Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Memanajemeni Sunset di Pantai Utara Kalbar

Hanif PP • Rabu, 24 September 2025 | 10:32 WIB
H. Abdul Hamid
H. Abdul Hamid

Oleh: Abdul Hamid*

Ketika disebut kata pantai, bayangan seseorang tentangnya pun akan berbeda, meski ada juga yang sama, apalagi kalau lokasi pantai itu disebutkan, misalnya pantai Sanur, Nusa Dua, Kuta, Seminyak, Jimbaran, Pelabuhan Ratu,dan pantai  Parangtritis; atau untuk di Kalimantan Barat (Kalbar) sebut saja pantai-pantai Pasir Panjang, Tanjung Bajau, Batu Payung, Batu Nenek, Pulau Datok, Kijing, Kura-kura, dan Temajuk.

Pantai-pantai tersebut banyak yang terkenal dengan keindahannya, tetapi ada pula yang dikenal dengan kisah-kisah mistisnya yang “menyeramkan”. Kala menginap di satu kamar hotel di pinggir pantai di Pulau Jawa, saat mau tidur tiba-tiba saja terdengar suara orang melangkah, mengetuk pintu kamar berkali kali, tetapi ketika pintu kamar dibuka. No one there. Hii seraam! Pintu kamar langsung cepat-cepat ditutup kembali, khawatir si misteriusnya masuk kamar. Doa-doa yang teringat pun dibaca berulang kali, agar si misterius itu pergi, kembali ke lautan, yang menurut para ustad adalah wilayahnya.

Pantai memang penuh kisah dari yang menyenangkan sampai ke yang mistis-mistis itu. Namun, kalau bicara tentang mistis, di setiap bangunan-apalagi bangunan kosong,  pohon-pohon besar,  umumnya ada saja kisah mistisnya, termasuk di rumah-rumah  tinggal, dan hotel-hotel. Yang jelas pantai itu sebenarnya lebih banyak menyuguhkan secara alami hal-hal yang mengagumkan, menarik, menjadi lokasi liburan utama, diantaranya tentang keindahan sunrise dan sunsetnya.

Kedua kata ini tampaknya sudah sangat familiar di telinga manusia moderen saat ini, apalagi untuk yang namanya sunset itu. Dalam bahasa Indonesia, sunset diartikan sebagai matahari terbenam, merujuk pada fenomena alam saat matahari menghilang di bawah garis cakrawala, di sebelah barat, yang juga sering disebut sebagai senja; tanda pergantian dari siang ke malam.

Masih ingat mungkin dengan lagu zaman dulu “Senja di Kaimana, di Ambang Sore?”. Kalau penasaran ingin mendengarnya, berselancar  saja di  laman yang populer itu untuk berkaraoke ria, tanpa biaya, asal nyanyi sendiri atau bersama di rumah. Sunset ternyata juga merupakan makna simbolis dari transisi, perubahan, refleksi, dan perpisahan. Kita berpisah dengan siang sekitar 11-13 jam setelah sunset menghilang. Namun, kata yang berasal dari bahasa Inggeris itu sendiri ternyata banyak digunakan juga dalam konteks lain, seperti bisnis dan hukum, sebagai tanda bahwa kegiatan itu akan segera berakhir. Dunia jasa konstruksi katanya kini lagi “sunset”, sedang “ngap-ngap baong” kata warga Pontianak, meskipun ada juga yang sedang sunrise. Kalau di Jepang sih, yang Negeri Matahari Terbit itu, tentu banyak sunrisenya.

Coba perhatikan warna langit ketika sunset, indah bukan? Berwarna-warni. Ada kuning, merah, ungu, orange, dan warna menarik lainnya, membuat tangan yang sedang menggenggam HP, tergerak spontan untuk memotret, berselfi ria, berlatar belakang sunset , atau memotret  khusus langit yang berhiaskan warna warni nur sunset, atau memvideokan sunset sampai menghilang. 

