Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Selamat Hari Jadi Kota Pontianak

Hanif PP • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 13:29 WIB
Ma
Ma

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

TANGGAL 23 Oktober 1771 adalah hari bersejarah. Hari jadi Kota Pontianak. Posisi Pontianak ibarat berada di tengah lintasan zamrud khatulistiwa. Khatulistiwa terdiri atas dua kata, khat artinya tulisan, dan istiwa artinya garis lurus.

Tertulis sebagai garis lurus yang menjadi alur perjalanan matahari. Karena posisi khatulistiwa inilah, kiblat salat bagi umat yang berada di wilayah Pontianak dan sekitarnya, langsung tertuju ke arah pintu Ka'bah (Baitullah) di kota Mekah AlMukaramah. Tidak berlebihan, karunia agung bagi warga Kota Pontianak yang mendapat keistimewaan tersendiri, kemuliaan terhormat (karamah).

Sudah 254 tahun yang silam, Pontianak yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri, sebuah sejarah panjang penuh perjuangan. Semangat yang dipompa ialah kebersamaan membangun Pontianak. Welcome (marhaban) bagi semua para pendatang. Bahkan, saking ramai pendatang, sering luput dan lupa terdata.

Kota Pontianak dan warganya sangat terbuka. Menyebabkan siapapun yang mencari penghidupan di kota ini, telah ikut meramaikan kota yang dahulu sepi, karena penduduk lokal hanya sedikit. Pendatang (muhajirin, imigran) orang Jawa, Padang, Bugis, Banjar, Batak, Madura, kecuali suku Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan.

Ada pula yang datang dari negara lain, Arab, Cina, India, Tambi, Eropa, ikut membaur, dan andil dalam memperkaya khazanah kebudayaan masyarakat asli tempatan. Pernikahan silang antar suku, agama, ras dan golongan, menyebabkan kehidupan semakin meluas dan semarak. Seperti hadirnya restoran Padang, martabak Tambi, kebab Arab, roti canai India, nasi kabsah.

Dari beberapa sumber, Pontianak mulai nampak geliat ekonominya, terutama pascapelaksanaan MTQ Nasional tahun 1982 di Pontianak. Pontianak mulai dilirik oleh investor dalam dan luar negeri. Lembaga keuangan, BUMN, pendirian berbagai sekolah mulai marak, perusahaan otomotif, dan pembukaan jalur dagang melalui darat, laut dan udara, semakin ditingkatkan.

Landscape perjalanan sejarah yang panjang dari kota Pontianak, wajib setiap anak yang lahir di Provinsi Kalimantan Barat adalah penduduk Kalimantan Barat. Ingatkan generasi dengan petuah lama, "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung." Jika tidak, bersiap hengkang dari bumi Kalbar. Kalbar umumnya, dan Pontianak khususnya, meski masyarakatnya "adem-ayem", memiliki memori sejarah kejuangan.

Mengenang nama Rahadi Oesman, Putri Dara Nante, Putri Dara Hitam, Pangeran Nata Kesuma, Urai Bawadi, Pangsuma, Panglima Aim, mereka adalah pejuang. Maksudnya, generasi muda sekarang tidak dituntut untuk mengusir penjajah. Tapi dituntut mengisi kemerdekaan. Tidak boleh ada dominasi suku tertentu yang bila berkuasa cenderung korup dan nepotisme. Bila sifat cauvinistik dan fanatisme buta dipertahankan, mereka pasti akan berhadapan dengan semesta yang berkeadilan. Tanah, air, angin, api dan dinding peradaban masyarakat Pontianak dijaga oleh para leluhur mereka yang saleh. Jadi, Kota Pontianak jangan dikotori, dia pasti akan berefek.

Kota ini dibuka dengan doa, suara azan Subuh, salat dari tanah seberang (lokasi Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri). Suara azan Subuh yang menghalau "para dedemit". Mengusir hantu dan kuntilanak, serta semua perdukunan.

Tidak ada satupun suku dengan warna dominan di Pontianak. Niscaya siapapun, suku apapun yang ingin memaksakan kehendak dan "sok" kuasa, pasti berhadapan dengan insan yang terpanggil menegakkan kebenaran, komunitas yang lintas suku, agama dan bahasa.

Kekuatan yang sudah lama dibangun sejak dahulu, sebagai warisan budaya Pontianak yang terjaga. Membaur itu penting, dengan catatan setiap orang harus menjaga lisan dan perangai. Jangan sampai merasa menonjol dari yang lain karena kasta keturunan, hasta kekayaan, pusaka pengetahuan. Masyarakat Pontianak sudah cerdas. Jangan karena sudah dibacakan surah Yasin, harga sebotol minyak wangi 6 mili melambung tinggi, melampaui harga pasar berlipat. Boleh mendirikan sekolah, madrasah, pesantren dan membuka pasar baru. Namun perlu diingat, jangan membodohi rakyat.

