Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mamdani dan Ilusi Perubahan: dari Simbol ke Substansi Keadilan Sosial

Hanif PP • Selasa, 11 November 2025 | 12:04 WIB

Ilustrasi Timbangan Hukum.
Ilustrasi Timbangan Hukum.

Oleh: M. Hermayani Putera*

Kemenangan simbolik sering kali menenangkan nurani publik, tapi jarang mengubah struktur yang menindas. Dunia tidak kekurangan wajah baru, melainkan keberanian baru untuk menegakkan keadilan hingga ke akar.

Kemenangan Zohran Mamdani sebagai walikota Muslim pertama New York City bukan sekadar kabar politik dari Amerika Serikat. Ia adalah cermin dari pergulatan global tentang makna perubahan di era ketika simbol lebih mudah dijual daripada substansi. Dunia merayakan keberagaman, namun di balik tepuk tangan itu tersisa pertanyaan mendasar, “Apakah keterwakilan sudah berarti keadilan?”

Di tengah polarisasi dan kejenuhan terhadap elit lama, sosok Mamdani tampil segar. Ia muda, keturunan imigran Uganda–India, dan dikenal vokal mengusung agenda progresif: perumahan terjangkau, transportasi publik gratis, dan upah layak. Dalam kota yang menjadi jantung kapitalisme global, kemenangan seorang aktivis jalanan terasa seperti paradoks yang indah. Tetapi sejarah mengingatkan kita, bahwa demokrasi modern pandai menciptakan ilusi perubahan melalui pergantian wajah, bukan perombakan sistem.

 

Dari Global ke Lokal: Belajar dari Politik Substansi

Dari kacamata global, kemenangan Mamdani menegaskan bahwa masyarakat dunia mulai mencari politik yang lebih membumi, politik yang berbicara tentang harga sewa rumah, biaya transportasi, dan ruang hidup yang layak. Namun, perayaan atas keterwakilan kadang berhenti di kulit luar. Representasi menjadi ventilasi moral bagi sistem yang kelelahan, tanpa pernah mengubah fondasi ekonomi yang timpang.

Pelajaran penting dari sana bukanlah sekadar “orang Muslim bisa memimpin New York”, tetapi mengapa ia bisa menang: karena politiknya berakar pada penderitaan rakyat kecil, bukan pada identitas semata. Ia menolak pragmatisme politik lama, dan membangun kekuatan dari solidaritas lintas kelas dan agama.

Pelajaran ini amat relevan bagi Indonesia. Kita juga sering memuja simbol: pemimpin muda, berlatar agama tertentu, atau berslogan moral. Namun di balik itu, struktur ketimpangan tetap kukuh. Korupsi menetas dari sistem, bukan individu. Alam rusak, bukan karena kurangnya doa, tapi karena berlebihnya rakus. Politik kita telah lama pandai mengutip nilai keadilan sosial, tapi enggan mengubah cara kerja kekuasaan yang membuat rakyat tetap di pinggir.

 

Dari Lokal ke Global: Mengirim Nilai dari Nusantara

Namun hubungan tidak berhenti di situ. Dari lokal ke global, kita sebenarnya memiliki nilai-nilai sosial yang bisa menjadi inspirasi dunia: gotong royong, musyawarah, keseimbangan ekologis, dan kearifan hidup sederhana. Prinsip-prinsip ini adalah bentuk praksis keadilan sosial yang tumbuh dari tanah sendiri, bukan impor ideologi.

Sayangnya, nilai itu perlahan tergerus oleh budaya kompetitif dan industrialisasi yang menyingkirkan manusia dari pusat pembangunan. Kita kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan. Jika Mamdani berjuang melawan pasar properti di New York, kita berjuang melawan logika tambang dan proyek infrastruktur yang menindas ekologi dan masyarakat adat. Di dua belahan dunia yang berbeda, musuhnya sama: ketimpangan yang tersusun rapi, bahkan sering dilegitimasi oleh kekuasaan.

Karena itu, perjuangan menegakkan keadilan sosial tidak bisa berhenti pada euforia simbolik. Keadilan sosial yang sejati menuntut keberanian untuk mengubah struktur kepemilikan, arah pembangunan, dan logika kebijakan publik. Ia menuntut redistribusi sumber daya, bukan sekadar rotasi jabatan. Ia lahir dari solidaritas, bukan sensasi.

 

Dari Simbol ke Substansi

Politik simbolik memang memikat: mudah dipahami, cepat dirayakan, dan tampak progresif. Tapi politik substantif menuntut kerja panjang: mendengarkan warga, mengubah regulasi, memperbaiki birokrasi, dan membangun kultur keadilan.

Di titik inilah, figur seperti Mamdani harus diuji. Bukan oleh statusnya sebagai seorang muslim, tapi oleh sejauh mana ia mampu menyeberangkan idealisme ke dalam kebijakan nyata. Dan bagi kita di Indonesia, ujian yang sama berlaku, sejauh mana keberagaman yang kita banggakan benar-benar berbuah pada kesejahteraan dan kemanusiaan yang merata dirasakan oleh semua.

Kemenangan Mamdani di New York boleh menjadi inspirasi, tapi jangan menjadi penghiburan palsu. Dunia tidak berubah hanya karena seorang muslim duduk di kursi wali kota. Dunia berubah jika nilai-nilai keadilan yang ia bawa menemukan gema di setiap ruang, termasuk di kampung, di kota, di pesantren, di rumah ibadah, dan di parlemen negeri ini. Keadilan sosial adalah janji yang sudah terlalu lama tertulis di langit. Kini saatnya kita menurunkannya ke bumi, menjadikannya kenyataan di antara relasi sesama manusia.**

*Penulis adalah penggiat sosial lingkungan.

Editor : Hanif
#Simbol Harapan #Zohran Kwame Mamdani #global #keadilan #krisis #walikota #kemenangan #muslim #new york city