Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si
Jamak kita pahami interaksi sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Melalui interaksi sosial banyak hal yang bisa dan akan didapat, lewat interaksi pula individu akan memahami hidup sebagai sebuah proses belajar untuk saling mengenal agar terbina hubungan baik dengan sesama. Di posisi ini sebetulnya urgen generasi bangsa usia sekolah dibekali ilmu, diberi tauladan untuk menjaga kewarasan mental ditengah gempuran media sosial dan AI yang tidak lagi dapat dibendung. Misalnya, melarang aktivitas memegang handphone saat proses belajar/perkuliahan. Mengapa demikian, sebagai seorang pendidik penulis merasakan semakin bergeser nilai akademis mahasiswa, khususnya adab dalam bersikap.
Para gen Z ini, kadang lupa atau tidak pandai menempatkan diri. Tidak hanya dalam komunikasi langsung, komunikasi chatting atau percakapan daring pun banyak memperlakukan guru seperti teman sebaya. Kebanyakan lupa waktu berkomunikasi, chatting di hari dan jam luar kantor. Bahkan, ada dini hari chat hanya untuk bertanya apakah besok perkuliahan masuk seperti biasa. Suatu hari beberapa mahasiswa bimbingan akademik curhat, mengeluh ada dosen no respon saat mereka chatting. Padahal menurut mahasiswa tadi, jawaban dosen sangat penting dan urgen.
Sederhana saja, penulis menjawab mungkin ada yang salah atau kurang tepat dari cara mahasiswa berkomunikasi. Bahasa, waktu, identitas diri dan tujuan serta menghindari spam atau pesan yang berulang-ulang. Kelima hal tersebut perlu diperhatikan, agar komunikasi tidak memunculkan prasangka. Seandainya muncul prasangka, diusahakan tidak berlarut-larut. Sebab, setiap orang punya kesibukan, sementara menunda bertemu tetapi tidak merasa penting atau mungkin lupa untuk mengabari.
Sesuai realitas berpadu dengan teori yang dikenalkan oleh George Herbert Mead Filsuf dan Sosiolog dari awal abad ke-20, dengan teorinya interaksionisme simbolik. Teori ini menyatakan bahwa makna suatu objek dan pengalaman berasal dari interaksi sosial, dimodifikasi melalui interpretasi individu dalam berkomunikasi. Ini menandakan bahwa, komunikasi membutuhkan seabrek proses untuk dapat disebut efektif.
Seperti pertemuan langsung yang membutuhkan kesan baik, begitu pula komunikasi daring. Ada norma yang harus dipenuhi. Saat berkomunikasi langsung kita bisa to do point atau bahkan blak-blakan berbicara dan bertutur dengan orang terdekat. Hal tersebut tidak mungkin sama ketika berkomunikasi dengan atasan, rekan bisnis, atau dosen. Begitupun komunikasi chatting, tetap ada norma yang harus diperhatikan. Proses menjadi dekat sehingga bisa bicara santai dan tidak mudah tersinggung membutuhkan waktu dan emosi yang berbeda tiap individu. Nah, gen Z banyak yang salah menginterpretasikan hal ini.
Perlu dipahami komunikasi yang baik tidak selalu akan dinilai baik pula oleh orang lain. Kadang kala terjadi miskomunikasi yang membuat salah persepsi atau ketersinggungan. Maka penting untuk memahami bagaimana cara berkomunikasi efektif baik, benar, dan bijak untuk menghindari kesalahpahaman, hoax, penipuan hingga masalah privasi. Hal tersebut tentu membutuhkan pembiasaan yang tidak instan.
Pertama harus dipahami bahwa komunikasi adalah media untuk tukar pendapat, informasi, gagasan agar terbina hubungan baik. Kedua, ada lima jenis komunikasi yang harus dikuasai, yakni komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, komunikasi tertulis, komunikasi visual, dan juga mendengarkan. Kelima jenis komunikasi saling menyempurnakan agar hidup lebih bernilai. Ketiga,menjaga norma atau nilai yang berlaku. Menjaga sopan santun merupakan bagian terpenting agar hubungan sosial kita dengan siapa pun, dikondisi kapan saja akan terjalin harmonis include didalamnya rasa hormat dan tanggung jawab. Sebagai life skill maka komunikasi harus terus dipelajari, dipahami dan dipraktekkan agar juga dapat memberi manfaat untuk diri dan orang lain.**
*Penulis adalah Sekretaris LPP PWM Kalbar; Kaprodi SAA FUSHA IAIN Pontianak.
Editor : Hanif