Pangsa pasar tradisional, pasar modern, dan pasar digital berjalan seiring, selama kejujuran dijunjung tinggi. Fenomena yang terjadi di Pontianak, berbeda dengan di Jakarta. Bila perdagangan online mematikan pasar tradisional, berbeda kondisi di Pontianak. Kestabilan pasar dan "berbagi rezeki" ala Pontianak inilah, wajib warga kota pelihara. Disamping pedagang keliling kota ibarat supermarket yang siap mengunjungi rumah anda. Penawaran dan permintaan (supply and demand) antara penjual dan pembeli, transaksi bisa terjadi di depan rumah. Sebuah tipe (model) dagang khas Pontianak.

Tidak berlebihan jika tahun mendatang, Pontianak menjadi kota tujuan wisawatan domestik dan mancanegara. Kita menjual keunikan yang dimiliki oleh warganya, keramahan, keamanan, kebersihan, kesantunan. Mulailah mengendarai mobil dengan santun, sehingga pengguna jalan merasa aman. Jangan kebut-kebutan, karena jalan raya bukan sirkuit mobil balap. Jalan raya bukan lapangan pacu.

Upayakan Pontianak menjadi tujuan para penuntut ilmu. Mahasiswa berduyun-duyun datang dari dalam dan luar negeri. Universitas tidak saja karena memiliki guru besar, tetapi ditunjang oleh fasilitas kuliah yang enak dan dosen yang rendah hati.

Kota Pontianak selain menjadi tujuan pelajar, juga menjadi tujuan medis. Layanan kesehatan prima, ramah, keterjangkauan biaya, dan kenyamanan pasien. Ditunjang oleh dokter yang profesional dan alat kesehatan canggih. Harapan bersama ialah Pontianak menjadi tuan rumah pendidikan

modern dan rumah kesehatan prima. Kedua primadona tersebut akan menjadi daya tarik yang unik.

Mengingat lahan pertanian dan perkebunan di kota Pontianak sudah menipis. Para pemangku kota harus memikirkan lahan apa yang sanggup menyejahterakan warga kota. Memikirkan dan menyikapi peralihan dari masyarakat agraris ke industri. Dari masyarakat industri menuju masyarakat digital. Membuka peluang kerja yang mampu membuat masyarakat kota sejahtera, sanggup menguliahkan anak mereka, kesehatan yang terjamin, dan sanitasi lingkungan yang bersih.

Lalu, kerja kita bersama adalah, obati luka lama warga kota, saat diserang oleh virus DBD (demam berdarah dengue). Mengingat wilayah Pontianak berpotensi pada area genangan air. Di sekolah, kantor, pasar yang di bawah kolongnya tergenang air, menjadi lahan subur bagi pengembangbiakan nyamuk Aedes. Beberapa anak dan siswa kita telah wafat saat bertahan melawan DBD.

Kemudian ketersediaan air bersih yang siap minum, belum bisa dihadirkan. Sehingga laporan tidak saja tentang yang baik. Atau laporan kemajuan pembangunan kota ABS (asal bapak senang). Praktik yang mencederai rasa keadilan, pasti akan mendapat balasan Tuhan. Praktik menolak siswa untuk masuk sekolah, karena tidak mampu membeli baju batik khas Pontianak, atau tidak bersepatu. Lalu, mana yang lebih dipentingkan, membeli beras atau membeli buku paket? SPP (sumbangan penyelenggaraan pendidikan) memang tidak bayar, karena sudah ditanggung oleh dana BOS (biaya operasional sekolah). Namun, pungutan di luar itu, masih adakah? Sama dengan UKT (uang kuliah tunggal), sudahkah mahasiswa terbebas dari segala beban finansial akademik?

Listrik yang sering mengalami jadwal pemadaman atau padam tiba-tiba, tiba-tiba padam. Tidak peduli saat kita berbuka puasa, atau sedang Salat Maghrib. Bagi perusahaan produksi, dalam beberapa menit bisa mengalami kerugian besar. Dan mempercepat kerusakan perkakas elektronik di rumah tangga.

Semoga literasi ini, dalam rangka HUT ke-254 Kota Pontianak menjadi cermin untuk menengok diri. Bukan tepuk tangan dan sorak sorai saja. Tapi bangkit-bangun untuk warga Pontianak yang sehat dan sejahtera.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#lintas suku #kebersamaan #toleransi #Kota Khatulistiwa #pontianak #hari jadi #budaya