Oleh: Eka Hendry Ar
Suatu waktu, di Thailand diadakan kompetensi “Membuat Gajah Menangis”. Ini cerita gajah betulan, bukan tentang partai yang menggunakan lambang gajah. Singkat cerita, berdatanganlah para pawang gajah dari berbagai negara. Kontestan pertama dari Afrika tampil ke pentas. Ia berupaya menggunakan trik-trik jitu, namun gajah hanya terdiam alias no respon. Kontestan dari Cina, tampil dengan atraksi yang membuat penonton menitikkan air mata, namun gajah hanya geleng-geleng. Sampailah kemudian, penampilan dari tuan rumah Thailand. Seorang pawang gajah kawakan tampil memukau, namun gajah hanya mengerang, sambil mengangkat belalainya. Penonton kecewa, terutama penonton lokal, karena jagoannya gagal. Tinggal satu kontestan tersisa, dari Indonesia. Semua penonton under estimate. Penonton bergumam, “pawang hebat Thailand saja gagal, apalagi dari Indonesia”. Sang pawang Indonesia dengan santai menghampiri gajah, ia tidak melakukan atraksi apapun. Ia langsung mendekati gajah, dan perlahan menarik telinga gajah dan kemudian berbisik. Sontak gajah langsung menangis tersedu-sedu, sambil meraung-raung. Penonton terkesima dan kompoak kemudian memberikan standing applause. Semua orang bertanya-tanya apa gerangan yang dibisikkan ke telinga gajah sampai sang gajahnya sedemikian pilu.
Sejenak kemudian, sang juara dihampiri para jurnalis. Mereka mengajukan pertanyaan apa gerakan yang dibisikkan oleh sang pawang, sampai gajah menjadi sangat sedih?. Sambil tersenyum sang pawang menjawab, "gajah, kamu tahu tidak gaji PNS di Indonesia? Setelah saya bisikkan berapa gaji PNS Indonesia, sang gajah langsung nangis sejadi-jadinya”. Heeeee
Guyonan di atas populer 10-20 tahun lalu. Penulis tidak tahu apa masih relevan atau tidak dengan keadaan sekarang. Karena tentunya, gaji PNS saat ini sudah jauh lebih baik, terutama secara kuantitas, dibandingkan masa sebelumnya. Meskipun kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mungkin masih jauh. Apa lagi jika disandingkan dengan negara-negara maju.
Suatu waktu ada perbincangan menarik di warung kopi, yaitu tentang gaji PNS. PNS, meskipun sudah lebih baik secara kuantitas, namun pada kenyataannya dinilai masih jauh dari ukuran ideal. Karena dengan gaya hidup sederhana dan berhematpun kadang masih kurang. Maka tidak heran ada yang ngobjek cari tambahan. Maklum saja meskipun bunyinya besar, tapi pengeluaran terkadang juga besar. Karena biasanya mayoritas PNS "menyekolahkan" SK-nya di bank, dan kebutuhan hidup sehari-hari yang juga terus meningkat.
Kondisi sulit ini kemudian melahirkan pameo, gaji PNS hanya cukup untuk setengah bulan. Bahkan bisa lebih pendek lagi. Bayar cicilan bank, bayar kebutuhan domestik, listrik, ledeng, wifi, besin kendaraan, biaya sekolah anak, waduh sudah pusing tujuh keliling.
Kondisi ini penulis ibaratkanseperti pesawat. Tanggal 1 sampai tanggal 15, aliasn awal bulan hingga bulan purnama, mesin pesawat hidup normal, begitu tanggal 16 mesin pesawat mulai mati. Maka mulai tanggal 16 pesawat tinggal melayang (gliding) terus sampai daya layangnya habis. Jadi wajar aja kalau kalau bulan purnama, PNS mulai oleng, karena melayang. “Ternyata, hidup tidak seindah bulan purnama”.
Secara fisika ketika pesawat mati mestinya pesawat akan jatuh, karena gaya gravitasi. Namun kenyataannya tidak demikian, karena ada gaya angkat, maka pesawat masih bisa meluncur (gliding) dan melayang dengan fungsi aerodinamis sayap-sayapnya. Karena udara yang mengalir di sekitar sayap tetap menciptakan gaya angkat yang menahan pesawat di udara. Maka biasanya pilot masih bisa berupaya memaksimalnya daya angkat tersebut, mencari tempat yang mungkin bisa mendarat selamat.
Hidup PNS tak ubah dari analogi pesawat tersebut. Menjelang pertengahan bukan tinggal mengadalkan gaya angkat dan kemampuan melayang. Mafhum mukhalafahnya, kalau sudah di pertegahan bulan, jangan terlalu menuntut optimalisasi kerja di kantor. Wong, orang lagi melayang, syukur-syukur tidak jatuh.
Satu-satunya caraagar tetap waras meskipun oleng, ya memaksimalkan fungsi aerodinamis sayap-sayapnya, seperti kedua sayap pesawat. Agar tidak collapse, pesawat harus tetap bergerak meski hanya melayang. Pelajaran pentingnya, ketika kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, PNS harus memastikan sayap-sayapnya berfungsi dengan baik, sembari memanfaatkan hukum fisika gaya angkat dan prinsip-prinsip aerodinamisnya. Tentu sayap-sayap yang dimaksudkan disini adalah sayap-sayap selaku makhluk sosial dan makhluk rohani. Sebagai makhluk sosial, kita harus menjaga kestabilan sayap hubungan sosial, sayap persahabatan dan sayap silaturahmi. Karena boleh jadi melalui sayap-sayap tersebut menjadi mata air rezeki. Sebagai makhluk rohani kitapun harus menjaga hubungan vertikal yang lebih baik kepada Tuhan. Karena Tuhan adalah sumber kehidupan dan penghidupan makluk-Nya. Jika tidak, maka daya olengnya akan semakin kuat, bahkan bisa-bisa jatuh seketika.
Karena sayap-sayap yang berfungsi baik, relatif akan menyelamatkan kita dimasa-masa "mesin mati". Hendaknya tidak berdiam diri, menyerah pada kenyataan, pasrah dan putus asa. Karena ketika hanya diam, maka gaya gravitasi akan menghempas "pesawat" kita ke tanah. Lantas hidup akan semakin terpuruk. Oleh karenanya pastikan sayap-sayap kita tetap terkembang, secara seimbang, agar maksimal energi angkat membuat kita tetap melayang secara stabil.
Kesimpulannya, gajah sepertinya masih akan menangis, heeeee. Juli 2025
(penulis adalah warga penikmat warung kopi di Pontianak,)
Editor : Hanif