Pemandangan sunset yang indah memang mampu membuat banyak orang berlomba untuk mengabadikannya.  Hal ini karena momen tersebut tidak bisa diulang, dan keindahan setiap sunset memang selalu berbeda, meski di lokasi yang sama, tergantung pada cuaca; lain pantai lain pula sunsetnya yang muncul. 

Di sejumlah belahan bumi, penduduk setempat pun memulai pesta, festival, atau yang sejenis, mengharapkan diri “dipeluk malam” yang kian mendingin, apalagi di kota yang disebut sunset city, sunset village. Sunset hilang, “Angin Malam” pun datang, asyik bukan?

Sunset yang indah kini banyak diburu para pasangan manusia dari generasi yang berbeda: mulai dari yang muda, paruh baya, sampai yang berusia senja. Senja ternyata tetap menarik, memukau dengan sinar sunsetnya.

Sunset yang menjadi favorit manusia masa kini itu, yang mampu menenangkan, dan menyenangkan, dalam kondisi yang dikatakan lagi “gelap” ini, kiranya akan sangat bermanfaat jika dikelola, dimanajemeni dengan baik.

Terlihat cukup banyak titik-titik di sepanjang pantai utara Kalbar yang bisa dikelola untuk menjadi tempat wisata yang menarik, menantikan sang sunset bersinar jingga. Lokasi penantian yang strategis tentu akan menarik mereka yang melintasi jalan utama sepanjang pantai utara itu, menjadi rest area. Di rest area ini para wisatawan pun dapat  menikmati, menyedu kopi Kalbar yang sudah banyak dikenal itu, termasuk menikmati kuliner setempat/Kalbar yang juga sudah mengindonesia.

Rest area yang unik memang perlu direncanakan oleh Kabupaten/Kota setempat, tentunya perlu dibantu oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar, karena merupakan jalan provinsi. Rasanya untuk menentukan lokasinya itu tidaklah susah dan tidak pula lama, karena para ahli terkait sudah cukup banyak tersedia. Bukankah kini “wajah” bangunan di Kalbar kian menarik seiring dengan berkembangnya program studi(prodi) arsitektur, pengembangan wilayah, lingkungan dan yang lainnya pada Universitas Tanjungpura (Untan)?

Fenomena sunset yang kaya warna cerah itu ternyata katanya memiliki data tarik estetis yang luar bisa. Keindahan alam yang muncul menjelang datangnya malam, atau perginya siang itu, yang kian diburu para penduduk lokal dan pelancong itu, merupakan peluang yang baik untuk dimanajemeni. Rest area yang akan dibangun setidaknya menjadi tempat melepaskan kepenatan setelah seharian bekerja, atau setelah bingung memikirkan lapangan pekerjaan yang diharapkan. Sunset pun bisa menjadi terapi menghilangkan stres dan kecemasan. Lokasi yang nyaman, aman, dengan fasilitas nyaman, yang ada keunikan beda dengan sunset di tempat lain, ada pula nilai tambah edukasi singkatnya, tentu akan sangat menyenangkan pengunjungnya.

Semoga beberapa waktu ke depan kita akan kian banyak disuguhkan rest area atau area permanen untuk menyaksikan keindahan sunset yang lebih/kian menarik pada masing-masing kabupaten/kota, membuat kian maraknya pantai utara, dengan tanpa mengabaikan bagian pantai yang tergerus ombak besar. Diselamatkan dengan bangunan pemecah gelombang, atau mengatasi abrasi pantai lainnya.**

 

*Penulis adalah purnatugas PNS/dosen Fak Teknik UNTAN sejak 2020; pemerhati masalah teknik sipil, infrastruktur, lingkungan hidup; anggota PII.

Editor : Hanif
#kisah mistis #kalimantan barat #pantai utara #keindahan #pantai #pelabuhan ratu #pantai pasir panjang