalu sukses sesuai harapan. Seandainya pun sukses, efek jangka panjang tetap ada. Misalnya, karena proses penuaan, gaya hidup juga kesehatan secara keseluruhan. Efek ketergantungan dan tidak pernah merasa puas, seperti dikemukakan oleh dr. Tompi spesialis bedah plastik yang juga dikenal luas sebagai penyanyi genre jazz. Secara tegas ia pun menyarankan agar masyarakat khususnya perempuan melakukan prosedur normal dan wajar, jika ingin tampil cantik dan sehat. Prosedur yang berlebihan lanjutnya hanya akan membuat kecemasan berlebihan dalam diri dan akan membuat fisik tidak sehat dan sakit.
Standar Kecantikan Perempuan Indonesia
Setiap negara hingga individu sekalipun memiliki penilaian yang tidak sama dalam mengukur kecantikan atau kerupawanan seseorang. Standar tersebut dibangun oleh kekuasaan kemudian menjadi identitas. Jika dulu jauh sebelum media massa berkembang dan menjadi kebutuhan, standar kecantikan disebabkan oleh kerupawanan bangsa penjajah. Seiring perubahan zaman, penilaian tersebut berubah karena pengaruh industri kecantikan media, serta iklan.
Secara umum kecantikan perempuan Asia terletak pada wajah oval, warna kulit cerah dengan tone medium, rambut lurus, dan bentuk tubuh yang ramping. Doktrin tersebut melekat erat dan membuat banyak perempuan Asia tanpa terkecuali di Indonesia tidak sungkan untuk merogeh kocek agar bisa tampil sempurna.
Uraian diatas dapat kita bedah setidaknya dalam dua teori. Pertama, teori struktural. Menurut teori ini, kecantikan hanya akan dimiliki oleh individu karena kelas sosial ekonomi. Akses terhadap sumber daya akan membuat siapapun dapat melakukan berbagai jenis tindakan seperti perawatan untuk vitalitas tubuh. Kedua, teori feminisme. Teori feminisme beranggapan nilai kecantikan adalah konstruksi sosial, yang terbentuk sebab norma dan nilai. Teori feminisme menolak diskriminasi terhadap perempuan dan giat mempromosikan kesadaran dan perubahan agar masyarakat tidak memandang kecantikan dan peran perempuan dari sisi fisik. Tetapi, harus dari banyak aspek.
Lalu, seperti apa idealnya cantik? Tentu berdasarkan perspektif bagaimana seseorang hidup dan menilai. Jika sering kita mendengar cantik itu relatif, penulis berpendapat itulah jawaban yang tepat dan akurat untuk mendefinisikan sebuah rasa. Sebab, kita memiliki nilai kebahagiaan yang juga tidak sama.**
*Penulis ada;ah Kaprodi Studi Agama-Agama FUSHA IAIN Pontianak.
Editor : Hanif