Oleh: Sihabuddin*
Indonesia merupakan negara besar beriklim tropis yang di dalamnya terdapat kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas tertinggi di dunia. Menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dijelaskan dalam Indonesiabaik.id Indonesia adalah negara dengan kekayaan biodiversitas terrestrial tertinggi kedua di dunia. Jika digabungkan dengan keanekaragaman hayati di laut, maka Indonesia menjadi yang pertama. Rosichon Ubaidillah, Peneliti Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, memaparkan Bahwa status dan tren keanekaragaman hayati Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat agrobiodiversitas dunia dengan 10 persen spesies dari total spesies tumbuhan dunia. Dengan perincian peringkat pertama spesies mamalia di dunia, berjumlah 670. Peringkat kedua spesies ikan di dunia, berjumlah 4.782. Peringkat keempat spesies burung di dunia, berjumlah 1.711. Peringkat keempat spesies reptil di dunia, berjumlah 755. Peringkat keempat spesies tumbuhan vaskular, berjumlah 29.375. Peringkat kelima spesies krustase, berjumlah 1600 dan Peringkat kesembilan spesies amfibi yang berjumlah 365.
Melihat kekayaan alam Indonesia yang begitu luar biasa tidak heran jika banyak sekali flora dan fauna endemik Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Namun, sayang flora dan fauna tersebut tidak semuanya popular di Indonesia. Bahkan, banyak orang Indonesia sendiri yang tidak mengetahui sama sekali flora dan fauna tersebut, termasuk buah-buahan yang merupakan jenis flora. Buah-buahan merupakan komponen penting bagi kesehatan manusia sehingga flora yang buahnya memberikan banyak manfaat akan dibudidayakan dan dipopulerkan karena tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tetapi juga menjadi ladang bisnis. Namun sayang banyak sekali buah-buahan lokal Indonesia yang kurang popular bahkan asing di telinga masyarakat Indonesia sendiri karena kalah bersaing dengan buah-buahan yang asalnya dari mancanegara. Padahal, secara nutrisi buah-buahan lokal Indonesia tidak kalah dengan buah-buahan yang asalnya dari luar negeri yang mudah ditemukan di pasaran Indonesia. Nasib buah-buahan lokal Indonesia jika di Indonesia sendiri tidak popular bagaimana akan mendunia, tentu rasanya sulit.
Ada banyak faktor kenapa buah-buahan yang asalnya dari luar Indonesia seperti apel, pir, stoberi, alpukat, mangga, srikaya, sirsak, melon, nanas, ceri, kiwi, kurma, leci, blueberry, semangka, dan lain-lain lebih popular di Indonesia daripada buah-buahan asli Indonesia. Di antaranya, banyaknya permintaan buah-buahan tersebut di pasaran sehingga mudah ditemukan dan membuat buah-buahan tersebut semakin popular. Selain itu, masih banyak masyarakat Indonesia yang beranggapan hal-hal yang berasal dari luar negeri dianggap lebih keren daripada yang asli Indonesia termasuk buah-buahan sehingga buah-buahan lokal semakin terpinggirkan karena kurangnya peminat dan membuat petani tidak membudidayakan secara besar-besaran dan nama-nama buah-buahan lokal semakin tenggelam.
Memang sudah banyak buah-buahan lokal atau asli Indonesia yang popular di masyarakat bahkan sudah mendunia seperti manggis, salak, jeruk bali, pisang, rambutan, duku, kelapa, belimbing, kolang-kaling, jambu air, dan lainnya. Tapi masih banyak buah-buahan asli Indonesia yang perlu dipopulerkan di Indonesia bahkan disebarkan ke seluruh dunia sebagai buah indentitas Indonesia. Buah-buahan tersebut bukan hanya tidak popular tetapi banyak yang masih asing di telinga masyarakat Indonesia sendiri karena tidak pernah mendengar dan melihat seperti buah buni, gowok, gandaria, cempedak, buah lai, kusambi, trenggulun, matoa, kasturi, kepel, menteng dan lain-lain. Buah-buahan asli Indonesia tersebut selain rasanya yang enak dan unik tentu memiliki nutrisi yang baik untuk kesehatan. Buah-buahan tersebut bisa menjadi identitas Indonesia di mata dunia jika masyarakat Indonesia bergerak untuk menjadikan buah-buahan asli Indonesia mendunia. Seperti halnya buah kiwi dan leci yang identik dengan China, stroberi dan pir yang identik dengan Eropa, blueberry dan alpukat yang identik dengan Amerika, kurma yang identik dengan Timur Tengah serta mangga yang identik dengan India.
Banyak hal yang bisa dilakukan agar buah-buahan asli Indonesia baik yang sudah popular atau yang masih asing di telinga masyarakat menjadi dikenal, semakin popular dan mendunia. Pertama, memopulerkan buah-buahan asli Indonesia baik yang sudah dikenal atau yang masih asing di telinga masyarakat lewat pendidikan di sekolah-sekolah atau sosialisasi oleh instansi terkait dan lewat iklan informasi di beberapa sudut strategis. Selain itu, membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan lokal dan merubah pola pikir masyarakat bahwasannya buah-buahan asli Indonesia tidak kalah dari buah-buahan yang asalnya dari mancanegara melalui para tenaga kesehatan. Kedua, memperdayakan para petani untuk menanam buah-buahan lokal dengan memberikan bibit secara gratis atau menjual bibit dengan harga murah dan menyiapkan pemasarannya. Sebab, petani tidak akan membudidayakan tanaman yang tidak laku di pasaran karena terkait dengan untung rugi, kecuali untuk buah-buahan yang mau dikonsumsi sendiri.
Ketiga, tugas pemerintah dan stakeholder terkait menyiapkan sarana pemasaran dan sistem distribusi mulai dari tengkulak atau pengepul, pedagang besar, pengecer dan para konsumen yang merupakan pembeli akhir dari buah-buahan lokal agar petani tidak dirugikan. Keempat, pasarkan di lokasi pariwisata internasional dengan berbagai metode pemasaran pemasaran yang banyak dikunjungi turis asing, seperti Bali, Lombok, Borobudur, Bromo, Batam, Labuan Bajo, Yogyakarta, Raja Ampat, Bunaken dan lain-lain dengan branding “Indigenous Indonesian Fruits” (buah-buahan asli Indonesia). Para wisatawan asing pasti tertarik untuk membeli buah-buahan asli Indonesia sebab tujuan mereka berkunjung ke suatu negara salah satunya untuk mengetahui keunikan dari negara yang dikunjungi. Jika semakin popular bukan tidak mungkin buah-buahan asli Indonesia akan semakin mendunia karena banyaknya permintaan ekspor dari negara lain.**
*Penulis adalah Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Editor : Hanif