Oleh Y Priyono Pasti*
Pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah ramah (MPLSR) dengan prinsip ramah, edukatif, efektif, efisien, inklusif, partisipatif, dan fleksibel telah usai dilaksanakan. Hari-hari ini, denyut nadi proses pendidikan di satuan pendidikan dasar dan menengah pada tahun ajaran baru 2025/2026 kian mulai terasa. Para siswa baru (dan juga lama) mulai menjalani proses pendidikan dan pembelajaran.
Sebagaimana lazimnya, khususnya siswa lama, setelah sekian lama menikmati libur melepas kepenatan setelah mengikuti ulangan sumatif akhir kenaikan kelas, kembali ke sekolah dengan segala rutinitasnya bukanlah persoalan mudah. Menyitir Ashlihatul Hidayati (2025), bukan hanya soal bangun pagi dan memakai seragam rapi, tetapi soal membangun kembali semangat yang mungkin sempat tertidur.
Ketika berlibur, mereka tak hanya beristirahat, mereka pun larut dalam dunia yang cepat, penuh suara, dan tanpa jeda-dunia layar. Gadget sudah menjadi teman dekat. Bahkan bagi sebagian siswa, gadget menjadi sahabat yang keberadaannya hampir tak terpisahkan dalam aktivitas keseharian mereka. Game, video, dan tayangan pendek lainnya hadir dalam ritme yang jauh berbeda dengan ruang kelas. Mereka tidak perlu membaca panjang, tidak harus diam mendengarkan, dan tidak harus tertib.
Dunia digital tidak hanya menawarkan banyak hal, tetapi juga diam-diam mencuri fokus, sabar, dan rasa ingin tahu yang tenang. Di tengah kondisi yang demikian, menjemput semangat dan menguatkan minat belajar siswa adalah prioritas yang mesti dilakukan guru.
Pentingnya Minat Belajar
Secara substansial, minat berarti tertarik sepenuhnya, terlibat dengan suatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan tersebut. Menurut Harry D. Kitson, berminat terhadap suatu hal berarti mendekatkan diri atau bahkan menyamakan diri sendiri dengan hal itu. Hal ini berarti tiadanya jarak antara seseorang yang berminat dengan sesuatu hal yang dilakukannya.
Menurut John Adams, pada saat seseorang memiliki minat pada saat itulah perhatiannya tidak lagi dipaksakan melainkan menjadi spontan yang memungkinkan seseorang belajar dengan tekun, penuh konsentrasi dan menguasai pelajarannya.
Sementara minat belajar adalah keterlibatan seseorang secara penuh dengan segenap aktivitas memperoleh berbagai keterangan dan mencapai pemahaman yang lebih besar secara kritis, logis. Pendapat lain mengatakan bahwa minat belajar merupakan suatu sikap batin dan sikap akademik tertentu yang bersifat sangat pribadi dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk mencapai sukses dalam setiap kegiatan belajarnya.
Dalam kerangka pikir ini, minat belajar merupakan urusan utama dan bagian mutlak yang perlu dimiliki setiap anak disamping unsur lainnya seperti semangat keilmuan, hasrat mencapai sukses, sikap etis, disiplin pribadi dan keterbukaan.
Dari uraian di atas jelas sekali betapa minat belajar anak akan sangat berpengaruh dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan guru dan kesuksesan belajarnya. Meskipun versi guru bahwa penjelasannya sudah sangat mendetail, namun jika minat belajar anak rendah bahkan tidak ada sama sekali hasilnya akan nihil. Di sinilah pentingnya guru belajar memahami siswa dan memotivasi mereka agar giat belajar.
Baca Juga: KPP Pratama Kubu Raya dan KP2KP Mempawah Salurkan Santunan dalam Program DJP Peduli
Butir-butir pemikiran yang mesti dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran berjalan sangkil dan mangkus serta hasilnya optimal, di antaranya sebagai berikut. Pertama, memberikan motivasi. Motivasi merupakan salah satu unsur yang perlu dimiliki anak untuk mendorong semangat dan minat belajarnya. Semakin kuat motivasinya semakin berminat ia belajar. Oleh sebab itu, guru hendaknya memberikam motivasi yang mendorong tumbuhnya kesadaran diri anak akan pentingnya belajar.
Kedua, menjelaskan tujuan belajar. Kelemahan kita pada umumnya tidak menjelaskan tujuan orang belajar itu untuk apa. Padahal tujuan belajar sangat penting untuk memberikan arah yang jelas bagi anak dalam belajar. Dengan tujuan belajar yang jelas, anak akan semakin bersemangat dan tekun dalam belajar.
Ketiga, menjelaskan manfaat belajar. Seperti halnya tujuan belajar, guru perlu menjelakan manfaat belajar bagi anak. Dengan memahami manfaat belajar tersebut anak akan lebih berkonsentrasi dan serius dalam belajar.
Keempat, memberi kesempatan belajar. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang kondusif yang memungkinkan anak untuk belajar. Adanya kesempatan belajar yang tersedia semakin dimungkinkan hasil belajar anak akan menjadi lebih baik.
