Oleh: Untung Surya, MA.Pd.*
Tanggal 25 November, bolehlah untuk kita sedikit flashback dengan meminjam istilah para pendahulu “Jas Merah” jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Hari Guru Nasional, sejatinya menyimpan gaung yang jauh lebih dalam gerak perjuangan para guru. Wadah pemersatu para guru lahir di tengah denyut kemerdekaan bangsa. Dalam usia delapan dasawarsa (80 tahun) perjalanannya, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bukan sekadar organisasi profesi, melainkan monumen hidup dari kesaksian sejarah bangsa. Didirikan hanya seratus hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) hadir sebagai benteng pertahanan intelektual. Dengan semangat pekik “merdeka” bertalu–talu, di tengah bau mesiu pengeboman oleh penjajah. Mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan cara menyatukan para guru, yang dulunya terkotak-kotak, menjadi satu barisan untuk menopang kemerdekaan dan membangun fondasi pendidikan nasional yang berdaulat di negara kesatuan Republik Indonesia.
Hari Guru Nasional yang telah ditetapkan pada tanggal 25 Nopember melalui Keppres No. 78 Tahun 1994 merupakan respons pengakuan pemerintah dari perjuangan dan peran guru dari masa perjuangan hingga saat ini. "Guru Hebat, Indonesia Kuat," adalah tema yang diusung tahun ini. Tentu kita diingatkan bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kualitas generasi mudanya, dan kualitas generasi muda tak lepas dari tangan-tangan mulia para pendidik.
Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan tantangan nyata bagi seluruh ekosistem pendidikan di Indonesia. Menurut Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Mendikdasmen RI, mengartikan tema "Guru Hebat, Indonesia Kuat" sebagai penegasan akan pentingnya peran strategis guru di Indonesia.
Menjadi guru di era ini bukanlah pekerjaan mudah. Dulu, tantangan guru mungkin "hanya" sebatas memastikan murid paham atau hafal dari ramuan materi pelajaran. Kini, peran dan tanggung jawab guru telah berevolusi tidak sebatas sebagai sosok penyampai materi pelajaran. Namun, profesi mulia ini ditantang untuk menjadi fasilitator perubahan, arsitek karakter, dan menavigasi lautan informasi yang tak terbatas dapat diolah menjadi pengetahuan yang bijak, dan di filter dengan kecerdasan emosional spiritual.
Hari Guru Nasional tahun 2025 dilambangkan dengan komposisi yang sarat simbol dan makna filosofis. Salah satu visual bermakna di logo Hari Guru Nasional 2025 tersebut tampak sosok guru digambarkan sebagai pembimbing yang mengarahkan dan memberdayakan murid dengan semangat gotong royong.
Tentu semua pihak menggantungkan harapan besar momen spesial di Hari Guru Nasional yang bersamaan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesi ke-80 bukan sekadar seremonial. Ini adalah momen untuk menampar kesadaran kita semua. Masih segar dalam ratting algoritma kisah tragis headmaster menegakkan moral justru terlempar dari jabatannya. Perjuangan dua guru dengan solidaritas tanpa batas merespons presiden putuskan solusi cepat tuntas. Di sisi lain, yang tak pernah diduga ledakan yang mengorbankan 96 siswa.
Seharusnya Hari Guru Nasional ini bisa memastikan gelar heroik "pahlawan tanpa tanda jasa" tidak hanya kenyang oleh pujian, tapi juga sejahtera dalam kehidupan. Kesejahteraan guru adalah cerminan seberapa besar bangsa ini mampu menghargai masa depan pasukan “Oemar Bakri”.
Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2025, tetap semangat wahai para “Arsitek Abad 21”. Guru merupakan garda terdepan menyiapkan dan mencetak generasi unggul sumber daya manusia untuk bangsa dan negara. Semoga kita mampu mengimplementasikan wasiat tiga pilar dari Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, yang menegaskan: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani (di depan, seorang guru harus memberi teladan. di tengah, ia harus membangun ide dan kemauan, di belakang, ia harus memberi dorongan).**
*Penulis adalah praktisi pendidikan Kalimantan Barat yang 2 kali menjadi Guru Berprestasi Tingkat Nasional.
Editor : Hanif