Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

IFP dan Pentingnya Pemberdayaan Guru

Hanif PP • Kamis, 11 Desember 2025 | 11:58 WIB
Dr. Hendrizal, SIP, MPd
Dr. Hendrizal, SIP, MPd

Oleh: Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd.*

Masuklah ke sebuah kelas hari ini. Di depan terpampang layar besar bernama Interactive Flat Panel (IFP). Ia berkilau, layar sentuh di mana-mana, lengkap dengan aplikasi dan menu. Foto-foto pemasangan IFP itu kerap muncul di feed resmi dan media sosial sebagai simbol kemajuan, tanda komitmen modernisasi.

Rasanya menggembirakan. Tetapi setelah kagum sebentar, kita harus bertanya: apakah layar itu benar-benar mengubah cara belajar? Atau hanya mengubah tampilan ruang kelas?

Sederhana saja: teknologi tidak mengajar. Yang mengajar adalah guru. IFP bagus, internet penting, tetapi bila guru tidak diberi dukungan untuk mengubah praktik mengajar, semua itu hanya menjadi hiasan mahal.

Mari lihat beberapa angka. Hingga pertengahan November 2025, lebih dari 172 ribu unit IFP telah disalurkan ke sekolah dan pusat kegiatan belajar. Target penyaluran tahun ini mencapai sekitar 288.865 unit. Artinya, masih ada pekerjaan sampai semua sekolah mendapat perangkat. Sementara itu, pada tahun ajaran 2024/2025, tercatat lebih dari 316 ribu sekolah di Indonesia memiliki akses internet. Di sisi manusia, jumlah guru kita berkisar jutaan; data terakhir semester lalu menunjukkan angka lebih dari 3 juta guru yang aktif mengajar. Angka-angka ini penting karena menunjukkan skala: alat banyak, jaringan mulai meluas, dan aktor manusianya berjumlah besar.

Angka-angka tersebut mengesankan, tetapi jangan sampai angka menutup mata kita dari kenyataan di kelas. Ada tiga masalah besar yang sering terlupakan. Pertama, kapasitas guru. Guru kita heterogen: ada yang muda, melek teknologi, dan cepat berinovasi. Ada pula yang veteran, terbiasa dengan metode lama, dan terbebani administrasi. Menyerahkan IFP tanpa rencana pengembangan profesional yang nyata berarti meminta guru melakukan dua pekerjaan sekaligus: menjadi pendidik dan teknisi. Pelatihan satu kali (yang seringkali berbentuk seminar seharian) tidak mengubah praktik mengajar. Guru butuh pendampingan berkelanjutan, modul micro-learning yang relevan, serta komunitas praktik yang memungkinkan saling belajar antar-rekan.

Kedua, kualitas pemanfaatan. Teknologi memberi nilai tambah hanya jika memperkuat praktik pedagogis yang terbukti: latihan adaptif, umpan balik cepat, tugas kolaboratif, dan penilaian formatif yang nyata. Tanpa desain tugas yang memanfaatkan fitur interaktif, IFP mudah berubah menjadi proyektor slide berukuran besar. Saya sering melihat IFP dipakai untuk memutar PPT yang sama: tetap satu arah, tetap guru berbicara, siswa pasif menonton. Itu bukan transformasi. Itu sekadar kosmetik.

Ketiga, infrastruktur dan pemeliharaan. Memiliki akses internet tercatat belum berarti koneksi stabil. Banyak sekolah mengalami koneksi naik-turun, beberapa masih bergantung pada modem dengan kuota terbatas. Selain itu, perangkat elektronik butuh perawatan rutin. Layar yang rusak, kabel putus, atau software kadaluarsa, semua ini membuat IFP cepat kehilangan fungsi. Tanpa mekanisme pemeliharaan lokal (teknisi di tingkat kecamatan, atau guru yang dilatih sebagai penanggung jawab teknis) banyak unit akan berhenti dimanfaatkan maksimal.

