Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Harapan Menyambut COP30 Brazil

Hanif PP • Sabtu, 15 November 2025 | 12:36 WIB
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono di sela-sela KTT &  COP30, Belegravem, Brasil
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono di sela-sela KTT & COP30, Belegravem, Brasil

Oleh: Supriyadi, S.Tr*

KONFERENSI Perubahan Iklim PBB (COP30) resmi dimulai. Walaupun pertemuan tingkat dunia ini membahas isu besar, nampaknya konferensi ini kalah pamor dibanding pertemuan antar negara lainnya. Dari berbagai pemberitaan belakangan ini, perhatian media, dan masyarakat lebih tersorot kepada pertemuan yang membahas kepentingan ekonomi masing-masing negara dan regional saja, apalagi yang menyangkut persaingan antara Tiongkok dan Amerika. Padahal COP30 tidak kalah pentingnya.

COP30 digelar pada 10 hingga 21 November di Kota Belem, Brazil. Konferensi ini merupakan perhelatan yang membahas masa depan iklim dunia secara kelesuruhan, bukan hanya satu negara dan regional tertentu saja, melainkan satu planet tanpa mengenal batas administrasi. Dalam perspektif cuaca dan iklim, batas-batas negara menjadi tidak relefan, dinamika atmosfer tidak memandang batas negara. Bahkan, kondisi cuaca di suatu belahan dunia sangat mempengaruhi kondisi cuaca di belahan bumi lainnya, meskipun terpaut jarak yang sangat jauh hingga puluhan ribu kilometer.

 

Tentang COP

Conference of The Parties (COP) adalah konferensi internasional di bawah naungan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCC, United Nations Framework on Climate Change). UNFCC pertama kali dibentuk pada tahun 1992 saat Konferensi Bumi diadakan di Rio de Janeiro. Konferensi COP dilaksanakan sebagai forum tertinggi UNFCC di mana kesepakatan -kesepakatan dapat dibuat.

Sebelumnya, badan meteorologi dunia (World Meteorological Organization, WMO) juga telah dibentuk berikut panel khusus yang menilai perkembangan perubahan iklim. Bedanya, WMO hanya mengurusi bagaimana operasional meteorologi tiap-tiap negara berjalan, tanpa kerangka kerja bagaimana kebijakan untuk menangkal perubahan iklim disepakati.

 

Kesadaran Iklim

Organisasi dunia dan konvensi yang dibuat sejatinya merupakan respons atas temuan-temuan yang diungkapkan oleh para peneliti. Bahwa dalam perkebangan zaman, semenjak revolusi industri, pengaruh aktivitas manusia memiliki dampak dominan terhadap perubahan lingkungan.

Bermula dari dampak yang jelas terlihat seperti perubahan lingkungan di sekitar kawasan industri yang rusak, dampak lain juga terjadi pada kondisi atmosfer berupa peningkatan konsentrasi gas rumah kaca. Dampak pada atmosfer tidak hanya terbatas pada suatu kawasan industri saja, tetapi menjadi permasalahan yang dirasakan seluruh bagian bumi.

Atas dampak-dampak yang telah dipahami, apabila aktifitas manusia diskenariokan tetap seperti apa adanya seperti sekarang, maka dampak yang akan dirasakan di masa mendatang akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Oleh karenanya, upaya untuk meminimalisir dampak harus diusahakan.

Dampak-dampak perubahan iklim menyangkut banyak aspek, meliput aspek lingkungan seperti kenaikan suhu global dan level permukaan laut, aspek ekonomi seperti pertanian dan kebutuhan energi dan aspek sosial seperti kesehatan dan migrasi penduduk.

Frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang semakin tinggi juga merupakan dampak yang saat ini menjadi isu yang sering dibahas. Banjir yang semakin sering terjadi, gelombang panas di sebagian wilayah dan badai tropis adalah bentuk fenomena yang menjadi bencana hidrometeorologi yang acapkali terjadi.

 

 

Keadaan Iklim Terkini

Badan Meteorologi Dunia (WMO) baru saja mengeluarkan laporan kondisi iklim terkini dalam rangka menyambut COP30. Dalam laporan tersebut didapati suhu rata-rata global dari Januari hingga Agustus 2025 1.42OC lebih tinggi dibanding level pra-industrialisasi. Bila kecendrungan kenaikan tersebut bertahan hingga akhir tahun, maka bisa dipastikan tahun 2025 masuk menjadi tiga besar tahun terpanas dalam catatan. Sebelumnya di tahun 2024 angka kenaikan suhu udara mencapai 1.55OC. Lebih tinggi dibanding target Kesepakatan Paris 2015 yang hanya membatasi hingga 1.5OC.

Luasan maksimum Es-Laut Arctic berada pada angka terendah di tahun 2025. Anomali presipitasi juga terjadi. Presipitasi rendah yang tak biasa terjadi di sebagian Kanada, Timur Tengah dan Eropa bagian tenggara dan barat daya. Presipitasi tinggi tercatat di Eropa Timur, Afrika Barat,  Asia utara, selatan, tengara dan benua maritim yang meliputi Indonesia.

Selain informasi iklim yang tidak cukup menyenangkan untuk didengar, laporan tersebut juga menyebutkan optimisme yang menggembirakan. Di tahun 2025, kapasitas banyak negara untuk membangun sistem peringatan dini semakin meningkat.

Fakta bahwa kejadian ekstrem semakin sering dapat diimbangi dengan kemampuan manusia untuk membangun sistem mitigasi yang lebih kuat. Konsep “peringatan dini untuk semua” yang digagas WMO beberapa tahun sebelumnya terbukti berjalan.

 

Harapan untuk COP30

Selama bertahun-tahun dilaksanakan, kesepakatan yang dibuat dalam COP tidak cukup kuat untuk memaksa negara-negara anggota untuk menjalankan komitmennya. Bahkan negara besar seperti Amerika Serikat memutuskan keluar dari Kesepakatan Paris pada awal tahun ini. Padahal, Kesepakatan Paris yang dibuat sepuluh tahun lau merupakan ikon upaya pengendalian perubahan iklim.

Kedepan, kesepakatan yang dibuat haruslah kesepakatan yang memungkinkan untuk dijalankan. Kesepakatan yang tidak mengesampingkan kepentingan ekonomi tiap-tiap negara. Kesepakatan yang lebih memberikan insentif kepada negara-negara yang memberikan komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Insentif juga perlu diberikan bagi negara-negara yang dituntut untuk menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia.

Sebagaimana sistem peringatan dini yang sudah semakin kuat, agaknya penyelesaian dampak perubahan iklim lebih baik berfokus pada aspek adaptasi. Dampak perubahan iklim tidak dapat dihindari. Tanpa pengaruh aktifitas manusia pun, iklim bumi dalam sejarah pernah berubah-ubah, perubahan dari zaman es misalnya.

Oleh karenanya, inovasi-inovasi dan solusi kreatif diperlukan untuk menghadapi dampak yang terjadi. Penerapan strategi adaptasi dapat dilakukan dalam skala yang lebih lokal. Adaptasi risiko banjir karena cuaca ekstrem dan banjir pesisir misalnya, lebih mendesak untuk dijalankan.

Apapun kesepakatan yang akan dibuat dalam COP30, semoga memberikan hasil yang menggembirakan tiap-tiap anggota negara. Masa depan lingkungan planet bumi menjadi tanggung jawab kita bersama, baik skala global maupun individu. Lestari alamnya, bahagia masyarakatnya.**

 

*Penulis adalah prakirawan BMKG Supadio.

Editor : Hanif
#brasil #belem #perubahan iklim global #ekonomi negara #isu #COP30