Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Literasi Pembelajaran Seumur Hidup untuk Semua

Hanif PP • Kamis, 6 November 2025 | 11:07 WIB
Ferdianus Jelahu, S.Pd
Ferdianus Jelahu, S.Pd

Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*

Literasi perlu menjadi budaya bagi dan untuk satuan pendidikan. Karena pentingnya budaya literasi, sekolah menempatkannya menjadi prioritas. Sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selalu diawali dengan literasi. Menyadari akan pentingnya literasi, maka berbagai upaya yang perlu diimplementasikan agar bertumbuh kebiasaan membaca.  

Literasi tidak untuk kalangan pelajar semata. Literasi diperuntukkan bagi semua kalangan. Literasi menjadi ruang yang menarik untuk mengembangkan wawasan pengetahuan. Pengetahuan literasi diperoleh dari berbagai sudut padang ilmu, dari apa yang dibaca. Literasi tidak aturan yang baku, dari mana harus memulai  literasi. Literasi memiliki konteks yang luas, lebih dari sekedar literatur yang dibaca.

Idealnya literasi tidak sekedar membaca, tetapi menganalisis teks secara kritis dan tajam. Untuk itulah mengapa satuan pendidikan perlu didorong untuk melaksanakan literasi? Kebiasaan analisis kritis mulai tumbuh kebiasaan analisis teks bacaan. Literasi merupakan kegiatan pembelajaran baik secara formal maupun nonformal, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat atau dimana pun kita berada. Mengingat literasi itu penting, perlu menjadi kebiasaan-kebiasaan baik dalam lingkungan pendidikan, termasuk dalam kehidupan berkeluarga.

 

Keluarga Agen Literasi

Kebiasaan membaca umumnya dimulai dari keluarga. Orang tua mengajarkan anak-anak latihan membaca, mulai dari cara sederhana hingga tingkat yang sulit. Kebiasaan membaca yang dimulai dari keluarga merupakan kebiasaan baik untuk mendorong belajar secara kontinyu. Artinya tidak berhenti pada tataran sudah tahu membaca sudah selesai. Dalam skala paling kecil, literasi mestinya tumbuh dari keluarga. Keluarga adalah unit pendidikan terkecil.

Pada saat mengikuti salah satu webinar, seorang narasumber mengungkapkan bahwa di rumahnya sudah menyiapkan perpustakaan dari berbagai sumber bacaan. Kebiasaan membaca dilaksanakan setelah makan atau pada saat santai. Usai membaca, mereka saling menceritakan kembali hasil bacaan. Yang diceritakan adalah isi buku. Suasananya hidup dan perkembangan pengetahuan menjadi lebih luas.

Generasi alpha butuh pedekatan yang tepat membiasakan diri menggali informasi mendalam dari berbagai literatur. Sebagaimana diungkapkan oleh Socrates kunci menuju pengetahuan sejati dengan literasi. Karena itu, literasi bukan sekedar pengetahuan teknis, tetapi alat pembebasan (Paulo Freire). Literasi mengandaikan pembaca mampu menganalisis kritis terhadap teks bacaan, mendapatkan makna, serta inspirasi sehingga memberikan dampak terhadap kehidupan nyata. Kemampuan analisis kritis didapat dari hasil bacaan.

Menurut Siegel yang dikutip oleh Winch & Gingell dan diformulasikan oleh Witono (2025:58-59) menguraikan bahwa ada dua unsur utama dalam berpikir kritis yaitu epistemik dan semangat kritis. Unsur epistemik menekankan keterampilan atau kemampuan berpikir dalam menilai alasan dan argumen berdasarkan kriteria epistemik dan logis, memungkinkan bisa membedakan mana alasan yang baik dan buruk. Sedangkan semangat kritis merupakan watak, sikap kebiasaan berpikir dan sifat atau karakter yang memastikan individu peduli untuk mencari alasan yang baik dan mempertanyakan yang buruk. Siegel menegaskan bahwa berpikir kritis tidak hanya soal pengetahuan, tetapi pengembangan karakter serta sikap kritis untuk mengejar kebenaran pengetahuan yang lebih mendalam.