Kelima, menciptakan suasana kompetitif. Suasana kompetitif yang sehat perlu ditumbuhkan pada diri anak baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Guru hendaknya mendorong semangat kompetitif yang sehat pada siswanya untuk mengejar prestasi puncaknya. Menurut Sukmana, prestasi tersebut tidak melulu berupa angka yang baik tetapi juga peningkatan-peningkatan yang dicapai.
Keenam, memberikan teladan (sebagai saksi hidup). Teladan (saksi hidup) merupakan obat yang paling mujarab untuk memacu semangat dan minat anak dalam belajar. Anak akan lebih mudah untuk belajar bila melihat gurunya sebagai saksi hidup yang juga senang belajar. Untuk itu, berilah teladan (menjadi saksi hidup) kepada anak-anak dalam belajar.
Ketujuh, memberi hadiah. Hadiah merupakan salah satu unsur yang cukup penting untuk memacu minat anak dalam belajar. Dengan hadiah tersebut anak merasa dihargai, merasa diakui kemampuannya. Anak semakin diyakinkan bahwa dirinya mampu. Kepecayaan dirinya akan tumbuh sehingga anak akan semakin termotivasi dalam belajar. Dengan minat belajar yang tinggi maka hasil belajarnya pun akan menjadi lebih baik.
Kedelapan, jangan menyalahkan, bertanggungjawablah. Mencari kambing hitam merupakan perbuatan gampang, namun guru jangan melakukannya. Kala guru secara pribadi menghadapi kesalahan dan kegagalan, bertanggungjawablah atas semua itu. Bertanggung jawab merupakan contoh tindakan yang terpuji karena menunjukkan kerendahan hati, mengembangkan harapan, dan mengurangi kecenderungan untuk melakukan pemaksaan dalam mencapai tujuan. Guru yang bertanggung jawab, murid pun akan bertanggung jawab.
Kesembilan, praktikkan kerendahan hati. Bersikap rendah hati dengan apa yang kita ketahui dan dalam menyampaikan pengetahuan tersebut akan menyenangkan siswa karena mereka merasa tidak dipaksa. Mempraktikkan kerendahan hati mengharuskan guru untuk menerima dan mengakui bahwa guru bukan manusia super yang serba tahu. Bersikap rendah hati berarti menyediakan tempat untuk gagasan orang lain (siswa), bersedia mendengarkan, menghargai pertanyaan yang diajukan, bahkan meminta bantuan.
Kesepuluh, mulailah dengan pertanyaan. Siswa bukanlah tabula rasa. Terlalu banyak menjejali materi memunculkan rasa tidak suka. Oleh karena itu, awali proses pembelajaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang menumbuhkan rasa ingin tahu di kalangan siswa. Atau bisa memulainya dengan kisah-kisah pendek yang edukatif-inspiratif atau bahkan dengan lelucon-lelucon segar yang mengundang rasa ingin tahu (penasaran).
Kesebelas, tetaplah terbuka. Bersikap paling benar dalam kebenaran Anda (baca: guru) tidak selamanya baik. Mengizinkan terjadinya kesalahan acapkali sangat membantu siswa menjadi benar. Untuk itu, belajarlah untuk menemukan kelebihan dalam gagasan setiap siswa. Berikan perhatian untuk mendengarkannya. Biarkan setiap siswa menggunakan kerangka referensi bahwa mereka perlu memahami konsep dan menjelaskan konsep tersebut kepada Anda dengan menggunakan cara mereka, bukan cara Anda. Singkatnya, terbukalah terhadap gagasan siswa.
Keduabelas, percayalah siswa BISA. Jika guru percaya bahwa siswa bisa, mereka akan bisa. Siswa akan membuka diri mereka untuk belajar, tumbuh, berkembang, mekar, dan berbuah sebagaimana yang diharapkan.
Catatan penutup
Hari ini, para siswa tidak lagi tumbuh dalam kesunyian yang dulu bisa melatih imajinasi. Kini, mereka dibentuk oleh kecepatan, oleh notifikasi yang tak henti berbunyi (lih. A. Hidayati, 2025). Di tengah kondisi yang demikian, tugas mulia kita sebagai guru adalah menjadi jembatan antara dunia digital dengan dunia nyata, tempat belajar berjalan pelan.
Agar para siswa antusias dalam belajar, menjemput semangat dan menguatkan kembali minat belajar siswa adalah kemutlakan. Kita harus kembali menjemput semangat dan menguatkan minat (keingintahuan-rasa penasaran) belajar siswa yang mungkin masih tertinggal di layar gadget.
Mari kita menyambut para siswa baru dan juga lama dengan hangat, memberi ruang untuk mereka berbicara tentang dirinya atau hal apa yang paling dirindukan dari sekolah, atau sekadar mendengarkan mereka bercerita tentang hal-hal kecil. Mari kita menciptakan suasana kondusif sehingga mereka merasa aman, nyaman, dan bersemangat untuk belajar. Semoga demikian!
*Penulis Alumnus USD Yogya
Guru di SMP/SMA St. F. Asisi
Pontianak – Kalimantan Barat
Editor : Hanif