Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

TNI Prima TNI Rakyat Indonesia Maju

Hanif PP • Rabu, 1 Oktober 2025 | 07:50 WIB
Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

HUT ke-80 TNI mengambil tema "TNI Prima TNI Bersama Rakyat Indonesia Maju." Sudah 80 TNI (Tentara Nasional Indonesia) berkiprah dengan semangat juang bersama rakyat Indonesia, sejak merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan. Sampai hari ini, TNI bersama rakyat Indonesia tetap menjaga batas teritorial. Memastikan pertahanan dan keamanan negara dari serangan musuh, dalam dan luar negeri, seiring dengan pembenahan kualitas dan kuantitas untuk menghasilkan prajurit handal, cerdas, berwawasan ke depan, dan setara dengan bangsa-bangsa di dunia, bahkan berkemajuan, berkemampuan.

Momentum HUT ke-80 TNI, literasi ini mengetengahkan guna menyimak kehidupan Pahlawan Nasional, Jenderal Besar Soedirman  sebagai pribadi dan kapasitas Panglima TNI pertama dalam sejarah Indonesia. Melihat dari dekat sosok pribadi yang berbudi mulia, dan prajurit setia. Semua elemen bangsa, wajib belajar dari kehidupan kesederhanaan beliau. Fakta, eksistensi TNI dan rakyat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran Jenderal Soedirman, sosok yang membidani kelahiran TNI. Sampai hari ini, TNI dengan tiga angkatan, tetap menjalankan peran strategis dalam menjaga kedaulatan NKRI. TNI Angkatan Darat (TNI AD), TNI Angkatan Laut (TNI AL), TNI Angkatan Udara (TNI AU). Masing-masing angkatan memiliki semboyan heroik di darat, laut, udara.

Esensi kebenaran, kekuatan, keberanian TNI terletak pada pengamalan Pancasila sakti: Ketuhanan yang maha esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Diikuti oleh semboyan tangguh TNI "Tri Dharma Eka Karma" (Tiga Tugas Suci, Satu Perbuatan Mulia). Dijabarkan ke dalam semboyan "Budi Perkasa di Darat, Laut, Udara. TNI Angkatan Darat dengan semboyan "Kartika Eka Paksi" (Garuda yang Satu lagi Perkasa). TNI Angkatan Laut dengan semboyan "Jalesveva Jayamahe" (Di Laut Kami Jaya). TNI Angkatan Udara dengan semboyan "Swa Bhuwana Paksa" (Sayap Tanah Airku). Kembali bahas tentang kepribadian dan giat Jenderal Besar Soedirman yang seakan kebaikannya seluas daratan, sedalam lautan, sepenuh udara. Kuat namun lembut, lembut namun kuat.

Apakah gerangan yang mendasari semua perjuangan Jenderal Besar Soedirman? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mau tidak mau, sejarawan menilik dari dekat latar belakang keluarga, pendidikan dan pengalaman sang Jenderal. Sejak kecil, dia dibesarkan dari keluarga yang sangat taat beragama. Kemudian dia memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar (HIS) Muhammadiyah di Purwokerto. Melanjutkan studi ke sekolah Guru Muhammadiyah (Mu'allimin) di Surakarta (Solo). Selanjutnya, pengalaman menjadi prajurit pejuang dan pejuang prajurit sampai wafat. Sang Jenderal sangat menjaga kewajiban salat (Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya) dengan mendirikan salat di awal waktu. Sang Jenderal tidak pernah absen dari mendirikan Salat Tahajud meskipun dalam kondisi sakit parah. Mengajak para pejuang gerilya untuk salat malam berjamaah. Sang Jenderal sering menyampaikan nasehat agama (tausiyah) dan khutbah. Di sini, letak kekuatan sang Jenderal adalah bersama dengan Tuhan Allah SWT. Meskipun didera penyakit tuberkulosis yang akut, sang Jenderal Soedirman tidak pernah menghentikan perang gerilya, walau di atas tandu yang digotong oleh rakyat pejuang dan pejuang rakyat.

Kini, masih adakah rasa malu dari para koruptor yang memperkaya diri dan keluarga, saat bercermin kepada ketulusan hati sang Jenderal dalam berkorban? Beliau mengajar kepada generasi milenial melalui landscape kehidupan adalah: Beranilah berkorban untuk rakyat, bukan berani mengorbankan rakyat untuk korupsi! Lihatlah bagaimana menuruni lembah, mengarungi samudera, mendaki bukit, keluar masuk hutan belantara, melintasi sungai saat malam yang gelap. Tidak menyurutkan tapak kaki perjuangan Jenderal Soedirman dan pasukan gerilya. Sudah tidak terhitung pahlawan yang wafat. Demi kepentingan bangsa dan kemerdekaan Indonesia. Kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Para pahlawan, tidak ada niat memperkaya diri dan keluarga.

Masih adakah rasa malu dari para koruptor? Para koruptor yang mencuri uang rakyat, menipu rakyat, dan membegal Pancasila. Masih adakah rasa malu? Ketika bercermin kepada Jenderal Soedirman (pahlawan kusuma bangsa) yang penuh keikhlasan! Perlu dibaca, amanat terakhir Jenderal Besar Soedirman, “Kami Tentara Republik Indonesia, akan timbul tenggelam bersama negara. Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita. Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun. Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini. Lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Bahwa kemerdekaan satu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa, harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dilenyapkan

oleh manusia siapapun.” Jelas, amanat Jenderal Besar Soedirman menunjukkan beliau adalah pribadi mulia, tentara intelektual dan intelektual tentara. Tidak asing lagi, nama besar beliau dicatat oleh lembar sejarah dunia. Diabadikan dalam nama jalan, nama gedung, nama universitas. Dan tidak sedikit bangsa Indonesia menjadikan nama beliau, sebagai nama keharuman bagi anak-anak Indonesia. Kisah patriotik dan heroik beliau ditulis dalam karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta sudah banyak dikutip (sitasi) oleh kaum terpelajar dan sarjana sebagai referensi tulisan mereka. Dan ditulis dengan tinta emas sebagai bagian dari Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Kini, rakyat dan bangsa Indonesia merasa berutang budi, berutang jasa kepada Bapak TNI, Jenderal Besar Soedirman. Mengingat bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.

Penghargaan atas dedikasinya kepada rakyat dan bangsa Indonesia, pertama, gelar Pahlawan Nasional. Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Jenderal Soedirman pada tanggal 20 Juli 1950. Pengakuan negara atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kedua, pangkat Jenderal Anumerta. Dianugerahkan pada tahun 1950 sebagai bentuk pengabdian Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia. Ketiga, pangkat Jenderal Besar Soedirman. Pada tanggal 30 September 1977, Jenderal Soedirman dianugerahi pangkat Jenderal Besar Anumerta, merupakan pangkat tertinggi di jajaran TNI. Demikian literasi ini dihadirkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa atas pengabdian tulus TNI, dari rakyat untuk rakyat. Selamat HUT ke-80 TNI. TNI Prima, TNI Rakyat Indonesia Maju. **

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#bersama rakyat #semangat #nkri #soedirman #pancasila #prima #TNI