Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Fikih Bahagia Lansia: Jalan Menuju Husnul Khatimah

Hanif PP • Jumat, 14 November 2025 | 08:55 WIB
Ma’ruf Zahran Sabran
Ma’ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

MILAD ke-2 Perempuan ICMI Kalbar dirayakan dengan melaksanakan Pesantren

Kilat Lansia Akbar bertema "Melangkah Bersama Menuju Husnul Khatimah". Banyak materi menarik dan unik dalam kegiatan yang dilaksanakan sejak 11 November hingga 13 November 2025 dengan peserta maksimal 200 orang. Salah satunya tentang Fikih Lansia (FL).

Menarik karena baru pertama kali diselenggarakan di Kalimantan Barat. Unik karena sifatnya

Pesantren. Para lansia menginap di Asrama Haji sebagai kesepakatan. Mereka saling bersilaturahmi, berbahagia, dan berbagi. Pendekatan pendidikan agama untuk lansia lebih santun, mudah, ramah, kasih, sayang, cinta. Sebab, berbakti dan menyenangkan hati lansia merupakan ibadah.

Mengingat fikih lansia adalah cabang ilmu fikih yang membahas tentang hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan kesehatan masa tua, jasmani dan rohani. Bahkan, menjalani kebaikan hidup (hasanah) di dunia dan kebaikan hidup (hasanah) di akhirat, serta dihindarkan dari bencana dan petaka. Fikih yang membicarakan trik kebahagiaan dan mempersiapkan diri menuju husnul-khatimah.

Memerhatikan metode penyampaian fikih lansia dan membantu mereka menjalani

hidup secara Islami dan Qurani, perlu disampaikan secara santun (samhah). Menghormati perbedaan (disparitas) pada usia lanjut dengan mengembangkan sikap toleran terhadap sesama (tasamuh). Anjuran bersifat mudah (sahal), berhati lunak dan berperangai lembut (layyin), mudah tersenyum (hayyin). Menjalin hubungan atas dasar keakraban (qarib). Bukan atas dasar kepentingan dan fanatisme.

Menimbang bahwa lansia dalam keseharian untuk memenuhi keperluan pribadi saja, sudah sangat melelahkan. Faktor keterbatasan fisik, daya ingat yang sudah mulai menurun. Lebih sering lupa daripada ingat. Tugas fikih lansia berupaya memberikan fasilitas kemudahan (dispensasi) agama. Anjuran pemanfaatan fasilitas keringanan dari Tuhan (rukhsah) bila digunakan, sungguh Dia sangat senang. Karena hamba mau menggunakan fasilitas dari-Nya. " ... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagimu ... " (Albaqarah:185).

Multi faktor penyebab masa tua tentang keterbatasan pergaulan dan keterpinggiran sosial. Seakan terdapat sekat, jarak antara generasi tua dengan generasi muda. Maksudnya, tidak semua orang bisa menerima kehadiran lansia. Dianggap tidak mengikuti arus zaman, kolot, kuno, tertinggal. Lansia digelar "orang dolo'-dolo' atau ibarat “Quran tua." Dibaca tidak jelas hurufnya, koyak, kabur tulisannya. Tapi dibuang takut "tulah atau kualat."

Perlu sikap arif melayani lansia. Psikologi lansia biasanya marah bila dipadah. Karena pengaruh hormon yang tidak lagi stabil (labil). "Siapa yang Kami panjangkan umurnya, Kami kembalikan asal kejadiannya (kanak-kanak). Apakah mereka tidak memikirkan. (Yasin:68).”

Bahkan, mereka tidak lagi mengetahui (lupa) terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Kondisi ini, mereka telah terbebas dari hukum syariat. Diangkat pena hukum bagi orang yang lupa, sampai dia ingat. Ada dua kondisi (penyakit) yang tidak bisa diobati, yaitu pikun dan mati. Sampai

detik ini, tidak ada satupun obat yang sanggup mengobati pikun. Dan tidak ada satupun resep yang dapat menahan kematian, apabila telah sampai waktu ajalnya.

Dukungan yang begitu besar dari Allah, Rasul dan kaum muslimin terhadap kejatidirian lansia. Terdapat dalam firman, "Tuhanmu telah memerintahkan, janganlah kamu menyembah selain Dia. Dan kepada kedua orang tua, berbuat ihsan-lah. (Al-Isra':23).”

“Pengkhabaran Rasul dapat diketahui dari sabda, "Bukan dari golongan umatku, orang muda

yang tidak menghormati orang tua. Dan orang tua yang tidak menyayangi orang muda. (Hadis riwayat At-Tirmidzi).

