Oleh: Dilla Dian Sari
Matahari mulai merunduk di ufuk barat, menghilangkan semburat cahaya kuning keemasan di atas Sungai Kapuas yang membentang lebar. Arus sungai bergerak tenang, seakan mendengarkan irama hati penduduk kampung yang terletak di tepian. Di sebuah rumah panggung yang kokoh, dua lelaki berdiri menyaksikan perubahan langit, menanti senja yang datang perlahan.
Ilan berdiri sambil memandang sungai. Di sampingnya, sang kakek, Asun, yang sudah beruban, duduk bersandar pada tiang rumah dengan sebuah senyum bijak yang selalu menyiratkan cerita-cerita lama.
“Kakek, kenapa senja selalu pergi?” tanya Ilan, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.
"Kenapa ia tak pernah bertahan seperti matahari yang pagi-pagi kembali lagi?"
Asun menatap cucunya dengan mata penuh kebijaksanaan. Ada sedikit tawa di ujung bibirnya, seperti ada lelucon yang ingin dibagi, meski kata-kata yang akan keluar tetap penuh makna.
“Senja itu, Ilan, seperti kita yang harus belajar meninggalkan dan kembali. Setiap hari ia pergi untuk memberi ruang bagi malam, tapi ia akan kembali lagi besok. Sama seperti kita, yang ada waktunya untuk pergi, tapi hati kita tetap akan kembali kepada tempat asal, seperti Kapuas ini,” jawab Asun dengan lembut.
Ilan terdiam, merenung. Sejak kecil, dia sudah mendengar kisah-kisah tentang sungai ini, sungai yang dianggap sebagai darah kehidupan bagi suku Dayak. Namun, meski sudah sering mendengar cerita, hari ini ada yang berbeda. Pertanyaan itu muncul begitu saja dari dalam dirinya, dan ia merasa senja di Kapuas ini lebih dari sekadar pemandangan indah yang bisa dinikmati dengan mata.
Asun menyadari tatapan Ilan yang penuh makna. Dia tersenyum bijak. "Mungkin kita terlalu sering melihat senja hanya sebagai tanda malam akan datang. Padahal, ia adalah penanda waktu, penanda perubahan. Jika kau ingin tahu tentang hidup, lihatlah senja. Ia selalu memberikan sesuatu untuk kita pikirkan."
“Maksud kakek?” Ilan bertanya lagi.
Asun tersenyum lebih lebar. “Senja itu kan bukan malam, dan bukan pula siang. Ia adalah momen peralihan. Sama seperti hidup kita, Ilan. Ada saat-saat kita merasa kehilangan, dan ada pula waktu-waktu kita merasakan harapan datang kembali. Waktu yang mengalir tanpa henti, seperti sungai ini.”
Ilan terdiam. Dia menatap sungai, seakan mencoba menangkap filosofi yang terkandung dalam kata-kata kakeknya. Namun, sesuatu yang lebih personal sedang bergulir di benaknya. Selama ini, ia merasa tak ada perubahan besar dalam hidupnya, hanya rutinitas sehari-hari di kampung yang sama, mengurus ladang, berburu, dan berinteraksi dengan sesama warga. Tetapi ada kerinduan yang mendalam dalam hatinya, sebuah keinginan untuk melangkah lebih jauh, mencari jawaban atas apa yang ada di luar sana.
“Kadang aku merasa... aku ingin meninggalkan kampung ini, kakek. Melihat dunia yang lebih luas, belajar lebih banyak. Tapi aku takut...” Ilan akhirnya mengungkapkan kegelisahannya.
Asun menatap cucunya dalam diam. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Ada pepatah di kampung kita, Ilan. ‘Arus sungai itu tak pernah bisa dibendung.’ Kau tidak akan bisa menahan keinginan untuk mencari, seperti kau tidak bisa menghentikan aliran sungai Kapuas ini. Tetapi ingat, apapun yang kau temui di luar sana, ingatlah bahwa rumahmu selalu ada di sini.”
Ilan mengangguk perlahan. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan, namun kata-kata kakeknya memberi ketenangan.
Namun, tidak semua pikiran Ilan tenang. Tiba-tiba, wajahnya menjadi serius. "Tapi, kakek... bagaimana jika dunia luar itu ternyata lebih baik daripada tempat ini? Kalau aku pergi dan menemukan kebahagiaan di luar, apakah aku harus kembali?"
Asun tertawa ringan, suaranya mengalir lembut, penuh dengan kearifan. “Ilan, kebahagiaan itu bukan tempat, melainkan perjalanan. Dan setiap perjalanan yang kau lakukan, pasti akan ada pulangnya. Seperti senja yang kembali tiap hari, meski malam selalu menanti.”
Ilan terdiam. Kata-kata itu seperti pendar cahaya yang menembus kabut keraguannya. Namun, ia masih merasa ada yang mengganjal.
“Lalu, bagaimana dengan orang yang kita tinggalkan, kakek? Mereka yang tak mengerti kenapa kita pergi?” Ilan bertanya dengan lebih berat. “Aku mendengar banyak cerita, kakek, bahwa beberapa orang pergi dan tak pernah kembali. Aku takut menjadi seperti mereka.”
