Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cenderung Berbuat Baik sebagai Tanda Keridhaan Allah SWT

Hanif PP • Jumat, 22 Agustus 2025 | 09:45 WIB
Sholihin Hz
Sholihin Hz

Oleh: Sholihin HZ., S. Ag., M. Pd. I*

Naluri manusia, setiap kita ingin dicintai, setiap kita ingin disayangi dan dihormati. Alangkah bahagianya hati, jika keseharian kita dicintai oleh orang-orang di sekitar. Disayangai oleh siapapun yang di dekat kita. Kita dimuliakan oleh orang lain. Bangganya luar biasa, senangnya luar biasa kalau disenangi oleh orang lain. Ini baru pada tataran manusia. Dicintai manusia saja kita sudah bangganya luar biasa. Bagaimana kalau yang mencintai kita adalah al Khaliq, Allah SWT sebagai Zat yang Maha Segala-galanya.

Dalam sebuah hadits qudsi, terjadi dialog antara Allah SWT dan malaikat-Nya. Lantas Allah SWT bertanya darimana engkau wahai malaikatku (meskipun Allah SWT sesungguhnya Maha Mengetahui semua keadaan makhluk-Nya). Lantas malaikat menjawab, bahwa mereka dari bumi dan di bumi menemukan wajaduu qawman yazkuruunallah yaitu sekelompok orang yang sedang berzikir. Allah SWT lantas bertanya apa yang mereka lakukan? Malaikat menjawab bahwa mereka yusabbibuunaka (memuji Engkau); yukabbiruunaka (membesarkan Engkau); wayahmaduunaka (memuji Engkau) dan; wayumajjiduunaka (mengagungkan Engkau).  Allah kemudian bertanya ’hal ro awnii’ (apakah mereka melihat Aku)? Malaikat menjawab,  “La, Wallahi ma roawka (tidak, sungguh mereka tidak melihatmu)”. Allah SWT lantas berujar, “Bagaimana kalau sekiranya  mereka melihat-Ku (kaifa law roawnii?)”. Malaikat lantas menyatakan bahwa jika mereka melihatmu maka pasti akan lebih semangat lagi memuji-Mu. Allah SWT dengan Maha Kasih dan Sayangnya kemudian menyatakan ’fa usyhidukum annii qod ghafartu lahum’, (Aku persaksikan pada kalian bahwa sesungguhnya Aku mengampuni mereka).

Inilah kelompok pertama yang Allah menyenangi mereka yakni mereka yang hadir dan istiqamah di majelis-majelis ilmu, majelis-majelis Quran dan majelis-majelis zikir.

Berikutnya tanda Allah SWT mencintai hamba-Nya adalah ’idzaa ahabba qawman ibtalaahum”, jika ia mencintai seorang hamba maka hamba itu Allah SWT uji baik uji kelebihan maupun kekurangan. Untuk apa? Innaa hadaynaahus sabiila immaa syaakirow wa immaa kafuuroo, untuk melihat apakah hamba-Nya pandai bersyukur atau justru kufur.

Sesungguhnya ujian atau musibah yang diberikan Allah SWT adalah bentuk sayang Allah SWT untuk mengingatkan betapa pentingnya kesehatan. Sakit atau musibah adalah cara Allah SWT untuk menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya. Ketika seseorang sakit, maka tiga hal yang Allah SWT cabut dari hamba tersebut yakni keceriaan wajahnya, nafsu makannya dan Allah SWT angkat dosa-dosanya. Namun, manakala Allah SWT kembalikan kesehatan seseorang, maka dua Allah kembalikan dan satu Allah tahankan yakni keceriaan wajahnya dan nafsu makannya Allah SWT kembalikan. Namun, dosa-dosanya tidak Allah SWT kembalikan. Musibah yang diterima dengan ridha sesungguhnya adalah cara Allah SWT untuk menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya.

Selanjutnya cara Allah SWT agar hamba-Nya menjadi orang yang terjaga keimanannya, menjadi orang yang dicintai-Nya, maka ia hadirkan orang-orang di sekelilingnya sebagai orang-orang yang menambah ketaatan pada-Nya. Didekatkannya kita dengan orang-orang saleh, dipertemukannya kita dengan orang-orang yang faham agama dan orang-orang ‘alim. Untuk apa dihadirkan orang-orang demikian disekitar kita? Untuk menjaga temperatur keimanan kita yang kadang yazid dan kadang yanqus. Kadang naik kadang turun.

Cara berikutnya adalah dijadikannya hati kita cenderung untuk berbuat baik. Ditetapkan hati kita untuk senang berbuat baik. Manakala kita berada pada suasana hti untuk senang berbuat baik maka itu sebagai pertanda bahwa Allah SWT sedang mencintai hamba-Nya bukankah Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik?

Inilah tanda-tanda bahwa seseorang sedang digiring Allah SWT menjadi hamba-Nya yang baik dan taat pada-Nya. Hamba yang kebaikannya tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Saudaraku, yakinlah bahwa kebaikan yang dilakukan pasti akan mengundanmg datangnya kebaikan-kebaikan lainnya. Semoga Allah SWT membimbingnya untuk tetap berada di jalan-Nya dan istiqamah dalam setiap amalnya.**

 

*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak & Sekum PW IPIM Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
#kasih #zikir #ikhlas #perbuatan baik #cinta #Keridhoan dalam Ketaatan #ampunan #hamba