Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Aktivitas Membaca dan Karakter Generasi

Hanif PP • Sabtu, 8 November 2025 | 12:51 WIB
Dr. Amalia Irfani, M.Si
Dr. Amalia Irfani, M.Si

Oleh: Amalia Irfani*

Beberapa waktu ini penulis secara kebetulan bertemu dengan beberapa orang pendidik dari beberapa jenjang pendidikan formal Kota Pontianak. Salah satunya momentum saat menemani anak ikut Lomba Baca Cepat tingkat SMP Se-Kalimantan Barat yang diadakan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, 13-15 Oktober 2025.  

Para guru pendamping yang mayoritas guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengeluhkan hal yang sama yakni rendahnya minat baca murid karena telah terpapar radiasi gadget. Murid lebih banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya, dengan bermain game, nonton hingga berkomunikasi secara sosial. Adanya Bulan Bahasa dengan lomba membaca cepat misalnya menurut beberapa guru adalah kesempatan baik mengedukasi siswa urgensi membaca.

Para guru pun bertukar pengalaman serta keluhan tentang rasa cemas atau ketakutan akan nasib generasi ini kelak, jika membaca tidak lagi dijadikan aktivitas atau habit dalam hidup. Mereka  menyepakati bahwa ada sebuah masalah besar yang nanti menggerogoti generasi, mereka perlahan kehilangan kecerdasan intelektual karena hilangnya satu kebiasaan tumbuh berkembang karena selintas membaca tidak langsung berdampak signifikan.

Aktivitas yang sebenarnya telah tertanam sejak  di bangku sekolah dasar, tetapi ternyata untuk mempertahankan budaya baik tersebut tidak semudah seperti angan. Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, mengakibatkan semakin canggih alat komunikasi manusia termasuk di dalamnya kemudahan akses untuk  mendapatkan pengetahuan serta informasi menjadi faktor penyebab semakin tergerusnya nilai atau budaya di masyarakat. Perubahan nilai-nilai lama ke nilai baru yang  lebih rasional dan individualistik. Padahal dulu, perlu waktu panjang, semangat pantang menyerah untuk  mendapatkan ilmu hingga menyebrang ke negeri orang (bisa dalam bentuk sekolah formal maupun nonformal), berpindah dari guru satu ke guru lainnya. Sebab keikhlasan, semangat, takzim kepada gurulah, insan tersebut memperoleh keberkahan berwujud kesuksesan. Nilai hidup yang menurut penulis sudah perlahan memudar. Tergantikan AI sebagai sumber utama belajar.

 

Aktivitas Membaca

Membaca mungkin dianggap aktivitas tidak begitu penting oleh generasi yang dibesarkan dengan kecanggihan teknologi. Karena sekarang AI telah bermetamorfosa sesuai kebutuhan siapapun, tua maupun muda apapun jenjang profesinya. Berbeda bagi generasi sebelumnya yang menjadikan membaca sebagai aktivitas atau habit  menyenangkan, bahkan kebutuhan hidup.

Tahun 70-90an saat wajah percetakan mendominasi, surat kabar, majalah, tabloid, buletin, serta komik menjadi   sebuah kesenangan masyarakat tanpa ada batas usia. Generasi milineal seperti saya pernah merasakan dunia membaca komik merupakan kesukaan atau hobi sampai membuat "keranjingan", lupa waktu, lalai dengan aktivitas sosial yang sepertinya juga dialami oleh generasi Z dan Alpha sekarang. Hanya terdapat perbedaan mendasar aktifitas literasi lewat membaca langsung (baca, buku) dengan membaca melalui perangkat elektronik. Maka ada identitas melekat pada individu yang suka membaca (kutu buku). Misalnya, karena keseringan membaca maka mata menjadi mudah lelah sehingga membutuhkan alat bantu bernama kacamata. Lalu muncul stigma,  individu yang mengunakan kacamata adalah ciri khas seseorang cerdas atau pintar. Stigma tersebut semakin kesini tidak lagi sama, sebab faktanya banyak generasi muda usia belia harus menggunakan kacamata bukan karena telah banyak buku yang dibaca, tetapi memiliki gangguan penglihatan, seperti rabun jauh atau rabun dekat karena aktifitas menggunakan gawai tanpa durasi waktu minimal.

Untuk mengetahui sejauh mana aktifitas membaca gen Z, penulis juga sempat menyebarkan google form dan diisi oleh sekitar 110 mahasiswa Kota Pontianak. Walau tidak 100 persen, masih ada 20-30 persen gen Z yang mengaku suka dan senang membaca buku. Mereka pun sebenarnya menyadari urgensi membaca bagi kesehatan diri dan kecerdasan intelektual. Hanya saja memang godaan bermain game misalnya tidak dapat mereka hindari karena menyenangkan.**

 

 *Penulis adalah dosen IAIN Pontianak; Sekretaris LPP PWM Kalbar.

Editor : Hanif
#minat baca siswa #pendidikan #gadget #kecerdasan #pontianak #generasi masa depan