Dari masalah-masalah itu muncul dua kesalahan kebijakan yang perlu dihindari. Pertama, fokus pada kuantitas sebagai bukti keberhasilan. Melaporkan berapa unit yang dibagikan memang mudah dan memuaskan di laporan resmi. Tapi sukses sejati bukan jumlah perangkat, melainkan frekuensi penggunaan pedagogis, kualitas interaksi di kelas, dan dampak pada capaian belajar siswa. Kedua, mengabaikan alokasi anggaran untuk ‘humanware’. Banyak program menghabiskan porsi besar untuk hardware, sementara alokasi untuk pelatihan, pengembangan konten adaptif, dan dukungan teknis justru minim.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar IFP benar-benar menjadi alat transformasi? Pertama, investasikan pada guru. Pelatihan harus berkelanjutan, berbasis tugas, dan difokuskan pada pedagogi, yakni bagaimana IFP bisa menjadi medium untuk diskusi, simulasi, dan asesmen formatif, bukan sekadar cara menampilkan slide. Mentor lokal dan komunitas praktik antarguru jauh lebih efektif daripada pelatihan massal satu kali.

Kedua, bangun konten yang fleksibel dan kontekstual. Paket ‘siap pakai’ sering tidak cocok untuk realitas lokal. Libatkan guru dalam pembuatan konten agar relevansi meningkat dan rasa kepemilikan tumbuh. Konten harus mendukung mode offline-first sehingga pembelajaran tetap berjalan saat koneksi fluktuatif.

Ketiga, ubah metrik keberhasilan. Tambahkan indikator seperti frekuensi penggunaan pedagogis IFP, tingkat keterlibatan siswa, dan bukti perubahan capaian kompetensi. Jadi, bukan hanya laporan distribusi barang. Evaluasi sejati memerlukan data kuantitatif dan observasi kualitatif di kelas.

Keempat, rencanakan pemeliharaan sejak awal. Alokasikan anggaran untuk suku cadang, pelatihan teknisi lokal, dan respons cepat perbaikan. Model layanan berbasis wilayah seringkali lebih tanggap dan ekonomis ketimbang menunggu dukungan terpusat.

Kelima, seimbangkan anggaran hardware dan humanware. Perangkat akan berguna jika ada yang tahu cara menggunakannya dengan baik, dan itu investasi jangka panjang yang nyata.

Menegaskan bahwa ‘IFP hanyalah alat’ bukan berarti menolak teknologi. Ini justru ajakan pragmatis: gunakan alat untuk memperkuat hubungan manusia (guru dan siswa) dalam proses pembelajaran. Layar besar hanya akan menerangi kelas jika dioperasikan oleh guru yang diberdayakan. Tapi layar tidak bisa menggantikan kemampuan mereka untuk memicu rasa ingin tahu, memandu dialog kritis, dan menilai pemahaman.

Kita ingin teknologi memperbesar dampak guru, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan pengembangan profesional mereka. Jika kebijakan dan praktik diarahkan pada pemberdayaan guru (berupa pelatihan yang tepat, konten relevan, indikator yang benar, dan dukungan teknis yang kuat), maka IFP bisa menjadi jembatan menuju pembelajaran yang lebih hidup. Jika tidak, kita hanya akan menyaksikan layar besar yang tenang, sementara kualitas pembelajaran tetap berputar di tempat.

Akhirnya, perlu disadari, modernisasi yang bermakna adalah ketika alat membuat manusia lebih baik, bukan ketika alat menggantikan peran manusia. Dalam pendidikan, peran itu jelas: guru tetap aktor utama. Kita tinggal memilih, apakah akan memoles layar dan berhenti di situ, ataukah memberdayakan guru sehingga layar itu benar-benar bersinar?**

 

*Penulis adalah Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah dosen Pascasarjana S2 Pendas-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH); penasihat Pondok Riset Kalbar (PRiK).

Editor : Hanif
#IFP #teknologi #internet #guru