Inti dari fikih bahagia lansia ialah bagaimana syariat dikerjakan dengan rasa nyaman,

tanpa beban, bukan paksaan. Karena tujuan syariat menurut Asy-Syatibi (lahir: Spanyol, 1320 M, wafat: Spanyol, 1388 M) membuat konsep "Maqashid Syari'ah". Maksud dan tujuan syariat ada lima, yakni menjaga agama, jiwa, akal, harta, keturunan. Dalam pelaksanaan hukum syariat berprinsip, yakni bertahap dalam penerapan hukum (at-tadrij fit-tasyri'); menyedikitkan beban (taqlilut-takalif); meniadakan kepayahan ('adamul-haraj); kemaslahatan umum (maslahah 'ammah).

Bertahap, bertumbuh, berproses dalam penerapan hukum bukan saja dari sejarah perkembangan hukum (fikih) dunia Islam. Tapi juga proses belajar dari fikih setiap orang. Menyedikitkan beban berdasarkan volume kesanggupan individu, terutama lansia. Bagaimana cara Rasul berwudu ketika Madinah musim panas, musim dingin. Bagaimana pola salat Rasul saat sendiri (munfarid), dan saat salat berjamaah. Rasul meringankan gerakan dan bacaan salat dalam rangka memerhatikan dan menghormati orang-orang lansia yang tidak kuat jika berdiri, ruku', sujud, tahiyat dalam waktu yang terlalu lama. Pertimbangan sosial menjadikan Rasul mempermudah salat dan memperpendek khutbah.

Cerdas Rasul dalam memadukan teks dan konteks beragama. Sehingga berhasil misi mengedepankan penghormatan terhadap lansia. Legitimasi yang diberikan kitab suci sungguh lebih gamblang. Surah Alhaj ayat 78, " ... Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam beragama ... "

Diperkuat lagi dengan pernyataan bahwa Allah SWT sangat memaklumi kondisi lansia. "Maka bertakwalah kepada Allah sesuai kesanggupan-mu. Dengarlah dan taatilah! Dan belanjakanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan siapa yang dipelihara dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung (At-Taghabun:16).”

Visi Rasul ialah bagaimana di hari lansia berbahagia. Lansia bukan beban negara, tapi aset yang setiap orang bisa belajar darinya. Menggali hikmah, mencari informasi dan menjadi guru bangsa. Masa pensiun yang dinikmati tanpa menyusahkan keluarga. Tetap bahagia, mandiri di usia tua. Jadilah teladan, inspirator, motivator bagi generasi muda.

Meski sudah jauh melangkah jalan ditempuh, pengetahuan dan pengalaman dicapai, "asam-garam" kehidupan sudah dinikmati. Pasti berakhir di surah Albaqarah ayat 286, “Maafkan kami, ampuni kami, sayangi kami, lindungi kami, tolong kami. Terus terang, untuk lansia hari ini, kita sangat memerlukan maaf, ampun, sayang dari-Nya, tidak lebih. Mendamba lindungan dan pertolongan dari-Nya setiap detik.”

Artinya, kesadaran bahwa kita pernah salah, pengakuan tulus ke haribaan Tuhan. Memantik permohonan maaf dan ampun. Perasaan terhina, terusir, tercampak dari orang-orang yang dahulu kita sayangi, menggugah doa, “Tuhan, sayangi kami.”

 Merasa terasing, terbuang dan teraniaya, mengundang doa, “Tuhan, lindungi dan tolong kami. Hari ini, karena kerapuhan dan kelemahan, bukan lagi mengandalkan kuantitas ibadah, tapi kualitas ibadah. Tidak lagi mengedepankan ibadah raga, namun memperbaiki posisi ibadah rasa.”

Pahami, jangan berharap kepada siapapun, termasuk anak! Karena mereka telah sibuk dengan kesibukan masing-masing untuk menafkahi dan melayani keluarganya. Berharap hanya akan menerbitkan kekecewaan. Jangan mengungkit jasa yang telah berlalu, akan membuat diri semakin sengsara. Bahagiakan diri bersama Allah, karena Dia tidak pernah mengecewakan.

Berbahagialah karena fikih bahagia di masa lansia akan menarik (mengundang) bahagia yang lebih banyak. Bersyukur sampai di usia yang tidak muda lagi, namun berjiwa muda. Songsong pagi yang cerah bersama Allah, Rasul dan para sahabat yang sepaham, saling mengerti dan menyayangi. Buang pikiran jahat dan lupakan orang-orang yang membencimu.

Karena orang yang jahat dan membencimu tidak perlu diingat. Tidak ada gunanya! Bangun

dengan rasa bahagia, ceria, bercanda, dan jangan mudah tersinggung. Tapi, mudah memaafkan

dan memaklumi.

Selamat milad ke-2 Perempuan ICMI Kalimantan Barat. Sukses pelaksanaan Pesantren Kilat Lansia Akbar, yang pertama dan terutama dalam berkhidmat kepada lansia. Semoga setiap tahun bisa dilaksanakan, bersama meraih hidup bahagia dunia dan akhirat. Amin.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#Milad #HUSNUL KHATIMAH #ICMI Kalbar #Pesantren Kilat #lansia #Fikih