Oleh: Santriadi *
Prinsip 3S yang digalakkan oleh pemerintah merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH). Prinsip 3S itu adalah Screen Time, (2) Screen Break, dan Screen Zone. Hal ini begitu penting untuk diketahui oleh semua orangtua dan wali siswa sekaligus untuk menerapkannya di lingkungan keluarga. Tujuannya adalah agar setiap siswa tidak memperoleh dampak negatif ketika mereka menggunakan gawai yang dimilikinya.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang tidak dapat kita hindari, dan penggunaan gawai menjadi keperluan dalam kehidupan sehari-hari. Di era modern seperti sekarang, gawai sudah menjadi bagian penting dan tidak terpisahkan dalam hidup ini. Hampir setiap orang memilikinya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tidak memandang usia, jenis kelamin, status sosial dan lainnya turut memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Keberadaan gawai tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana belajar, bekerja, hiburan, bahkan membantu aktivitas sehari-hari.
Namun, penggunaan gawai juga harus bijak. Jika tidak, bisa menimbulkan dampak negatif seperti kecanduan, berkurangnya interaksi sosial secara langsung, jadi pribadi yang malas gerak (mager), hingga gangguan kesehatan mata. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memanfaatkan gawai sesuai keperluan, bukan sekadar untuk hiburan berlebihan apalagi sampai melalaikan dari tugas dan tanggungjawab masing-masing.
Oleh karena itulah pemerintah menggalakkan prinsip 3S untuk dijadikan sebagai habits atau kebiasaan hidup anak-anak usia sekolah. Prinsip pertama adalah screen time. Prinsip ini mengajarkan siswa untuk mengatur jadwal menggunakan gawai dengan batasan waktu tertentu. Oleh karena itu, orangtua dan wali siswa harus memiliki kesepakatan di rumah dalam hal penggunaan gawai, sehingga mereka tidak terlalu berlebihan dalam menggunakan gadget yang berakibat mereka menjadi terlena dan melupakan tugas dan kewajibannya sebagai anak dan siswa. Sebagai anak tentunya mereka harus membantu pekerjaan orangtuanya, sebagai siswa harus mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang mungkin saja di sekolah belum diselesaikan.
Prinsip kedua adalah Screen Break. Prinsip kedua ini melakukan jeda ketika anak beraktivitas dengan gawai untuk bermain, berinteraksi atau bersosialisasi. Itu artinya, setiap anak yang sedang menggunakan gawainya harus ada jeda waktu sehingga mereka tidak terus-menerus dengan gawai. Sebagai contoh, ketika anak sudah pulang sekolah dan berada di rumah jika masih memungkinkan untuk tidur siang, maka itu lebih baik daripada pulang dari sekolah langsung main gawai. Tidur siang sepulang dari sekolah merupakan salah satu implementasi prinsip screen break.
Prinsip ketiga adalah Screen Zone. Pada prinsip yang ketiga ini harus menerapkan wilayah bebas gadget di tiga titik di rumah, yaitu ruang tidur, ruang makan, dan WC/kamar mandi. Itu artinya, setiap anak dilarang sama sekali untuk tidak menggunakan gawainya sambil baring-baring atau “sebagai pengantar tidur.” Anak juga dilarang menggunakan gawai ketika sedang makan, mereka harus konsen makan, jangan makan sambil menggunakan gadget. Dan anak jangan sampai main gadget di WC/kamar mandi, tentu hal ini sangat tidak baik untuk dilakukan, betapa tidak sopan jika ada anak yang sambil main gawai di WC/kamar mandi.
Ketiga prinsip tersebut jika dilakukan, niscaya anak tidak terlalu ketergantungan dengan gawai. Tinggal bagaimana orangtua bersama putra-putrinya untuk mengatur jadwal atau membuat kesepakatan agara anak-anak kita menggunakan gawai untuk belajar, sekadar hiburan, mencari informasi, dan lain-lain sesuai dengan porsinya dan tidak berlebihan
Kesimpulannya, gawai memang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya adalah sebagai sarana komunikasi, memperoleh informasi, pendidikan (untuk belajar), hiburan, hingga penunjang pekerjaan dan aktivitas lainnya. Dengan penggunaan yang bijak, gawai dapat menjadi alat atau sarana yang membawa banyak kebaikan dan kemudahan dalam hidup kita yang membuat segala sesuatu menjadi lebih praktis dan sangat membantu.
Setiap siswa juga harus memahami dan menyadari bahwa dirinya sebagai insan terpelajar yang memiliki masa depan yang cerah harus melakukan pembiasaan 3S ini untuk mengatur jadwal penggunaan gawai, ada waktu jedanya juga, dan ada tempat tertentu yang tidak untuk menggunakan gawai. Wallahualam.**
*) Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.
Editor : Hanif