Oleh: Samuel, S.E., M.M.*
Memulai dari hal yang ada di sekitar kita tampaknya sesuatu yang mudah. Tetapi pernahkah kita menyadarinya? Kesadaran inilah yang penulis maksud untuk tidak meremehkan hal-hal yang ada di sekitar. Kekuatan untuk masuk dan merasakan keadaan merupakan bagian dari kecerdasan manusia dalam mengoptimalkan pikiran dan pemahaman. Semester ini, saya mengampu mata kuliah (matkul) Manajemen Pemasaran bagi mahasiswa semester 3 di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. Lumayan, ada 3 kelas pula.
Awal perkuliahan, saya (me)ramu topik hakikat ‘Manajemen + Pemasaran’. Sebagaimana yang Filsuf Martin Heidegger (Eksistensialisme, 1889 – 1976) dalam buku Buku Heidegger dan Mistik Keseharian: Sebuah Pengantar Menuju Sein und Zeit adalah karya Prof F. Budi Hardiman yang membahas pemikiran Martin Heidegger, terutama melalui karyanya Sein und Zeit (Ada dan Waktu). Untuk masuk dalam sebuah pemahaman mendalam, tak ada cara lain – selain masuk melalui hal-hal yang dangkal. Hanya melalui (menyadari) hal-hal yang dangkal-lah, kita dapat masuk dalam paham yang Mendalam (M- kapital).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendengar kata “pemasaran” dan langsung mengaitkannya dengan promosi, iklan, atau strategi menjual barang. Namun sebenarnya, makna pemasaran jauh lebih dalam dari sekadar aktivitas menjual. Ia adalah cara berpikir, cara memahami manusia, dan cara menciptakan nilai yang bermanfaat bagi semua pihak.
Philip Kotler, dalam buku Principles of Marketing edisi ke-19 (2023), menyebut manajemen pemasaran sebagai proses merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang bertujuan menciptakan pertukaran yang memuaskan kebutuhan individu dan organisasi. Dalam kata lain, pemasaran bukan semata soal transaksi ekonomi, tetapi tentang membangun hubungan dan nilai.
Di era modern ini, hakikat manajemen pemasaran tidak lagi berhenti pada “bagaimana produk terjual”, melainkan pada “bagaimana pelanggan merasa puas dan terhubung secara emosional”. Perusahaan yang sukses bukan hanya yang pandai membuat iklan atau menurunkan harga, melainkan yang mampu membangun hubungan yang tulus dan berkelanjutan dengan pelanggannya.
Bayangkan seorang pengusaha kecil di Pontianak yang menjual kopi lokal (Warkop Asiang misalnya). Dahulu mungkin ia hanya berpikir bagaimana agar kopinya laku di pasar. Tapi kini, ia mulai memahami bahwa pelanggan tidak hanya mencari rasa kopi, melainkan juga pengalaman, suasana kedai yang nyaman, keramahan barista, hingga cerita di balik biji kopi dari hulu Kalimantan. Di sinilah terjadi pergeseran mendasar: dari fokus pada produk menuju fokus pada nilai dan hubungan.
Buku Marketing Management edisi ke-17 karya Kotler, Keller, dan Chernev (2024) menjelaskan bahwa pemasaran modern berpusat pada customer experience, pengalaman pelanggan sebagai inti dari strategi. Setiap titik interaksi antara pelanggan dan merek, mulai dari media sosial hingga pelayanan di tempat, harus dirancang untuk membangun kepercayaan dan rasa memiliki. Pemasaran kini bukan lagi “menjual kepada” pelanggan, tetapi “membangun bersama” pelanggan.
Perubahan besar lainnya datang dari dunia digital. Dalam tiga tahun terakhir, teknologi telah mengubah wajah pemasaran secara drastis. Data menjadi bahan bakar utama. Kecerdasan buatan (AI) dan analitik memungkinkan perusahaan mengetahui kebiasaan pelanggan, memperkirakan kebutuhan mereka, bahkan menyesuaikan pesan promosi secara personal. Namun, di balik kemajuan ini, tetap ada hal yang tak tergantikan: sentuhan manusia.
Teknologi memang membantu kita memahami pola, tetapi hanya manusia yang bisa memahami makna. Data bisa memberi tahu apa yang dibeli pelanggan, tapi tidak selalu bisa menjelaskan mengapa mereka membelinya. Di sinilah peran penting manajer pemasaran yang memiliki empati, kemampuan membaca konteks, dan kepekaan sosial.