Asun menghela napas panjang. “Anakku, ada yang disebut dengan kehilangan. Itu bagian dari hidup. Tetapi yang terpenting, sebelum kau pergi, pastikan kau tidak pernah meninggalkan cinta dan rasa hormat pada orang-orang yang kau cintai. Itulah yang akan menuntunmu pulang, dan jika kau kehilangan mereka, kau akan merasakan bahwa hatimu selalu ada di tempat itu.”
Ilan terdiam sejenak. Ada ketegangan di dalam dirinya, namun ia merasa semakin terbuka untuk memaknai kata-kata kakeknya.
“Jadi... aku harus pergi untuk menemukan diriku sendiri?” tanya Ilan dengan suara pelan, penuh harap.
“Jika itu yang kau rasa perlu, pergilah. Namun, jangan lupakan bahwa senja ini selalu menunggu kita kembali,” jawab Asun sambil menatap ke arah matahari yang mulai tenggelam, warnanya memerah seperti darah yang mengalir.
Ilan akhirnya mengangguk. Meski ada rasa cemas yang mengisi dadanya, ada juga sebuah keyakinan baru yang tumbuh. Ia tahu bahwa perjalanannya bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk memahami makna hidup yang lebih luas. Dan saat ia kembali, mungkin senja di Sungai Kapuas akan selalu menunggu, memberikan kedamaian yang tak pernah berubah.
Saat senja benar-benar datang, menutup langit dengan warna kemerahan yang membara, Ilan duduk kembali di tepi rumah panggung bersama kakeknya. Senja yang tak pernah pulang, katanya. Sementara itu, arus Sungai Kapuas terus bergerak, tak peduli dengan waktu, tak peduli dengan siapa yang berdiri di tepiannya. Ia mengalir, membawa cerita, membawa kisah hidup yang terus berkembang.
“Semoga perjalananmu seperti senja, Ilan. Sebuah perjalanan yang kembali lagi,” kata Asun dengan suara pelan, senyumnya tak pernah pudar.
Ilan menatap senja, merasa damai. Ia tahu, apa pun yang terjadi, rumah dan kampung ini akan selalu ada di dalam hatinya. Seperti senja yang selalu kembali ke Sungai Kapuas.
Senja telah berlalu, seperti halnya perjalanan yang telah dimulai. Ilan kini mengembara di luar kampung, menjelajahi dunia yang lebih luas, sebagaimana hatinya yang selalu ingin tahu, mencari jawaban atas segala pertanyaan yang belum terjawab.
Namun, dalam setiap langkahnya, ada sesuatu yang tetap bersamanya, sebuah keheningan yang berasal dari kata-kata kakeknya, sebuah pesan yang disampaikan dengan penuh kebijaksanaan dan cinta.
Ilan seringkali mengingat kembali senja di Sungai Kapuas. Ketika ia merasa rindu atau terluka, ia akan menutup matanya dan membayangkan warna kemerahan yang menghiasi langit, betapa damainya senja itu saat menyelimuti sungai. Senja yang tak pernah pulang. Seperti hidupnya, yang terus mengalir dan berubah, tetapi selalu ada ruang untuk kembali, untuk menemukan diri dan kedamaian yang hakiki.
Dunia luar yang ia masuki tidak seperti yang ia bayangkan. Ada kesenangan, ada juga kesulitan. Ia bertemu dengan orang-orang yang mengajarkannya banyak hal, tetapi ada kalanya ia merindukan kampung halaman, tanah yang membesarkannya.
Terkadang, ketika ia menatap langit senja yang berbeda, rasa kehilangan itu muncul begitu saja, sebuah pengingat bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar pergi, meskipun ia tidak lagi berada di sana.
Seperti senja yang akan selalu kembali setelah malam, Ilan akhirnya menyadari bahwa perjalanan itu bukan untuk melupakan, melainkan untuk memahami. Senja yang hilang di balik malam bukanlah akhir dari segalanya.
Begitu juga dengan perjalanan hidup, kadang kita pergi untuk menemukan diri, untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang hidup ini. Namun, pada akhirnya, kita selalu kembali ke tempat asal kita, ke akar kita, ke cinta dan kenangan yang membentuk kita.
Ilan tahu sekarang, bahwa dunia ini luas dan penuh dengan kemungkinan. Tetapi ada satu hal yang tak pernah berubah: seperti arus Sungai Kapuas yang mengalir, seperti senja yang tidak pernah pulang, rumah dan cinta keluarga akan selalu ada. Itu adalah tempat di mana kita bisa kembali, tidak peduli ke mana pun arus kehidupan membawa kita.
Ilan menatap senja, merasakan kehadiran kakeknya dalam setiap cahaya yang melintasi langit. Ia tahu, dalam setiap perjalanan yang ia jalani, senja akan selalu menanti, mengingatkannya akan rumah yang akan selalu ada, dan bahwa ia tidak pernah benar-benar pergi.(*)
Editor : Hanif