Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kepemimpinan Ingenuitas

Hanif PP • Selasa, 30 September 2025 | 07:16 WIB
Ferdianus Jelahu, S.Pd
Ferdianus Jelahu, S.Pd

Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*

Pemimpin adalah orang yang memimpin. Kepemimpinan adalah caranya pemimpin bertindak. Lowney (2022:18) kepemimpinan bukan suatu tindakan, melainkan suatu cara hidup. Pemimpin adalah kemampuan untuk memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Seorang pemimpin hadir untuk memberikan dampak bagi orang lain. Cahaya pemimpin yang dibutuhkan zaman ini adalah memberikan hati bagi kepentingan masyarakat. Seyogyanya, seorang pemimpin memiliki pengaruh baik untuk pelayanan publik dengan memberikan diri. Memberi diri berarti ikut berpartisipasi secara aktif bagi dan demi kepentingan masyarakat. Pertanyaan reflektif, pemimpin seperti apa yang dibutuhkan zaman sekarang?

Idealnya pemimpin bukan dikenal karena jabatannya, tetapi karena hati yang semula telah memilih untuk memberikan diri untuk pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pemimpin yang memiliki visi demikian yang diraup oleh kerinduan publik. Keterpikatan hati masyarakat untuk memilih seorang pemimpin karena pengaruhnya terhadap masyarakat memberikan kontribusi yang positif. Seorang pemimpin menjadi publik figur diharapkan memberikan yang terbaik untuk kepentingan bagi banyak orang. Pemimpin publik figur dikenal dengan pemimpin yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Artinya pemimpin yang memiliki kerinduan untuk hidup bersama rakyatnya. Apa yang dialami dan dirasakan oleh rakyat, itu pula yang dirasakan oleh pemimpin.

 

Menjadi Pemimpin yang Responsif

Ada pengakuan bahwa tugas yang dilaksankan pemimpin sangat kompleks. Karenanya, dalam melaksanakan tugas pemimpin perlu berkolaborasi dengan anggota yang lain. Kolaborasi membantu untuk mengurangi beban tugas yang kompleks. Dengan demikian, pemimpin lebih cepat respon terhadap situasi yang dialami dalam kehidupan masyarakat. Jika ingin menjadi pemimpin heroik ada empat nilai utama yang perlu dibangun menurut Lowney (2022:vii) yakni kesadaran diri, ingenuitas, heroisme dan cinta kasih. Dikatakan bahwa kisah suksesnya bangsa indonesia karena disatukan dalam kesadaran diri dan menjadi heroik.

Seorang pemimpin tidak saja memiliki kejeniusan secara intelektual, tetapi juga cinta akan tugas dan pelayanan. Komitmen tertinggi dari seorang pemimpin dalam melaskanakan tugas adalah respon terhadap apa yang terjadi. Sebagaimana disampaikan oleh Lowney (2022:22) kepemimpinan tidak didefinisikan sebagai peluang, tetapi oleh kualitas respon. Seorang tidak mengendalikan seluruh keadaan sekitar yang dihadapinya, tetapi hanya respon terhadap keadaan itu.  Tentu tidak muda, butuh pengorbanan dan kepekaan sosial. Pemimpin perlu menyadari tugas dan panggilannya sebagai pelayanan akan lebih mengenal konsekuensi terdalam dari tugasnya. Pemimpin lebih dari sekedar menyiapkan administrasi untuk menunjang kinerja. Pemimpin mampu menganalisis situasi menuju pemimpin yang lebih revolusioner, transfomatif dan adatif.

 

Kekuatan Visi Pribadi

Pemimpin tidak saja membaca peluang untuk mendorongnya menjadi seorang pemimpin. Kekuatan besar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah visi pribadinya. Visi ini mendorong untuk keluar dari dirinya, merespon terhadap situasi yang terjadi di luar dirinya. Visi pribadi menggerakan diri seorang untuk memecahkan masalah yang ditemukan dari luar dirinya. Inilah konsep kepemimpinan ingenuitas. Visi pribadi sangat menentukan cara hidup, bukan sekedar menanggapi situasi supaya trending topic tetapi dorongan yang keluar dari kekuatan visi pribadi. Masih dalam analisis Lowney (2022:23) kepemimpinan adalah kehidupan nyata seorang pemimpin. Karena itu pemimpin bukan saja sekedar untuk bertindak melainkan sebuah cara hidup. Cara hidup yang visioner, kompleksitas serta menunjukkan kepedulian terhadap permasalahan sosial.

Kepemimpinan ingenuitas merupakan kepemimpinan yang tepat konteks zaman sekarang. Kekuatan kepemimpinan ini adalah menyelesaikan masalah secara kreatif dan inovatif. Dalam menyelesaikan masalah, pertama-tama yang perlu disadari bahwa pemimpin tidak berjalan sendiri. Pemimpin bersama dengan orang lain dapat bergandengtangan dalam menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi saat ini. Kemampuan pemimpin dalam melakukan kolaborasi menujukkan kreativitas. Keberhasilan pemimpin adalah keberhasilan anggota, demikian pula sebaliknya (Kompri, 2015, Witono, 2025). Penting dalam memaknai kolaborasi untuk menjawab persoalan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Kepemimpinan igenuitas bukan sekedar kemampuan berkolaborasi, tetapi juga ada kekuatan positif lain yakni kontemplatif. Memandang segala sesuatu diluar dirinya sebagai pengalaman gerakkan dari dalam untuk menanggapi situasi secara bijaksana dengan penuh iman. Iman menjadi gerakkan keluar dirinya untuk berbuat kebaikan bagi banyak orang. Meskipun tidak selalu mudah, tetapi hal melekat dalam diri seorang pemimpin. Lowney (2022:42) empat prinsip yang membentuk sebuah cara hidup (kesadaran diri, igenuitas, cinta kasih dan heroisme), sebentuk modo de proceder (cara bertindak). Kepemimpinan igenuitas menarik untuk terus dikaji dan perdalam.