 

Kapan dan di Mana saja Bisa Literasi

Literasi tidak tergantung pada tempat dan waktu. Di mana dan kapan pun, kita bisa melaksanakan literasi. Maka tidak mengherankan bahwa literasi pembelajaran semumur hidup. Selain tidak mengenal waktu dan tempat, literasi juga tidak mengenal usia. Literasi untuk semua kalangan, tidak hanya kalangan pelajar. Persoalannya tidak semua kalangan menyadari akan pentingnya literasi. Literasi terkesan untuk kalangan pelajar saja. Yang didorong untuk melakukan literasi adalah siswa-siswi di sekolah. Kadang lupa bahwa literasi manjadi salah satu ruang untuk mengembangkan wawasan secara kritis dan mempertajam gagasan.

Salah satu cara yang tepat untuk membiasakan literasi saat ini lewat pendidikan. Literasi mendorong suatu perubahan kebiasaan untuk membaca berbagai refrensi. Meski beberapa tahun terakhir menurut hasil studi Programme International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang dilakukan OECD bahwa literasi negara kita mengalami penurunan. Ini memang penting, tetapi jauh lebih penting bagaimana menanggapi hasil studi PISA secara berkelanjutan masing-masing sekolah.

Tulisan ini tidak untuk menjawab hasil riset oleh PISA, literasi perlu menjadi kebiasaan berkelanjutan, baik dalam pendidikan maupun masyarakat umum. Literasi bukan hanya tugas guru dalam pendidikan, tetapi tugas semua masyarakat. Tugas ini bukan hal mudah, ada niat pasti ada hasilnya. Kebiasaan baik, butuh proses yang lama untuk memetik hasil.

Literasi yang paling mendasar adalah budaya membaca. Membaca tidak hanya untuk siswa-siswi, tetapi juga semua kalangan masyarakat. Mengingat tujuan pendidikan sesungguhnya menurut Gravissimum Educationis, mencapai tujuan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, mengingat bahwa manusia termasuk anggotanya, dan bila sudah dewasa ikut berperan menunaikan tugas kewajibannya (GE,1).

Apa yang dikatakan dalam dokumen Gravissimum Educationis sangat relevan dan kontekstual, salah satu point penting yang bisa dilakukan dalam dunia pendidikan adalah membiasakan literasi dan siap menunaikan tugas di masyarakat. Kendati pun, di sekolah budaya literasi harus selalu didorong terus-menerus untuk menjadi kebiasaan, ini menciptakan kebiasaan terus-menerus bagi siswa-siswi sehingga melahirkan generasi yang bernalar kritis sesuai dengan amanat pendidikan nasional dalam dimensi profil lulusan.

Literasi menjadi wadah untuk mengembangkan pengetahuan. Literasi menjadi ruang untuk membudayakan ruang baca yang liyan. Literasi menjadi bagian pembelajaran seumur hidup, baik pelajar maupun kalangan umum. Membaca akan memberikan perubahan. Membaca melahirkan argumen kritis dalam berbagai sudut padang. Membaca memperkaya pengetahuan dalam berbagai sudut pandang.

Semoga para guru selaku insan perubahan, memberikan bimbingan kepada siswa-siswi untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang pengetahuan lewat literasi. Sehingga generasi saat ini memberikan dampak dikemudian hari, mengingat suatu saat akan hidup dalam masyarakat. Dengan harapan kebiasaan membaca hari ini, memberikan dampak keberlanjutan di kemudian hari. Salam literasi.**

 

*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak; alumni USD Yogyakarta, mahasiswa AP UNTAN Pontianak.

Editor : Hanif
#Satuan pendidikan #kritik #literasi #masyarakat #budaya #kebiasaan membaca