Pelaku usaha kecil di Kalimantan Barat yang memanfaatkan media sosial, misalnya, kini tidak hanya memposting produk, tetapi juga berdialog dengan pelanggan. Mereka membaca komentar, mendengarkan masukan, dan merespons dengan cepat. Ini bukan sekadar promosi digital, tetapi bentuk pemasaran yang lebih manusiawi, mendengar sebelum berbicara.
Selain dimensi teknologi, hakikat pemasaran juga semakin melekat pada tanggung jawab sosial. Masyarakat kini lebih peduli terhadap isu lingkungan, keadilan sosial, dan keaslian produk. Konsumen ingin tahu apakah bahan yang digunakan ramah lingkungan, apakah produsen memperlakukan pekerja dengan adil, dan apakah merek yang mereka beli jujur terhadap nilai yang diusungnya.
Warisan dan Budaya
Kotler dan Keller (2022) menyebut tren ini sebagai Marketing for a Better World, pemasaran yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Artinya, perusahaan tidak boleh lagi hanya berpikir “bagaimana menjual lebih banyak”, melainkan juga “bagaimana memberi manfaat yang lebih luas”.
Dalam konteks Pontianak dan Kalimantan Barat, banyak contoh menarik tentang hal ini. Pengrajin tenun Dayak, misalnya, kini memasarkan produknya dengan menonjolkan nilai budaya dan pelestarian tradisi. Setiap lembar kain bukan sekadar barang dagangan, tetapi simbol identitas dan keberlanjutan. Di tangan mereka, pemasaran menjadi sarana untuk menjaga warisan budaya sekaligus menghidupkan ekonomi lokal.
Hakikat manajemen pemasaran juga tidak bisa dipisahkan dari kerja sama dan keterhubungan antarbagian dalam organisasi. Keberhasilan pemasaran bukan hanya tugas bagian promosi, tetapi hasil dari sinergi semua pihak, produksi, keuangan, layanan pelanggan, hingga distribusi. Jika satu bagian gagal, seluruh pengalaman pelanggan bisa rusak.
Transaksi ke Nilai
Bayangkan sebuah kafe yang menampilkan promosi menarik di Instagram, tetapi pelayan di tempat bersikap acuh. Janji merek langsung runtuh. Karena itu, pemasaran sejati bukan hanya tentang komunikasi keluar, tetapi juga koordinasi ke dalam. Setiap karyawan harus memahami nilai yang dijanjikan merek, lalu mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Namun, dalam semua kemajuan dan strategi itu, manajemen pemasaran tetap menghadapi dilema besar: antara data dan nurani. Ketika semua hal bisa diukur, klik, impresi, penjualan, muncul godaan untuk mengabaikan sisi kemanusiaan. Banyak organisasi terjebak dalam angka dan algoritma, lalu kehilangan makna sejati dari hubungan dengan manusia.
Padahal, inti dari pemasaran adalah pelayanan. Pemasaran yang baik tidak memanipulasi, melainkan membantu. Ia bukan sekadar seni menjual barang, tetapi seni memahami kebutuhan manusia dan menciptakan solusi yang membuat hidup mereka lebih baik. Dalam konteks sosial kita, di mana banyak pelaku usaha sedang berjuang bertahan, pemahaman akan hakikat pemasaran menjadi semakin penting. Dengan memahami pasar sebagai kumpulan manusia, bukan sekadar target penjualan, kita bisa membangun ekonomi yang lebih berakar, lebih beretika, dan lebih bermakna.
Maka, jika ditarik garis besar, hakikat manajemen pemasaran hari ini melampaui batas ekonomi. Ia adalah seni menghubungkan nilai, manusia, dan masa depan. Pemasaran yang baik bukan sekadar menjual produk, melainkan menjual kebaikan. Ia mengajarkan kita bahwa bisnis bisa menjadi jalan pelayanan, dan bahwa laba sejati bukan hanya uang, melainkan kepercayaan. Di tengah dunia yang serba cepat, pemasaran yang berjiwa manusia justru menjadi pembeda utama. Di sinilah kita menemukan hakikat sejatinya: dari transaksi menuju nilai, dari produk menuju manusia. Semoga!**
*Penulis adalah Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak.
Editor : Hanif