Salah satu kelebihan lain dalam kepemimpinan igenuitas adalah merancang strategi untuk menghadapi berbagai persoalan sosial. Selain itu, terbuka pada ide-ide baru, fleksibel. Kekuatan yang bisa melaksanakan hal ini adalah latihan rohani. Latihan rohani modal bagi seorang pemimpin untuk bergerak keluar dari diri dan menanggapi situasi dengan spirit iman. Bukan sekedar kekuatan manusiawi semata, tetapi dorong iman yang menggerak keluar untuk memberikan solutif terhadap kenyataan.

Kepemimpinan igenuitas sangat fleksibel karena mampu menanggapi situasional dengan terang iman. Iman menjadi dorongan keluar dari dalam diri seorang pemimpin. Iman yang hidup memberikan dorongan yang kuat untuk menanggapi situasi yang terjadi. Kepemimpinan ini menujukkan kekuatan spiritualitas iman. Seorang pemimpin yang diterangi iman selalu berusaha untuk mewujudkan iman dalam tugas dan pelayanan. Belajar dari kepemimpinan Paus Fransiskus berani menyusuri lorong-lorong kehidupan, bahkan masuk ke dalam ruang gelap yang ditapaki umat manusia dewasa ini (Cahyadi, 2014:31). Kepemimpinan igenuitas bukan sekedar cara hidup, melankan cara bertindak. Apa yang dilakukan oleh mediang Paus Fransiskus merupakan bagian dari cara bertindak menyusuri lorong-lorong gelap. Pemimpin dengan dengan segenap panggilannya untuk melayani, maka pertama-tama yang harus ditempuh adalah usaha untuk melayani dengan menyusuri lorong-lorong gelap.

Dalam perspektif lain “lorong-lorong gelap” yang dimaksudkan adalah tantangan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas dan pelayanan. Realitas konkrit menunjukkan bahwa pemimpin sekarang, sejatinya tidak muda, pasti menghadapi berbagai tantangan, baik itu masalah kesenjangan ekonomi, sosial, politik maupun pendidikan. Apapun tantangannya, pemimpin tetap memiliki peran besar dalam berbagai dimensi nilai kehidupan. Seorang pemimpin akan menghadapi tantangan karena disposisi pemimpin melekat dalam dirinya. Satu-satu yang dilakukan adalah menghadapi tantangan demi suatu perubahan.  Hal yang tak bisa dihindari adalah kemampuan pemimpin dalam menghadapi berbagai situasi untuk suatu perubahan. Perubahan ini menujukkan cara bertindak. Seorang pemimpin sangat besar dalam memberikan dorongan perubahan. Perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, perubahan dimulai dari pemimpin.

Seyogyanya, pemimpin adalah pelayan. “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Kehadiran seorang pemimpin bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Untuk memberikan pelayanan yang terbaik, seorang pemimpin perlu mendorong rencana pelayanan yang inklusif dan aksesibel. Perubahan itu tercermin dari pelayanna inklusif dan aksesibel yang mendorong kredibilitas seorang pemimpin dalam kepemimpinan igenuitas.

Menjadi seorang pemimpin tidak hanya ditujukkan karena jabatannya. Menjadi pemimpin adalah panggilan masing-masing pribadi. Pemimpin bukan hanya tentang “keluar” dari diri, tetapi juga “masuk” ke dalam diri. Masing-masing tiap orang adalah pemimpin. Kalau menyadari panggilan sebagai pemimpin, maka tiap orang melaksanakan tugas sebagai pelayan. Bagaimana kualitas pelayanan itu diwujudkan? Ada berbagai macam cara dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal sederhana, misalkan dalam tugas dan profesi masing-masing orang. Kalau dipanggil menjadi guru. Guru adalah pemimpin. Pemimpin bagi bagi dirinya sendiri, dan pemimpin bagi muridnya. Guru dalam melaksanakan tugasnya tidak perlu menunggu pemimpin yang secara struktural sudah ada. Demikian juga siswa-siswi. Mereka juga pemimpin. Pemimpin untuk diri sendiri dan pemimpin bagi orang lain. Pemimpin bagi dirinya sendiri, misalkan dalam hal mengatur agenda kegiatan harian, pemimpin bagi orang lain mengatur jadwal kerja kelompok atau memimpin diskusi, dan masih banyak hal lain. Inilah yang ditawarkan dalam kepemimpinan Igenuitas, berkaitan dengan cara hidup. Sederhana namun, memberikan pengaruh besar terhdap semua lini kehidupan.

Kepemimpinan igenuitas adalah kepemimpin salah pedekatan kepemimpinan yang fleksibel. Kekuatan kepemimpinan ini adalah cara bertindak. Tidak sekedar bertindak atas dasar kemampuan manusiawi, tetapi dilandasi dengan iman. Iman menjadi hal esensial dalam seluruh kepribadiaan dan tindakan pemimpin. Dengan kekuatan iman, pemimpin bergerak keluar untuk memberikan pengaruh transfomasi karya pelayanan. Semoga kita semua menyadari tugas dan panggilan kita sebagai seorang pemimpin. Pemimpin bagi diri sendiri dan pemimpin bagi orang lain. Dan selalu mewujudkan kolaborasi untuk perubahan bersama lewat kekuatan cara hidup.**

 

*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak; alumni USD Yogyakarta; mahasiswa prodi AP Untan Pontianak.

Editor : Hanif
#publik #Responsif #Pemimpin Ideal #melayani #Kolaboratif #dampak positif #masyarakat