Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Salah Kaprah Memaknai Spiritualitas Orang Dayak

Hanif PP • Selasa, 9 September 2025 | 10:16 WIB
Nikodemus Niko
Nikodemus Niko

Oleh: Nikodemus Niko*

Beberapa hari terakhir masyarakat maya dunia sosial sempat dihebohkan dengan pernyataan anak muda Kalimantan Barat di Tiktok @reski_kabah yang menyebutkan rumah Radang’k orang Dayak adalah simbol keberadaan ilmu hitam/gaib yang menakutkan. Hal tersebut menimbulkan reaksi yang membuat marah dan geram, hingga adanya somasi dari organisasi di sosial media seperti @kamidayakkalbar.

Sebetulnya, pembicaraan mengenai spiritualitas orang Dayak sering kali dibungkus dengan stereotip, mitos, dan pandangan dari luar yang tidak jarang menimbulkan citra yang negative seperti di akun Tiktok @reski_kabah. Hingga saat ini pun, gambaran umum yang beredar di masyarakat luar Kalimantan, bahkan dalam wacana akademik dan media popular, seringkali menempatkan orang Dayak sebagai komunitas yang hidup dalam dunia magis, klenik, dan mistis yang jauh dari nalar modern. Sebagai orang Dayak asli, saya pernah (bahkan tidak hanya sekali) ditanya oleh teman (dari luar Kalimantan), “Apakah benar orang Dayak makan orang?”

Pandangan seperti ini bukan hanya menyederhanakan kompleksitas spiritualitas Dayak, tetapi juga berpotensi mereduksi identitas kami menjadi sekadar “penghuni hutan” yang masih terikat pada kepercayaan animisme yang primitif. Padahal, spiritualitas orang Dayak mengandung dimensi filosofis, ekologis, dan sosial yang sangat kaya, yang justeu menawarkan pandangan dunia yang relevan untuk menjawab krisis kemanusiaan dan lingkungan yang terjadi hari ini.

 

Asal Mula munculnya Kesalahpahaman

Apabila ditelusuri dari sumber ilmiah yang tercatat, cara kolonial dan misionaris barat memandang dan menggambarkan orang Dayak lah yang melanggengkan stigma bahwa orang Dayak itu primitif. Hal ini bermula dari kecenderungan mereka menempatkan keyakinan orang Dayak sebagai bagian dari “agama suku” yang belum beradab, dibandingkan agama-agama yang diakui seperti Kristen, Islam atau Hindu. Narasi ini terus direproduksi hingga masuk ke dalam lini pendidikan, media, maupun kebijakan negara yang justru mengategorikan praktik spiritual Dayak sebagai kepercayaan lokal yang berada di luar mainstream agama resmi.

Hingga saat ini budaya populer pun justru memotret orang Dayak dari sisi eksotisme seperti praktik mistis maupun ritual saja. Potret versi media sosial ini kerap kali memandang komunitas Dayak hidup penuh kekuatan gaib, seolah-olah kehidupan dikendalikan oleh roh-roh. Padahal, yang disebut “mistis” itu sering kali merupakan ekspresi simbolik atas hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kosmos.

Selain itu, pandangan modern yang sangat rasional dan sekuler juga memandang spiritualitas Dayak sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Modernitas menuntut pemisahan antara agama, pengetahuan, dan kehidupan sehari-hari, sementara bagi orang Dayak ketiganya tidak dapat dipisahkan. Inilah yang kerap disalahpahami sebagai ketidakmampuan membedakan “agama” dan “adat”, padahal justru di situlah letak kekuatan filosofis orang Dayak.

 

Upaya Dekolonisasi

Sebagai peneliti, saya acapkali menulis pengetahuan orang Dayak yang perlu diketahui oleh masyarakat luas. Spiritualitas Dayak tidak bisa hanya dipahami sebagai sekumpulan ritual. Di balik upacara adat, doa, atau praktik penyembuhan tradisional, terdapat filsafat hidup yang menekankan keseimbangan.

Konsep adil ka’ talino, bacuramin ka’ saruga, basengat ka’ jubata misalnya, mengajarkan manusia Dayak untuk hidup bermoral, menjaga harmoni dengan sesama, dengan alam, dan dengan yang Ilahi. Prinsip ini bukan dogma kosong, tetapi panduan praktis yang mengatur tata kelola kehidupan sehari-hari: dari cara membuka ladang, menghormati leluhur, hingga mengatur hubungan manusia dan alam semesta.

Orang Dayak memahami dunia sebagai jejaring relasi antara manusia, roh, dan alam. Setiap tindakan manusia berdampak pada keseimbangan kosmos. Karena itu, setiap aktivitas penting selalu diiringi ritual, bukan semata-mata untuk “memohon berkat” tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral agar tindakan tersebut tidak merusak keseimbangan. Filosofi ini, jika dilihat dengan kacamata ekologis kontemporer, sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang kini justru menjadi isu global.

Salah satu kekuatan spiritualitas orang Dayak terletak pada penghormatan mereka terhadap hutan. Hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang hidup sakral yang menyatukan generasi manusia dengan leluhur dan roh penjaga alam. Ritual-ritual tertentu, seperti larangan menebang pohon pada wilayah keramat atau aturan membuka ladang dengan sistem gilir balik, adalah wujud konkret spiritualitas yang melindungi ekosistem.

Dalam perspektif luar, larangan-larangan itu sering dianggap takhayul. Namun, apabila diteliti lebih jauh, aturan adat Dayak justru berfungsi sebagai mekanisme ekologis yang memastikan keberlanjutan lingkungan. Artinya spiritualitas orang Dayak mengajarkan etika ekologis jauh sebelum istilah “konservasi” dikenal dalam sains modern.

Salah kaprah terhadap spiritualitas orang Dayak berakar pada pandangan kolonial, bias modernitas, dan stereotip budaya populer. Hal ini perlu diluruskan sehingga tidak menimbulkan diskriminasi dan marginalisasi. Kearifan orang Dayak terkait alam dan kehidupan sosial justru sangat relevan untuk menghadapi persoalan kontemporer seperti krisis iklim dan kerusakan hutan.

Selain itu, spiritualitas orang Dayak dapat menjadi sumber inspirasi bagi dunia modern yang mengalami kekosongan makna akibat dominasi rasionalitas instrumental.

Ketika kehidupan hanya diukur dengan logika ekonomi dan efisiensi, pengalaman spiritual orang Dayak mengingatkan bahwa hidup juga tentang relasi, keseimbangan, dan keberlanjutan. Oleh karena itu, spiritualitas orang Dayak bukanlah sesuatu yang usang atau penuh tahayul, melainkan warisan pengetahuan yang hidup, dinamis, dan sangat relevan. Sebagai generasi muda, mari kita bersama-sama menghormati cara hidup komunitas yang beragam di Kalimantan Barat.**

 

*Penulis adalah Post-Doctoral Fellow, Department of Sociology and Anthropology, Chulalongkorn University, Thailand dan Dosen Sosiologi, FISIP, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Indonesia.

 

Editor : Hanif
#viral #Rumah Radakng #mistis #spiritual #kontroversi #Tiktok #dayak